Berita

Hukum

Dipilih Tito Sebagai Kapolda Metro Jaya, Akankah Gatot Juga Ditunjuk Sebagai Wakapolri?

KAMIS, 18 JULI 2019 | 08:09 WIB | LAPORAN: MEGA SIMARMATA

Juli ini, genap 6 bulan Irjen Pol Gatot Eddy Pramono menjabat Kapolda Metro Jaya. Tak ada yang menyangka bahwa ia yang akan ditunjuk menjadi orang nomor satu di lingkungan Polda Metro Jaya.

Jangankan orang lain, Gatot sendiri tak menyangka sama sekali.

Bermula ketika Gatot diperintahkan menghadap Kapolri di awal Januari lalu. Sebagai anak buah, Gatot langsung sigap meluncur untuk menemui sang pimpinan. Dalam pertemuan itu, Kapolri tidak serta merta mengatakan bahwa Gatot akan jadi Kapolda Metro Jaya.

Sebab yang disampaikan Kapolri di awal pembicaraan adalah beberapa nama yang sedang dipertimbangkan untuk menjadi Kapolda Metro Jaya. Gatot menyimak dengan seksama penuturan Kapolri.

Tiba-tiba di akhir pembicaraan, yang disampaikan Kapolri justru mengejutkan. “Kalau kamu yang saya perintahkan jadi Kapolda Metro, bagaimana?” tanya Tito.

Gatot terkejut, tetapi kemudian menjawab. “Jika diperintahkan, saya siapkan melaksanakan perintah,” jawab Gatot.
Akhirnya, jadilah Gatot sebagai Kapolda Metro Jaya.

Nah sekarang santer beredar kabar bahwa Gatot digadang-gadang akan menjadi Wakapolri menggantikan Komjen Polisi Ari Dono Sukmanto yang akan pensiun pada awal 2020. Banyak pihak bertanya mungkinkah itu terjadi sebab pangkat Gatot masih Irjen.

Mungkin saja terjadi. Caranya, dengan menempatkan Gatot terlebih dahulu di pos jabatan bintang 3. Salah satu pos jabatan yang akan segera kosong adalah Kabaharkam Polri yang kini masih dijabat oleh Komjen Pol Condro Kirono.

Gatot berpeluang besar mengisi pos jabatan yang akan ditinggalkan Condro. Bisa juga, Kabareskrim Komjen Idham Azis digeser menjadi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) menggantikan Komjen Pol Suhardi Alius.

Lalu pos jabatan sebagai Kabareskrim, diisi oleh Gatot. Sebab sepanjang Idham menjadi Kabareskrim, ia nyaris tak penah ngantor dengan alasan posisinya sebagai Satgas Polri untuk penanganan teror.

Oleh karena ia berposisi sebagai Kepala Satgas, Idham memilih semau maunya. Mau ngantor di mana saja. Sehingga semua berkas Bareskrim yang harua ditanda-tangani, mesti 'gotong sana gotong sini' sesuai tempat rahasia yang berpindah-pindah lokasinya sebagai tempat persembunyian Idham.

Kalau memang sudah begitu, pindahkan saja Idham Azis sebagai Kepala BNPT. Silakan ia sampai pensiun mengurusi masalah terorisme sesuai minat dan pengalamannya.

Lalu, jabatan sebagai Kabareskrim diserahkan kepada yang lain, yang lebih mampu dan lebih cakap dalam memimpin Bareskrim.

Lagipula, dari segi usia, Idham sudah tak mungkin jadi Kapolri. Ia akan pensiun 1,5 tahun lagi. Karena, calon Kapolri idealnya masih memiliki masa dinas aktif minimal 2 tahun lagi.

Meski diberi kesempatan menjadi Kabareskrim, atas nama terorisme, Idham semau maunya berkantor. Dengan alasan ia adalah Satgas Antiteror yang menangani Densus 88 Antiteror.

Jika memang minat dan kemampuannya cuma ke Densus 88, maka Kapolri harus peka memahami situasi ini agar tidak merugikan organisasi Polri.

Menutup tulisan ini, banyak hal bisa terjadi di waktu mendatang terkait organisasi Polri. Kapolri sebagai pemimpin nomor 1 di institusinya, tentu lebih tahu mana yang terbaik.

Dan atas izin serta persetujuan Presiden, Tito akan mampu memilih pejabat Wakapolri yang baru. Dari semua nama, Gatot Eddy berpeluang paling besar.

Waktu yang akan menjawab teka-teki tentang siapa yang akan menerima amanah menjadi TB2 atau Tribrata 2, sebutan untuk Wakapolri.

Tapi kalau boleh memberi kisi-kisi, kandidat terkuat adalah perwira tinggi yang saat ini masih berbintang 2. Dia yang sukses mengamankan penyelenggaraan proses politik di Ibu Kota. Dari mulai kampanye, Pemilu, kerusuhan Mei, hingga pengamanan sidang MK tentang penetapan Presiden Terpilih.

Semoga saja.

Populer

Anton Tabah Tegaskan Bendera Yang Dibawa Enzo Adalah Bendera Tauhid, Bukan HTI

Senin, 12 Agustus 2019 | 13:07

Dapat Lampu Hijau Untuk Serang KKB Papua, Begini Respon Polri

Selasa, 13 Agustus 2019 | 21:31

Ditahan KPK, Mantan Dirut Garuda: Tanya Pak Luhut

Rabu, 07 Agustus 2019 | 18:51

Upacara Di Pulau Reklamasi, Bang Yos: Anies Mau Bilang Ke Pengembang, Ini Milik Rakyat!

Sabtu, 17 Agustus 2019 | 00:55

Prabowo Bergabung, Surya Paloh: Kita Berpolitik Bukan Baru Seminggu

Kamis, 08 Agustus 2019 | 16:36

Hadir Di Kongres PDIP, Mega Ogah Panggil Ahok Dengan Sebutan BTP

Kamis, 08 Agustus 2019 | 14:29

Surya Paloh Serang Jokowi Dan PDIP, PAN: Katakan Yang Benar Walau Itu Pahit

Jumat, 16 Agustus 2019 | 18:35

UPDATE

Sentil Target Ekonomoi Jokowi, Sandiaga Uno: Jangan Terjebak Angka 5 Persen

Sabtu, 17 Agustus 2019 | 19:13

Pidato Kemerdekaan Indonesia, Prabowo: Jangan Tunduk Pada Kekuatan Asing!

Sabtu, 17 Agustus 2019 | 18:42

Si Jago Merah Ngamuk Di Bidara Cina Jatinegara

Sabtu, 17 Agustus 2019 | 18:11

Ini Lima Refleksi Putri Bung Karno Peringati Kemerdekaan Ke-74 Indonesia

Sabtu, 17 Agustus 2019 | 18:00

WASI Hadiahkan Indonesia Rekor Dunia Pengibaran Merah Putih Raksasa Di Teluk Manado

Sabtu, 17 Agustus 2019 | 17:50

Dodi Reza Alex Pimpin Upacara HUT Ke-74 RI Di Bumi Serasan Sekate

Sabtu, 17 Agustus 2019 | 17:11

Tafsir Gerindra Soal Pernyataan Prabowo "Kita Sudah Berada Di Jalan Yang Benar"

Sabtu, 17 Agustus 2019 | 16:52

Kim Jong Un Awasi Peluncuran Rudal, Denuklirisasi Makin Sulit Dicapai

Sabtu, 17 Agustus 2019 | 16:28

Kesaksian Buruh: Kita Diarahkan Kumpul Di Depan TVRI Lalu Ditangkap

Sabtu, 17 Agustus 2019 | 16:15

Gaya "Nongkrong" ASN Jakarta Saat Upacara Berlangsung Di Pulau Reklamasi

Sabtu, 17 Agustus 2019 | 16:03

Selengkapnya