Berita

Tindakan rasisme terhadap warga Papua memicu kerusuhan di sejumlah kota di Papua/Net

Publika

Hai Papua, Saya Yang Monyet

SENIN, 19 AGUSTUS 2019 | 19:43 WIB | OLEH: SYAHGANDA NAINGGOLAN

BEBERAPA poster yang dibawa pendemo di Papua Barat dan Papua pada hari ini bertuliskan, "Kalau Kami Monyet, Kenapa Suruh Kami Naikkan Bendera". Menurut mereka pernyataan rasis yang ditujukan aparat atau kelompok sipil pendemo kepada mahasiswa Papua di Surabaya adalah salah satu penggerak semangat rakyat Papua marah pada hari ini.

Saya sudah menulis beberapa waktu lalu dengan judul "Masa Depan Orang-orang Hitam di Indonesia", untuk memberi solidaritas kepada saudara saya Natalius Pigai yang disamakan Gorilla oleh seseorang aktivis eks mahasiswa Yogya. Tulisan saya menyoroti bahwa rasis adalah perbuat paling terkutuk di dunia ini.

Matthew Clair-Harvard University dan Jeffrey S Denis-McMaster University, Hamilton, ON, Canada dalam "Sociology of Racism", 2015, menerangkan perkembangan rasisme dari model lama yang bersifat langsung menuju model baru yang lebih terselubung (colorblind), "laissez-faire", simbolik dan institusional.


Model lama perilaku rasis umumnya diperlihatkan dengan sikap langsung (attitude) terhadap seseorang karena perbedaan warna kulit, ras, etnik, maupun agama. Dalam model rasisme baru, mempertahankan dominasi rasialis dilakukan dengan simbol, frame, skrip atau narasi, bahkan diatur secara institusi seperti dalam "labor market".

Clair dan Dennis juga memperlihatkan penelitian dari sisi korban rasisme. Menurut temuan, korban rasisme dalam banyak hal mengalami adaptasi atas perlakuan rasis yang mereka terima, berupa pengakuan atas subordinasi diri mereka terhadap kelompok rasis tersebut.

Dalam konteks Papua, menghina orang Papua dengan sebutan monyet adalah model rasis lama. Dalam teori Darwin, monyet adalah perkembangan makhluk pada tingkat yang belum sempurna. Artinya, belum mencapai tahapan menjadi manusia. Teori Darwin ini dalam kaitan teori rasisme sering dipakai untuk menjelaskan dominasi kulit putih terhadap kulit berwarna, khususnya kulit hitam.

Pada waktu bersamaan, mahasiswa Papua dikabarkan tidak mengibarkan bendera Merah Putih di Surabaya, Wali Kota Sibolga mengkritik warga keturunan Tionghoa yang tidak mengibarkan bendera di sana. Kritik wali kota ini juga viral, tapi tidak ada tindakan aparatur di sana.

Secara simbolik, merujuk sosiolog Goffman, hirarki orang-orang Papua memang bisa cenderung dipandang rendah dalam mata aparatur kita.

Meskipun dalam fase rasis model lama, banyak model-model diskriminasi dan rasis baru yang perlu diselidiki terkait Papua. Apakah Papua memang didesain untuk menjadi daerah pergolakan?
Apakah Papua didesain untuk jadi daerah penghisapan?

Saya yang monyet


Mengejek-ejek orang Papua monyet adalah sebuah kejahatan kemanusiaan. Dalam ajaran Islam misalnya, Rasulullah memastikan bahwa kelompok pertama masuk surga adalah Bilal bin Rabah. Budak yang kulitnya paling hitam di masa Nabi. Ajaran-ajaran kemanusiaan lainnya menempatkan persoalan ras ini dalam isu basic rights atau civil rights yaitu hak-hak dasar manusia. Atau disebut state of nature di barat atau kodrat Ilahi bagi orang beragama. Hak-hak dasar ini tidak boleh dibedakan antara manusia.

Manusia tidak bisa jahat karena warna kulitnya. Manusia jahat karena pikirannya dan niatnya. Masa di mana manusia pernah merasa rasnya lebih unggul, pernah membuat Hitler membunuh jutaan Yahudi di Eropa dan pernah membuat slavery alias perbudakan di zaman Romawi dan kolonial.

Jika bangsa Indonesia non-Papua mengejek orang-orang Papua monyet, maka sesungguhnya mereka merasa lebih mulia sebagai makhluk hidup dari orang Papua. Tentu ini sebuah kejahatan.

Seberapa jauh soal monyet ini memerangkap alam bawah sadar kita? Mudah-mudahan cuma segelintir orang atau aparatur saja. Jika meluas, perlu edukasi antirasisme di sekolah-sekolah. Jika segelintir, harus dibawa ke aparatur hukum.

Semoga orang-orang Papua memaafkan kami. Setidaknya memaafkan saya yang non-Papua. Mungkin sayalah monyet itu.

Salam

Dr. Syahganda Nainggolan
Sabang Merauke Circle

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Turbulensi Kepercayaan dalam Teropong Nobel Ekonomi

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 22:16

Jadi Tersangka KPK, Bupati Klaten Didepak PDIP

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:45

Kapolri Rangkul Ulama Jatim untuk Jaga Kamtibmas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:32

Ilham Habibie hingga Chappy Hakim Dianugerahi Golden PIN INACA

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:02

DPR: Kehadiran Kapolri di BEI Sinyal Negara Serius Menegakkan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 20:33

Ketua Gappura Minta DPR Turun Tangan Mediasi PHK dan GHS di Krakatau Steel

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:35

Walhi Soroti Tanggung Jawab Lintas Sektor dalam Penanganan Karhutla

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:28

Kementerian UMKM Pulihkan 908 Usaha Terdampak Bencana di Sumatera

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:51

Komjak Diminta Turun Tangan Teliti JPU di Kasus Febrie

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:30

Surati Presiden Prabowo, YLKI Minta Menteri Bahlil Dicopot

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 17:49

Selengkapnya