Berita

Pertemuan Jokowi dan pimpinan parpol pengusung di Istana Bogor/Net

Politik

Bursa Menteri Jokowi, Pengamat: Pengalaman Pilpres 2014, Hanya Main Twitter Dapat Posisi Komisaris

JUMAT, 05 JULI 2019 | 06:07 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Perebutan kursi menteri di pemerintahan Joko Widodo-Maruf Amin makin panas. Sejumlah partai besar pendukung 01 pun belakangan sudah mulai bermanuver untuk mengajukan kader partai menduduki kursi kementerian kabinet Jokowi.

Sebut saja Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang menginginkan 10 kursi menteri kepada presiden petahana. Keinginan PKB ini tak ayal mendapat beragam respon dari partai pendukung, termasuk tentangan dari parpol pemenang Pileg, PDIP yang merasa paling banyak mendapat suara.

Dilihat secara empiris, sejumlah partai besar dipastikan akan mengisi jabatan kementerian strategis petahana. Hal itulah yang dianggap akan menjadi prioritas Presiden Joko Widodo dalam memilih para pembantunya.


"Jokowi jelas akan memprioritaskan kursi menteri dari unsur partai pengusung utama, seperti PDIP, Golkar, PKB, dan Nasdem," kata pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago kepada Kantor Berita RMOL, Kamis (4/7).

Di sisi lain, koalisi Jokowi-Maruf juga diisi banyak parpol dengan perolehan suara rendah, tak lolos parlemen, bahkan parpol baru yang perdana merasakan Pemilu 2019.

Bagi Pangi, Presiden Jokowi tentu tak akan melupakan jasa dan perjuangan para parpol kecil dalam memenangkannya melenggang ke periode kedua.

"Apakah (parpol tak lolos parlemen) bakal mendapat posisi menteri dan jabatan strategis? Saya pikir bakal dapat 1 kursi menteri sebagai bentuk terima kasih Jokowi," imbuhnya.

Hal itu bukan tanpa alasan. Berdasarkan pengalaman, Jokowi disebutnya selalu menempatkan para 'pejuang' pemenangan di posisi tertentu, baik di dalam pemerintahan maupun di luar.

Pangi bahkan menyinggung kebijakan Jokowi yang menempatkan sosok tim pemenangan di luar parpol besar sebagai komisaris di salah satu perusahaan negara 2014 silam, meski tak menjelaskan sosok yang dimaksud.

"Kita bisa lihat pada Pemilu 2014, yang sudah berkeringat memenangkan Jokowi hampir semuanya dapat jabatan dan posisi. Bahkan peran yang kecil saja, main lewat opini publik via twiter mendapat jabatan komisaris," demikian Pangi.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Membaca Manuver Gibran Terima Mahasiswa Pendemo

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:23

Bamus Betawi Siapkan Program Strategis Menuju Lima Abad Jakarta

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:18

BEM Bersatu Ungkap Tiyo Ardianto Dekat dengan Jaringan PDIP dan Eks Timses Ganjar

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:08

Nasabah BRImo Bisa Beli Reksa Dana USD Batavia

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:04

BEM Bersatu: Mobil Tiyo Ardianto Diduga Milik Besan Andhika Perkasa

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:01

Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:30

Haikal Hassan Dianugerahi Gelar Profesor Kehormatan dari Silla University Korsel

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:14

Rp35 Triliun Anggaran MBG Berubah Jadi Sampah

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:00

Kemensos Genjot Sentra Terpadu jadi Pusat Pemberdayaan Masyarakat

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:57

Pola Kenaikan Tidak Biasa Kekayaan Menko Pangan Zulkifli Hasan

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:43

Selengkapnya