Berita

Hukum

Mantan Kuasa Hukum Novel: TGPF Terkesan Sedang Melemahkan KPK

KAMIS, 18 JULI 2019 | 01:08 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Pernyataan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang menyatakan bahwa penyidik senior KPK, Novel Baswedan bertindak melebihi kewenangan tak ubahnya sebagai tindakan pelemahan lembaga antirasuah.

"Menurut saya maksud bahwa melakukan tindakan kewenangan berlebihan itu sebenarnya pesan itu bukan kepada Novel, tapi pesan kepada KPK. Sehingga saya mencurigai ini ada bagian dari benih-benih untuk melemahkan KPK ke depan," ucap Direktur Sekolah Konstitusi Indonesia, Hermawanto kepada Kantor Berita RMOL, Rabu (17/7).

Mantan kuasa hukum Novel Baswedan ini juga mengaku bahwa Novel tidak pernah bertindak sendiri, sehingga sulit dikatakan menggunakan kewenangan yang berlebihan.

"TGPF itu tidak menjelaskan maksud kewenangan yang berlebihan itu apa. Novel itu enggak punya kewenangan, Novel adalah menjalankan kewenangannya KPK, Novel adalah representasi dari lembaga KPK," jelasnya.

Atas dasar itu, mantan anggota Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta ini berharap TGPF menjelaskan secara detail kepada publik agar tidak dianggap sebagai bagian dari skenario pelemahan lembaga antitasuah.

"Menurut saya, kewenangan yang berlebihan itu adalah ingin menyudutkan KPK, ingin mengatakan bahwa KPK selama ini berlebihan tindakannya. Ini berbahaya, maka TGPF harus menjelaskan kepada publik apa maksudnya. Jangan sampai TGPF justru menjadi bagian dari skenario untuk melemahkan KPK ke depan," pungkasnya.

Sebelumnya, juru bicara TGPF, Nur Kholis menyampaikan bahwa kewenangan berlebihan yang dilakukan Novel Baswedan menjadi penyebab adanya serangan balik atas kasus yang ditanganinya.

"TGPF menemukan fakta terdapat probabilitas terhadap kasus yang ditangani korban yang menimbulkan serangan balik atau balas dendam, akibat adanya dugaan penggunaan kewenangan secara berlebihan," kata Nur Kholis di Gedung Bareskrim Polri, Rabu (17/7).

Populer

Pengamat: Wajar Megawati Kesal, Gibran Jokowi Tidak Berdarah-darah Lalu Maju Pilkada

Kamis, 20 Februari 2020 | 19:35

Meski Kapal Jokowi Belum Karam, Dato Tahir Sudah Siap-siap Melompat Ke Sekoci Anies

Sabtu, 22 Februari 2020 | 12:34

Jakarta Masih Banjir, Adhie Massardi: Gubernur Sebelum Anies Pada Ngapain Aja Sih?

Senin, 24 Februari 2020 | 07:20

Rizal Ramli: Baru Mulai Sadar, Ternyata Utang Jorjoran Pengaruhi Daya Beli Dan Bisnis

Sabtu, 22 Februari 2020 | 14:35

Jawaban Anies Baswedan Tamparan Keras Buat Yang Mempolitisasi Banjir

Rabu, 26 Februari 2020 | 17:10

Pengurus MUI: Jangan Coba Rusak Agama Dengan Berkedok Pancasila

Minggu, 23 Februari 2020 | 11:57

Ketua Gerindra: Gila, Ternyata Omnibus Law Buat Jaga Presiden Dari Impeachment!

Kamis, 20 Februari 2020 | 15:05

UPDATE

Komisioner KPU Binjai: Kita Sebenarnya Ingin Ada Calon Independen Di Pilkada

Sabtu, 29 Februari 2020 | 16:40

Resmi, Muhyiddin Yassin, Perdana Menteri Ke-8 Malaysia

Sabtu, 29 Februari 2020 | 16:20

Komisi VIII Minta Pemerintah Lobi Arab Saudi Gratiskan Visa Jamaah Umrah Gagal Berangkat

Sabtu, 29 Februari 2020 | 16:17

Rocky Gerung Tantang Buzzer Munculkan Pesaing Anies Baswedan

Sabtu, 29 Februari 2020 | 15:59

Waspada Virus Corona, UGM Terbitkan Himbauan Bagi Civitas Akademik

Sabtu, 29 Februari 2020 | 15:57

Iklim Indonesia Tak Cocok Virus Corona, IDI: Itu Asumsi, Buktinya Thailand Kena

Sabtu, 29 Februari 2020 | 15:24

Foto Laki-laki Yang Dibantai Sekelompok Orang Pada Kerusuhan India Viral, Ini Kisah Sebenarnya

Sabtu, 29 Februari 2020 | 15:17

Imbas Kebijakan Arab Saudi, Perusahaan Layanan Umrah Ditaksir Merugi Hingga 2,5 Triliun

Sabtu, 29 Februari 2020 | 14:48

Tower Sutet Ambruk, Manager PJB PLTU Sluke Rembang Diperiksa Polisi

Sabtu, 29 Februari 2020 | 14:40

Syahganda Nainggolan: Bukan Kecewa, Saya Lagi Menghitung Kapan Jokowi Jatuh

Sabtu, 29 Februari 2020 | 14:38

Selengkapnya