Berita

Siddharta Hesse/Net

Jaya Suprana

Siddharta Hesse

SABTU, 06 JULI 2019 | 06:36 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

Penerima anugrah Nobel untuk kesusasteraan tahun 1946, Herman Hesse adalah seorang novelis dan penyair Jerman yang kemudian hijrah ke Swiss akibat tidak tahan menghadapi kebangkitan angkara murka Nazisme di tanah kelahirannya sendiri.

Mahakarya

Mahakarya Herman Hesse cukup berlimpah antara lain Peter Camenzind, Gertrud, Rosshalde, Demian, Steppenwolf, Narziss und Goldmund, Glassperlenspiel. Namun saya pribadi paling tertarik pada Siddharta  yang ditulis setelah kunjungan Hesse ke India. Gara-gara novel Siddharta Hesse, saya sampai bersusah-payah untuk berkunjung ke Lumbini di Nepal demi menelusuri petilasan Kapilavastu yang telah disepakati oleh para ilmuwan sejarah sebagai bumi kelahiran Siddharta Gautama.


Lebenskrankheit

Dalam novel Siddharta, Hermann Hesse mengungkapkan pengalaman sebagai totalitas peristiwa kesadaran dari kehidupan manusia. Perjalanan Siddharta mencari makna kehidupan menunjukkan bahwa pemahaman diperoleh bukan melalui metode intelektual apalagi akademis atau melalui penyelupan diri ke dalam kesenangan duniawi namun melalui pengalaman lahir-batin yang di dalam falsafah Jawa disebut sebagai ngelakoni.

Obsesi utama Hesse dalam menulis Siddharta adalah untuk menyembuhkan "penyakit akibat hidup" (Lebenskrankheit) dengan membenamkan diri ke dalam filsafat India seperti yang tersirat dan tersurat di dalam Upanisdhad dan Bhagavad Gita. Pada hakikatnya Hesse melanjutkan keperhatian Schopenhauer terhadap pemikiran Asia.

Transendental

Alasan mengapa bagian kedua buku Siddharta relatif lama ditulis adalah bahwa Hesse "belum mengalami kondisi persatuan transendental yang dicita-citakan Siddhartha". Dalam upaya untuk melakukannya, Hesse hidup sebagai semi- pertapa virtual demi benar-benar membenamkan diri ke dalam ajaran Hindu dan Buddha. Niatnya adalah untuk mencapai 'kelengkapan' yang, dalam novel, adalah lencana pembedaan Buddha.

"Novel Siddharta ini disusun pada tiga tahap kehidupan tradisional untuk laki-laki Hindu (siswa brahmacharin ), rumah tangga (grihastha) dan pertapa/pengucilan (vanaprastha). Bagian Satu mendalami empat kebenaran mulia Buddha serta Bagian Dua menelusurai delapan-lipat jalur yang membentuk dua belas bab dalam Siddharta. Hesse sempat mengomentari diri sendiri "Siddhartha [saya] pada akhirnya tidak mempelajari kebijaksanaan sejati dari guru mana pun, tetapi dari sungai yang mengaum dengan cara alami dan dari orang tua yang baik hati yang selalu tersenyum dan keheningan seorang suci".

Dalam sebuah ceramah tentang Siddhartha, Hesse menyatakan "Jalan Buddha menuju keselamatan sering dikritik dan diragukan, karena dianggap sepenuhnya didasarkan pada kognisi. Benar, tetapi itu bukan hanya kognisi intelektual, bukan hanya belajar dan mengetahui, tetapi pengalaman spiritual yang dapat diperoleh hanya melalui disiplin ketat dalam kehidupan tanpa pamrih melekatan".

Dialektika Interior

Siddhartha menggambarkan dialektika interior jiwa-raga Hesse. Semua kutub yang kontras dalam hidup tergores dengan tajam: keberangkatan yang gelisah dan pencarian keheningan di rumah; keanekaragaman pengalaman dan harmoni dari semangat pemersatu ketegaran dogma dan kecemasan kebebasan. Siddharta menunjukkan bagaimana sambil mencampurkan genre religius dari legenda dengan novel modern, Hesse berupaya berdamai dengan efek modernisasi bermata dua seperti individualisme, pluralisme, kapitalisme, komunisme serta pragmatisme.

Novel Siddharta popular di kalangan generasi muda Eropa dan Amerika Serikat pasca Perang Dunia II sehingga merupakan pemicu gerakan spiritualisme Timur pada masyarakat Barat yang berupaya menghayati Hinduisme, Buddhisme, Zen, Taoisme, Konfusianisme, Kejawen. Adalah Siddharta Hesse yang mempengaruhi The Beatles sampai Richard Geere berupaya mendalami kebudayaan Timur.

Penulis adalah pembelajar pemikiran para tokoh pemikir Barat, Timur, Utara dan Selatan.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Golkar: Jokowi Ikut Tren MBG karena Dekat dengan Dunia Warganet

Senin, 01 Juni 2026 | 13:12

Jawapos TV Tumbang, Televisi dan Radio Daerah Berguguran

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:24

UPDATE

Polda Metro Jaya Ajak Warga Manfaatkan Program Pemutihan Pajak hingga Akhir Agustus

Kamis, 04 Juni 2026 | 12:11

IIW Indonesia 2026 Dorong Investasi dan Kolaborasi Industri Global

Kamis, 04 Juni 2026 | 12:03

Indonesia dan Madagaskar Teken Dua Perjanjian Strategis

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:59

Sah! RUU P2SK Resmi Jadi UU, Purbaya Klaim Bisa Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:46

Pergantian Pimpinan BGN Harus Dibarengi Peningkatan Kualitas MBG

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:44

ICW Khawatir Ada Intervensi di Kasus MBG, Desak Kejagung Buka Proses Penyidikan ke Publik

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:37

Prabowo Pernah Minta BPKP Tak Ragu Usut Orang Dekat Sebelum Dadan Ditangkap

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:25

KPK Segel Rumah Wamen Imipas Silmy Karim dan Sejumlah Lokasi Lain

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:09

Menlu Sugiono Tegaskan Indonesia Harus Gaul dengan Semua Negara

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:06

Rupiah-IHSG Ambruk, Pengamat: Pasar Lebih Percaya Data, Bukan Pidato Pemerintah

Kamis, 04 Juni 2026 | 10:51

Selengkapnya