Berita

Jepang dan Korea Selatan/Net

Dunia

Kegagalan Jepang Tebus Dosa Masa Lalu Ancam Ekonomi Global Saat Ini

SELASA, 13 AGUSTUS 2019 | 11:25 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Dua negara tetangga di kawasan Asia Timur, yakni Jepang dan Korea Selatan saat ini terlibat dalam perselisihan ekonomi yang berakar pada sejarah masa lalu.

Penyebabnya, Jepang baru-baru ini menerapkan beberapa langkah yang dapat merugikan perekonomian Korea Selatan, seperti menghapus Korea Selatan dari daftar negara-negara perdagangan pilihan dan memberlakukan kontrol pada ekspor bahan semikonduktor.

Langkah Jepang itu telah menyebabkan lonjakan harga chip memori serta memberikan efek negatif di pasar teknologi global.


Jepang mengkaim, langkah tersebut diambil karena alasan keamanan nasional. Namun sejumlah pakar meyakini bahwa langkah itu diambil Jepang sebagai balasan atas keputusan pengadilan Korea Selatan baru-baru ini mengharuskan perusahaan Jepang membayar ganti rugi kepada warga Korea yang dipaksa bekerja di pabrik-pabrik mereka selama Perang Dunia II.

Masalah tersebut bukanlah hal yang baru. Selama beberapa dekade, kedua negara tidak sepakat tentang bagaimana Jepang seharusnya menebus masa lalu kolonialnya. Namun kegagalan Jepang menebus dosa masa lalunya semasa perang kini memberikan efek ekonomi yang akan jauh melampaui Asia Timur.

The Washington Post memuat, meski Jepang melepaskan kekaisarannya pada akhir Perang Dunia II, namun kebencian mendalam terhadapnya tetap bertahan di bekas koloni, seperti Korea. Bukan tanpa alasan, pasalnya, Jepang melakukan kekejaman yang dianggap paling mengerikan dalam sejarah, seperti perbudakan seksual ratusan ribu wanita penghibur, menggunakan warga Korea sebagai pekerja paksa dan upaya untuk memberantas budaya Korea dengan memaksa anak sekolah Korea untuk belajar bahasa Jepang.

Kemudian ketika pasukan Amerika Serikat menduduki Jepang dan Korea Selatan pada tahun 1945, rekonsiliasi antara Jepang dan para mantan korbannya bukanlah prioritas tinggi.

Sebaliknya, Amerika Serikat berusaha mengesampingkan kebencian atas masa lalu dan untuk membangun kembali hubungan ekonomi yang telah ada selama era kolonial.

Bukan hanya itu, Amerika Serikat juga fokus pada penghentian komunisme dan percaya bahwa Jepang dan Korea Selatan perlu dipersatukan dalam perlawanan mereka terhadap ancaman ini.

Korea Selatan pun akhirnya menormalkan hubungan dengan Jepang pada tahun 1965 dan memulai memperbaiki hubungan ekonomi kedua negara.

Jepang dan Korea juga kemudian membangun perjanjian yang berhasil menciptakan hubungan ekonomi baru antara kedua negara. Jepang setuju untuk memberikan Korea 800 juta dolar AS dalam bentuk hibah dan pinjaman, sementara pemerintah Korea Selatan melepaskan haknya untuk mencari reparasi resmi dari Jepang atas pelanggaran kolonial dan perang terhadapnya.

Selama dua dekade berikutnya, Korea Selatan tidak hanya menerima bantuan pembangunan yang dijanjikan dari Jepang, tetapi juga menjadi tujuan utama untuk perdagangan dan investasi Jepang.

Kedua negara pun mendapat manfaat besar dari kemitraan baru, dan menghindari pembahasan soal luka sejarah.

Namun perjanjian itu juga memungkinkan Jepang untuk menghindari perhitungan dengan kekejaman masa lalunya. Dan dengan demikian, perjanjian tersebut membatalkan hak-hak setiap warga negara Korea Selatan untuk mencari kompensasi dari pemerintah Jepang.

Di Korea Selatan sendiri, luka masa lalu belum sepenuhnya pulih, terlebih jika terkait dengan perbudakan seksual oleh militer Jepang, di mana para korbannya belum mendapatkan kompensasi yang memadai. Hal itu kerap memicu kemarahan paling emosional.

Jepang juga terus menyulut kontroversi dengan upaya yang tidak tulus untuk menunjukkan penyesalan. Sejak tahun 1990an, para pemimpin Jepang telah membuat beberapa kali pernyataan meminta maaf dan mengungkapkan penyesalan atas kesalahan negara mereka di masa lalu.

Namun, Jepang juga secara konsisten merusak pernyataan ini dengan mengeluarkan klarifikasi atau terlibat dalam tindakan lain seperti mengunjungi Kuil Yasukuni yang menjadi simbol penghormatan pada pemimpin Jepang semasa Perang Dunia II. Hal itu menimbulkan pertanyaan tentang ketulusan Jepang atas permintaan maaf mereka.

Tidak seperti Jerman, Jepang belum membangun tugu peringatan publik atau museum untuk mengenang dan mendidik orang tentang kekejaman Perang Dunia II.

Perdana menteri saat ini, Shinzo Abe, telah mengambil sikap yang lebih keras pada masalah sejarah daripada para pendahulunya dan telah menjelaskan bahwa di bawah pemerintahannya, permintaan maaf lebih lanjut tidak akan datang.

Di sekolah Jepang pun diajarkan bahwa Jepang hanya mengejar minatnya di awal abad ke-20. Karena itu orang muda Jepang juga melihat sedikit kebutuhan untuk meminta maaf atas tindakan negara mereka di masa lalu. Semua tren ini mengancam hilangnya ingatan publik nasionalis dan memperburuk perselisihan perdagangan saat ini.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Buyback Emas Antam Meroket Rp55.000, Satu Gram Dibanderol Rp2,45 Juta

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:57

Harga Minyak Dunia Merosot Imbas Keputusan Trump

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:56

IHSG Terbang 1,6 Persen Menuju 6.000, Rupiah Ikut Menguat

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:44

PKS: Koalisi Prabowo Akan Tetap Konstruktif Jaga Persatuan Bangsa

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:40

Pengusaha Heri Black Dicecar KPK soal Kontainer Berisi Sparepart di Pelabuhan Tanjung Emas

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:29

10 Kader Ramaikan Bursa Caketum PB SEMMI di Kongres IX Banten

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:17

Berkas Lengkap, Mantan Ketua Ombudsman Hery Susanto Segera Disidang

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:08

Korea Pimpin Reli Bursa Asia

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:54

Galeri 24 Dorong Literasi Investasi Emas Masyarakat di Jakarta Fair 2026

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:47

Manfaatkan Program Nikah Massal dan One Stop Nikah Solution dari Kemenag, Daftar Sekarang!

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:43

Selengkapnya