Presiden Amerika Serikat Donald Trump menemui para korban dari salah satu penembakan massal di Ohio yang terjadi pekan lalu.
Trump pada Rabu (7/8) mengunjungi Rumah Sakit Miami Valley di Dayton, Ohio, di mana para korban luka akibat penembakan yang merenggut sembilan nyawa, dirawat.
Juru bicara Gedung Putih Stephanie Grisham dalam sebuah pernyataan di Twitter mengatakan bahwa Trump mampir ke kamar rumah sakit dan bertemu dengan pasien sambil berterima kasih kepada staf medis atas pekerjaan mereka.
"Anda melihat Tuhan. Saya ingin Anda tahu bahwa kami selalu bersama Anda," katanya mengutip pernyataan Trump di rumah sakit.
Kedatangan Trump disambut dengan aksi unjuk rasa. Kerumunan pengunjuk rasa berkumpul luar rumah sakit dan di pusat kota Dayton sambil memegang papan bertuliskan, "Benci tidak diterima di sini," dan "Hentikan teror ini."
Dua kasus penembakan massal yang terjadi akhir pekan kemarin telah membuka kembali debat nasional tentang keamanan serta kepemilikan senjata di Amerika Serikat.
Sebelum meninggalkan Gedung Putih, Trump mengatakan dia ingin memperkuat pemeriksaan latar belakang untuk pembelian senjata dan memastikan orang yang sakit mental tidak dapat membawa senjata.
Dia memperkirakan akan ada dukungan kongres untuk kedua langkah itu.
"Saya dapat memberitahu Anda bahwa tidak ada hasrat politik untuk itu pada saat ini," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
"Tapi saya pasti akan mengemukakannya. Ada hasrat yang besar, dan maksud saya, hasrat yang sangat kuat untuk pemeriksaan latar belakang," tambahnya, seperti dimuat
Reuters.
Di Dayton sendiri, Trump disambut di bandara oleh sekelompok pejabat negara bagian dan bipartisan lokal, termasuk Walikota Dayton Nan Whaley dan Senator Amerika Serikat dari Partai Demokrat Sherrod Brown.
Mereka mengatakan kepada wartawan sesudahnya bahwa mereka mendesak Trump untuk memanggil pemimpin Senat, Mitch McConnell untuk membawa Senat kembali dari reses musim panasnya untuk bekerja pada rancangan undang-undang yang disahkan DPR yang memperluas pemeriksaan latar belakang pada pembeli senjata.
Brown mengatakan bahwa dia meminta Trump berjanji bahwa dia akan menandatangani RUU itu.
"Dia hanya mengatakan bahwa kita akan menyelesaikan sesuatu," kata Brown.
Sementara itu Whaley mengatakan dia setuju dengan keputusan Trump untuk tidak mengunjungi distrik tempat penembakan itu terjadi karena emosi yang tinggi di masyarakat.
"Banyak orang yang memiliki bisnis di distrik itu tidak tertarik dengan kehadiran presiden di sana," ujarnya.