Berita

Foto: Net

Politik

Ini Kronologi Bentrokan Surabaya Versi Mahasiswa Papua

SENIN, 19 AGUSTUS 2019 | 09:19 WIB | LAPORAN: YELAS KAPARINO

Mantan komisioner Komnas HAM Natalius Pigai merasa prihatin. Dia menilai rasialisme tumbuh subur di beberapa kota di Indonesia, seperti Surabaya, Semarang, dan Malang.

“Saya teringat kata-kata Jokowi dalam debat pemilihan presiden tanggal 30 Maret 2019. Untuk soal Alutsista kita kuat. Tetapi bangsa ini lemah karena memiliki 714 suku dan 1.000 bahasa,” ujar Natalius Pigai dalam perbincangan dengan redaksi beberapa saat lalu.

Dalam perbincangan tersebut, Pigai membagikan kronologi peristiwa bentrokan menurut penghuni asrama, sebagai berikut:


Rabu, 14 Agustus 2019
Sekitar pukul 9.30 WIB, anggota Satpol PP datang untuk minta izin pemasangan bendera merah putih di depan Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III di Jalan Kalasan, Surabaya.
 
Kamis, 15 Agustus 2019
Sekitar pukul 9.00 WIB Camat Tambaksari, Satpol PP dan TNI datang untuk memasang bendera di depan.
 
Jumat, 16 Agustus 2019
Sekitar pukul 9.02 WIB dilakukan pengecoran tiang bendera di depan asrama oleh Satpol PP. Disebutkan, kegiatan itu juga diikuti personel intelijen TNI dan Polri.
 
Sekitar pukul 15.45 WIB Danramil Tambaksari datang dan menendang pagar asrama beberapa kali dan kemudian merusak fiber plat dan banner penutup pagar asrama.

Diikuti anggota TNI baik yang berpakaian dinas lapangan maupun berpaikaian sipil. Massa yang diduga ormas tertentu datang ke asrama seperti yang terlihat di video.

Anggota Satpol PP, anggota Kepolisian berpakaian dinas lengkap dan berpakaian sipil pun berada di TKP. Namun tak berbuat apa-apa.

Ancaman pembunuhan disampaikan salah seorang perwira TNI AD. Ancaman serupa  juga disampaikan  seorang oknum yang diduga intel mengenakan jaket coklat.

“Mereka memaki kami dengan kata-kata penghinaan” ujar seorang mahasiswa.

Jumlah ormas semakin bertambah banyak. Mereka mendobrak pintu depan asrama dan melempari batu hingga mengakibatkan kaca asrama pecah. Jalan pun diblokade. Mahasiswa terkurung di aula.
 
Sabtu, 17 Agustus 2019
Antara pukul 13.20 sampai 13.40 WIB ormas melakukan orasi dengan meneriakkan yel-yel seperti “Usir, usir, usir Papua, usir Papua sekarang juga.”

Sekitar pukul 13.40 sampai 14.20 WIB aparat keamanan meminta mahasiswa segera mengosongkan asrama. Salah seorang anggota LBH yang mendampingi mahasiswa Papua, Bung Dani, bernegosiasi.

Kemudian Bung Dani kembali dan berkordinasi dengan mahasiswa di aula selama lima menit.
 
Sekitar pukul 14.20 sampai 14.40 WIB kembali mahasiswa Papua diteriaki dengan kata-kata makian. Sementara aparat keamanan dari Brimob terlihat mengangkat senjata laras panjang dan mengarahkan senjata mereka ke asrama.

Tak lama mereka masuk dengan mendobrak pintu kecil sambil melepaskan tembakan.

Mahasiswa yang berada di aula berusaha melindungi diri dari tembakan dan gas airmata yang dilepaskan aparat keamanan.

“Kami semua kena gas air mata dan rasa pedih dan panas di kulit kami semakin menjadi-jadi,” ujar seorang mahasiswa.

Selama penembakan berlangsung suasana Asrama penuh dengan kabut asap dan beberapa di antara mahasiswa mengalami sesak nafas.

Aparat berhasil masuk dan mengarahkan senjata ke posisi mahasiswa berkumpul.

Sekitar pukul 14.40 WIB mahasiswa dipaksa dan didorong dari lantai dua. Mereka turun sambil berjalan jongkok keluar dengan tangan terangkat.

Aparat menyita semua alat komunikasi mahasiswa.

“Kami diperiksa dan didorong masuk ke truk Dalmas,” ujar mahasiswa itu lagi.

Disebutkan, bahwa di antara mahasiswa ada yang dipukul dengan sepatu laras panjang dan pukulan tangan hingga mengeluarkan darah. Ada empat orang yang diborgol tangannya dan dituntun keluar asrama dan diangkut.

Sekitar pukul 15.50 WIB rombongan mahasiswa tiba di Polrestabes Surabaya dan diarahkan ke salah satu ruangan.
 
Pada pukul 18.20 WIB kuasa hukum mahasiswa dari LBH Surabaya dan Kontras Surabaya bernegosiasi dengan polisi.
 
Pada pukul 18.24 hingga 21.45 WIB mahasiswa diinterogasi dan pada pukul 23.20 WIB  dipulangkan kembali ke Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III di Jalan Kalasan, Surabaya.
 

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

PKB Kutuk Pembunuhan Ali Khamenei dan Desak PBB Jatuhkan Sanksi ke Israel-AS

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:07

UPDATE

Pelajar Islam Indonesia Kutuk Trump dan Netanyahu

Rabu, 04 Maret 2026 | 10:08

Prabowo Tunjukkan Soliditas Elite Lewat Pertemuan dengan Mantan Presiden

Rabu, 04 Maret 2026 | 10:08

Bupati Pekalongan Dikabarkan Telah Jadi Tersangka Dugaan Benturan Kepentingan PBJ

Rabu, 04 Maret 2026 | 09:45

Masihkah Indonesia Konsisten dengan Politik Luar Negeri Bebas Aktif?

Rabu, 04 Maret 2026 | 09:43

KPK Buka Peluang Periksa BPN Depok soal Suap Lahan PT KD

Rabu, 04 Maret 2026 | 09:38

Irak Ikut Pangkas Produksi, Harga Minyak Makin Naik

Rabu, 04 Maret 2026 | 09:21

Pertemuan Elite jadi Cara Prabowo Redam Polarisasi Politik

Rabu, 04 Maret 2026 | 09:15

Bursa Asia Anjlok, Kospi Jatuh Paling Dalam

Rabu, 04 Maret 2026 | 08:51

Harga Emas Dunia Terkoreksi Gara-gara Dolar AS

Rabu, 04 Maret 2026 | 08:41

Menaker Tetapkan Tenggat BHR Ojol 2026: Paling Lambat H-7 Lebaran

Rabu, 04 Maret 2026 | 08:26

Selengkapnya