Berita

Gedung Parlemen/Net

Politik

KIPP: Amandemen Bukan Hal Haram, Tapi Belum Perlu

MINGGU, 18 AGUSTUS 2019 | 23:19 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Wacana mengenai amandemen UUD Negara RI terus mencuat ke publik. Usulan amandemen itu mengerucut pada empat hal.

Pertama, usulan untuk mengembalikan konstitusi kepada isi konstitusi sebagaimana sebelum adanya empat kali amandeman UUD 45 yang dilakukan sejak tahun 2000-2002.

“Kedua, usulan agar MPR kembali menjadi lembaga tertinggi negara,” ujar Sekjen Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Kaka Suminta dalam keterangan tertulisnya, Minggu (18/8).


Usulan selanjutnya adalah pembuatan kembali Garis –Garis Besar Haluan Negara  (GBHN) dan perubahan jumlah fraksi di MPR yang berkonsekuensi mengubah aturan dalam konstitusi tentang hak terkait.

Bagi KIPP, kata Suminta, empat tahap amandemen yang telah dilakukan pasca reformasi merupakan perubahan UUD negara untuk memenuhi asas konstitusi demokratik. Untuk itu, wacana perubahan yang muncul juga harus ke arah perubahan untuk konstitusi negara demokratis dan penguatan HAM.

“Perubahan harus dalam kerangka penguatan konstitusi negara yang memperkuat demokrasi dan kedaulatan rakyat dalam rangkat penguatan HAM,” sambungnya.

Atas dasar itu, KIPP berpandangan bahwa perubahan konstitusi negara UUD 1945 bukan hal yang haram untuk dilakukan. Asal perubahan tersebut merupakan upaya untuk memperkuat demokrasi, kedaulatan rakyat dan HAM, serta dikehendaki oleh seluruh rakyat Indonesia.

“Namun terkait empat wacana perubahan yang mengemuka sebagaimana di atas, tidak sejalan dengan semangat untuk memperkuat demokrasi, kedulatan rakyat dan HAM. Sehingga kami nilai tidak perlu dilakukan,” sambungnya.

Sementara menyangkut isi konstitusi hasil amandemen yang sudah dilakukan, maka perlu disadari bahwa saat ini adalah saatnya mengimplementasikan perubahan sebagaimana amanat konstitusi yang telah mengalami amandemen tadi.

“Perlu dipikirkan pengaturan untuk semakin memperkuat system presidensil dengan system multi partai, melalui konstitusi,” tutupnya.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

324 Hunian Layak untuk Warga Bantaran Rel Senen Rampung Juni 2026

Senin, 06 April 2026 | 18:15

Kasus Amsal Sitepu Harus jadi Refleksi Penegakan Hukum

Senin, 06 April 2026 | 17:59

WFH Jumat Tak Boleh Ganggu Produktivitas

Senin, 06 April 2026 | 17:45

Putri Zulhas Ngaku Belum Tahu Gugatan Pengosongan Rumah

Senin, 06 April 2026 | 17:45

Petinggi Tiga Travel Haji Dicecar KPK soal Perolehan Keuangan Tidak Sah

Senin, 06 April 2026 | 17:37

Konversi LPG ke Jargas

Senin, 06 April 2026 | 17:25

Prabowo Naikkan Target Bedah Rumah Tahun Ini Jadi 400 Ribu Unit

Senin, 06 April 2026 | 17:21

Impor Sparepart Pesawat dapat Insentif Bea Masuk Nol Persen

Senin, 06 April 2026 | 17:12

Sahroni Cabut Laporan Terhadap Influencer Indira dan Rena

Senin, 06 April 2026 | 16:59

PB Orado: Turnamen Domino Jatim Fondasi Menuju Kejurnas

Senin, 06 April 2026 | 16:55

Selengkapnya