Berita

Zeng Wei Jian (kanan)-Lieus Sungkharisma/Net

Publika

Penumpang Gelap Dan Kaki Tangan

SENIN, 12 AGUSTUS 2019 | 12:56 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

HAEDAR Nashir (Ketua Umum PP Muhammadiyah) menyatakan "penumpang gelap" merupakan praktik lumrah di dunia politik.

Poros III ya sinonim "Penumpang Gelap". Sami mawon. Podo wae. "Same-same" lah.

Wacana "Penumpang Gelap" terpaksa dibuka di publik domain. Karena enggak ada kapoknya. Sebuah warning; "Oh Ow kamu ketauan..!"


Bukan "Evil Axis" namanya kalau penumpang gelap mudah nyerah. Alih-alih taubat, mereka serang balik figur-figur yang buka tabir hitam Poros III. Sambil buang badan dengan fitnah menuduh "ulama" dan para tokoh 02 sebagai penumpang gelap.

Mereka hendak membenturkan Partai Gerindra dengan ulama.

Di belakang penumpang gelap ada kekuatan negara adidaya yang tidak suka melihat kekuatan Islam, Tiongkok dan Rusia bangkit. Mereka ingin kondisikan Jakarta seperti Hongkong.

Di arena social sciences, "Penumpang Gelap" disebut "free-rider". Terminologi generic. "Penumpang Gelap" merupakan masalah. Makanya ada istilah "free-rider problem".

Menurut William Baumol dalam karya "Welfare Economics and the Theory of the State", Free-rider problem merupakam a type of market failure.

In politics, Free-rider alias "Penumpang Gelap" bagaikan parasit benalu atau "loranthus europaeus".

Dalam buku "Principles of Microeconomics", peneliti Rittenberg dan Tregarthen menyatakan, "Free riders are a problem because while not paying for the good, they may continue to access it".

Oportunistik. Menusuk dari dalam. Menggunting dalam lipatan. Menukik di tikungan.

Enggak jadi kontestan Pilpres. Enggak keluar budget kampanye. Tanpa atribut. Enggak pakai APK. Tapi ingin berkuasa.

"Penumpang gelap itu ingin Indonesia chaoz. Ingin Pak Jokowi disalahkan. Ingin Indonesia ini ribut. Pak Prabowo sebagai patriot dan negarawan menolak. Itulah penumpang gelap," kata Andre Rosiade.

Penumpang gelap punya syahwat politik. Megalomaniac. Ciptakan chaoz dan padamkan. Otaknya dia-dia juga. Modus lama.

Tanpa diketahui publik dan netizens, di belakang tirai, mereka berusaha merayu Pak Prabowo merilis gerakan chaoz. Lalu Pak Prabowo ditangkap sebagai dalang. Jokowi-Maruf batal dilantik.

Poros III membentuk pemerintahan transisi dan memunculkan si penumpang gelap sebagai "The New Super Hero".

Libido politik penumpang gelap enggak ragu mengorbankan relawan 02, emak-emak, purnawirawan dan siapa saja.

Mereka bahkan engga ragu mengorbankan para ulama. Fortunately, Pak Prabowo menginstruksikan para kader Gerindra untuk menyelamatkan para ulama dari permainan kotor Poros III.

Seandainya para penumpang gelap itu sukses dalam aksinya, maka tercipta situasi yang disebut British economist William Forster Lloyd dengan teori "The tragedy of the commons". Sebuah situasi tragis di mana rakyat jadi korban petualangan Free-riders.

Wakil Sekjen PKB Daniel Johan bertanya-tanya siapa oknum penumpang gelap yang dimaksud Bang Dasco.

Semua petinggi partai TKN, dari PPP sampai PDI Perjuangan, mengetahui secara persis adanya free-rider ini. Mereka bernapas lega ketika Pak Prabowo banting stir. Eggak mau diadu-domba. Enggak mau korbankan relawan 02. Free-rider gigit jari.

Poros III punya kaki tangan di kubu 01. Bermetamorfosis menjadi "Penumpang Gelap" di kubu 02. Mereka yang menuding Bu Titiek dan keluarga Cendana sebagai donatur rusuh 22 Mei dan fitnah Pak Prabowo sebagai "dalang rusuh" adalah antek-antek poros III yang beroperasi dalam tubuh 01 Jokowi-Maruf.

Pasca MRT Summit, para penumpang gelap poros III menghasut residu 02 (ampas klik Jokowi's haters) menghujat Pak Prabowo.

Kulminasinya mereka bangun narasi fabrikasi soal Pak Prabowo dihina di Kongres PDI Perjuangan. Padahal satu-satunya figur yang diistimewakan oleh Ibu Megawati ya Pak Prabowo.

Penumpang gelap sudah kempes. Tapi belum mati. Mereka masih beroperasi. Memelihara emosi relawan 02 yang masih kecewa kalah di Pilpres.

Poros III dan kaki-tangannya memprovokasi sekelompok kecil hard-liner Jokowi's haters. Menjaga militansi Anti-Jokowi sekaligus Anti-Prabowo dengan nyanyian "politics of hatred".

Mereka ingin produksi delusi kekuatan. Supaya bisa "bargain" di hadapan Jokowi. Mereka akan menyatakan bahwa Poros III yang bisa meredam animosity Anti-Jokowi. Bukan Pak Prabowo.

Padahal kelompok extrimis militan ini hanya grup kecil residu politik. Tidak sebesar dan senyaring suara media sosialnya.

Poros kuat Jokowi-Megawati-Prabowo akan dengan mudah menyikat para penumpang gelap. Tunggu tanggal mainnya.

Penulis adalah aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (Komtam).

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Kekayaan Fadjar Donny Tjahjadi yang Kabarnya Jadi Tersangka Korupsi CPO-POME Cuma Rp 6 Miliar, Naik Sedikit dalam 5 Tahun

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:12

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Relawan Gigit Jari Gegara Jokowi Batal Wantimpres

Senin, 09 Februari 2026 | 02:01

UPDATE

Vatikan Tolak Gabung Board of Peace, Ingin Konflik Palestina Diselesaikan PBB

Rabu, 18 Februari 2026 | 16:18

Korban Bencana Sumatera Dapat Bantuan Perabot dan Ekonomi hingga Rp8 Juta

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:56

KPK Panggil Petinggi PT Niogayo Bisnis Konsultan terkait Suap Pajak

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:36

Pemeriksaan Mantan Menhub Budi Karya di KPK Dijadwal Ulang

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:24

Pajak: Gelombang Protes dan Adaptasi Kebijakan Pusat

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:20

Tujuh Jukir Liar di Pasar Tanah Abang Diamankan

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:17

Tiga Bos Swasta di Kasus Korupsi Proyek Kantor Pemkab Lamongan Dipanggil KPK

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:15

Sambut Ramadan, Prabowo Sedekah 1.455 Sapi untuk Tradisi Meugang Aceh

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:07

Sembako Diaspora Malaysia untuk Warga Aceh Tertahan di Bea Cukai

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:02

85 Negara Anggota PBB Kecam Upaya Israel Ubah Status Tanah Tepi Barat

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:54

Selengkapnya