Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Otoritas Beijing Larang Simbol Islam Dan Aksara Arab Di Restoran Halal

RABU, 31 JULI 2019 | 22:39 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Otoritas China memerintahkan agar restoran dan kedai makanan halal di ibukota Beijing tidak lagi menggunakan huruf Arab dan simbol-simbol yang terkait dengan Islam.

Al Jazeera, dengan mengutip 11 karyawan sejumlah restoran dan toko di Beijing, mengabarkan bahwa mereka diminta oleh pihak berwenang untuk menghapus gambar yang berhubungan dengan Islam, seperti bulan sabit dan kata "halal" yang ditulis dalam bahasa Arab yang dipasang di restoran atau toko mereka.

"Mereka mengatakan ini adalah budaya asing dan Anda harus menggunakan lebih banyak budaya China," kata manajer salah satu restoran mie halal di Beijing yang menolak disebutkan namanya.


Menurut aplikasi pengiriman makanan Meituan Dianping, di Beijing terdapat setidaknya 1.000 toko dan restoran halal yang tersebar di seluruh kawasan Muslim di kota itu serta di lingkungan lain.

Tidak jelas apakah setiap restoran di Beijing telah diperintahkan untuk menutupi tulisan Arab dan simbol muslim atau tidak.

Namun langkah otoritas China terkait pembatasan penggunaan aksara Arab dan gambar-gambar Islam menandai fase baru dari upaya untuk memastikan bahwa agama disesuaikan dengan budaya China arus utama.

Kampanye ini mencakup penghapusan kubah gaya Timur Tengah di banyak masjid di seluruh negeri.

Untuk diketahui, China sendiri adalah rumah bagi 20 juta muslim. Negeri tirai bambu secara resmi menjamin kebebasan beragama di negara itu. Namun, masih seperti dimuat Al Jazeera, pemerintah China melakukan kampanye agar agama yang dianut warga China sejalan dengan ideologi negara.

Agama yang dimaksud bukan hanya Islam. Pihak berwenang China sebelumnya telah menutup banyak gereja Kristen bawah tanah, dan merobohkan beberapa salib yang dianggap ilegal oleh pemerintah.

Tetapi umat Islam mendapat perhatian khusus sejak kerusuhan tahun 2009 yang terjadi antara sebagian besar warga Muslim Uighur dan mayoritas etnis China Han di wilayah paling barat Xinjiang, tempat tinggal minoritas Uighur.

Sejak saat itu, serangkaian kekerasan etnis terjadi. Sejumlah warga Uighur meradang atas kontrol pemerintah dan melakukan serangan pisau dan bom di tempat-tempat umum. Serangan juga menargetkan polisi dan pihak berwenang lainnya.

Sebagai tanggapan, pemerintah China meluncurkan tindakan keras terhadap "terorisme" di Xinjiang.

Tindakan keras itu berujung pada kritik keras dari negara-negara Barat dan kelompok-kelompok hak asasi manusia karena otoritas China melakukan penahanan massal dan pengawasan terhadap Uighur dan Muslim lainnya di Xinjiang.

Namun pemerintah China mengklaim, tindakan di Xinjiang diperlukan untuk membasmi ekstremisme agama.

Para analis menilai, Partai Komunis yang berkuasa prihatin bahwa pengaruh asing dapat membuat kelompok agama sulit dikendalikan.

"Bahasa Arab dipandang sebagai bahasa asing dan pengetahuan tentang itu sekarang dipandang sebagai sesuatu di luar kendali negara," kata seorang antropolog di Universitas Washington yang mempelajari Xinjiang, Darren Byler.

"Itu juga dipandang terkait dengan bentuk kesalehan internasional, atau di mata otoritas negara, ekstremisme agama. Mereka ingin Islam di China beroperasi terutama melalui bahasa China," tambahnya.

Pandangan senada diungkapkan Kelly Hammond, seorang asisten profesor di University of Arkansas yang mempelajari Muslim minoritas Hui di China.

Dia mengatakan langkah-langkah itu merupakan bagian dari upaya untuk menciptakan "normal" baru.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Gus Ipul Cek Perkembangan Siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama Manado

Jumat, 12 Juni 2026 | 00:14

Pegawai Imigrasi Jaksel Tingkatkan Kemampuan Jurnalistik dan Kehumasan

Kamis, 11 Juni 2026 | 23:46

Pengawasan MBG Harus Diperkuat Usai Dadan Dkk Dicokok Kejagung

Kamis, 11 Juni 2026 | 23:28

Pemerintah Sepakati Kerangka RAPBN 2027, Pertumbuhan Ekonomi Dibidik 6,5 Persen

Kamis, 11 Juni 2026 | 23:02

Piala AFF U-19: Drama VAR Kubur Impian Garuda Muda ke Final

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:56

Mahasiswa Jabar Turun ke Jalan Suarakan RUU Polri dan BBM

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:24

PLN Berhasil Operasikan Tower Emergency, Sistem Kelistrikan Sumut Kembali Normal

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:14

Bahlil Pastikan Harga BBM Subsidi Tetap, Pertamax Naik Ikuti Harga Pasar

Kamis, 11 Juni 2026 | 21:36

Target Pendapatan Dipatok Naik, DPR Restui Minuman Manis Kena Cukai

Kamis, 11 Juni 2026 | 21:36

PLN Pulihkan Sistem Kelistrikan Sumatera Utara 72 Jam Lebih Cepat

Kamis, 11 Juni 2026 | 21:02

Selengkapnya