Masalah kesehatan mental polisi menjadi sorotah ketika lima kasus bunuh diri terjadi di antara kepolisian New York (NYPD) selama dua bulan terakhir.
Kasus bunuh diri terbaru terjadi akhir pekan kemarin (Sabtu, 27/7) di mana seorang sersan polisi ditemukan tewas akibat luka tembak yang ditimbulkan oleh dirinya sendiri di Staten Island.
Sebelumnya, pada 5 Juni lalu, Wakil Kepala Steven Silks, yang baru beberapa hari pensiun ditemukan meninggal dunia di mobil polisi di Queens.
Sehari kemudian, Detektif Joseph Calabrese ditemukan tewas di Pantai Plum Brooklyn karena bunuh diri.
Selang beberapa hari kemudian, seorang perwira berusia 29 tahun juga melakukan aksi bunuh diri. Kemudian di akhir bulan, perwira veteran polisi juga ditemukan tewas bunuh diri.
Menyusul rangkaian aksi bunuh diri polisi itu, Komisaris NYPD James O'Neill menyatakan "krisis kesehatan mental". Pernyataan itu dibuat setelah kasus kematian ketiga.
Pasalanya, di departemennya rata-rata terjadi empat sampai lima kasus bunuh diri dalam beberapa tahun terakhir.
Menyusul hal tersebut, O'Neill mendesak para petugas untuk tidak pernah malu mencari bantuan jika ada masalah kesehatan mental.
"Tidak apa-apa merasa rentan," ujarnya, seperti dimuat
Russia Today (Minggu, 28/7).
Meski begitu, sebuah survei yang dilakukan oleh NBC menunjukkan bahwa sebagian besar petugas menghindari untuk mendiskusikan masalah kesehatan mental mereka karena stigma sosial yang dirasakan dan ketakutan akan kehilangan pekerjaan mereka.
Survei itu juga menemukan, sekitar 78 persen petugas kepolisian New York menghadapi tekanan kritis di tempat kerja.
Mereka yang mengalami tekanan kritis, 68 persen di antaranya berujung pada masalah emosional yang tidak terselesaikan. Sementara 16 persen lainnya bahkan berpikir untuk bunuh diri.
Studi berbeda yang dilakukan oleh Ruderman Family Foundation tahun 2018 lalu menemukan, petugas polisi dan petugas pemadam kebakaran merupakan profesi yang menghadapi risiko bunuh diri yang lebih besar.