Berita

Foto: Net

Publika

Nasib Indonesia Dalam Genggaman Oligarki

KAMIS, 04 JULI 2019 | 11:33 WIB

MENARIK cerita yang diungkap Tuhan di dalam kitab suci (umat Islam). Kata Tuhan: "Dan (juga) Karun, Fir'aun dan Haman. Dan sesungguhnya tatkala datang kepada mereka Musa dengan membawa bukti-bukti yang nyata, akan tetapi mereka berprilaku sombong di muka bumi. Dan tiadalah mereka orang-orang yang luput dari kehancuran itu". (Al-Ankabuut: 39).

Musa vs Fir'aun. Cerita ini populer di kalangan umat beragama. Terlebih di Indonesia yang di atas 90 persen umat beragamanya punya referensi kitab yang menceritakan kisah dua tokoh ini. Jadi, cukup familier di telinga orang Indonesia.

Rivalitas Musa vs Fir'aun adalah rivalitas kekuatan konstruktif vs kekuatan destruktif. Golongan putih vs golongan hitam. Tokoh kanan vs tokoh kiri.


Ketika Tuhan mengungkap sejarah, secara teoritis dipercaya oleh umat beragama sebagai hukum sejarah. Dalam konteks ini adalah sejarah sosial. Umat Islam menyebutnya dengan istilah "sunnatullah".

Karena hukum sejarah, maka akan terus berulang dalam sejarah sosial umat manusia. Berlaku kapanpun dan dimanapun. Begitulah kerangka teoritisnya. Makanya, tak semua cerita manusia, tokoh besar sekalipun, diungkap oleh Tuhan. Kecuali jika cerita itu menjadi bagian dari teori sejarah. Bagi yang familier dengan teori "ashabiyah" Ibnu Khaldun dan "materialisme dialektik" Karl Marx akan mudah memahami soal ini.

Yang menarik dicermati, menurut cerita Tuhan di atas adalah lingkaran elit kedua tokoh ini. Terutama pada Fir'aun. Ada Karun dan Haman. Kata "Karun" disebut di awal. Lalu kata "Fir'aun" yang disusul kata "Haman". "Haman" yang terakhir. Formasi penyebutan kata dalam struktur kalimat tersebut menunjukkan urutan pengaruh.

Kalau ada orang sedang pidato atau memberi sambutan, biasanya dia memberi penghormatan lebih dahulu kepada tokoh-tokoh yang hadir. Dan nama yang pertama disebut adalah yang paling tinggi jabatannya, atau tokoh paling berpengaruh. Ini lazim dan jadi tradisi di hampir semua tempat.

Kalau Tuhan sebut Karun lebih dahulu, lalu Fir'aun, kemudian Haman, berarti Tuhan ingin menunjukkan bahwa Karunlah orang yang paling berpengaruh.

Karun ada di belakang Fir'aun. Dan Fir'aun ada di belakang Haman. Kira-kira seperti itu gambaran fungsionalnya. Karun bisa panggil, kasih arahan dan kendalikan Fir'aun. Kenapa sekuat itu? Karena dia yang punya duit. Dia yang jadi bohir di belakang Fir'aun. Secara finansial, Fir'aun bergantung padanya. Keren ya?

Lalu siapa Haman? Haman berfungsi memberi legitimasi atas kebijakan Fir'aun. Apapun yang diputuskan dan dikerjakan Fir'aun, Haman cari dalilnya, cari argumentasinya, cari pasalnya dan cari teorinya. Haman itu intelektual, agamawan, dukun, ahli hukum, dan sejenisnya. Mereka adalah orang-orang yang diuntungkan dengan kekuasaan Fir'aun. Makanya, mereka akan bela mati-matian.

Haman ini merepresentasikan sejumlah tokoh yang punya pengaruh, baik legal maupun sosial. Fungsi Haman memberikan legitimasi terhadap Fir'aun agar rakyat yakin bahwa apa yang diputuskan dan dikerjakan Fir'aun itu benar. Ada dalilnya, ayatnya, pasal hukumnya dan argumentasinya. Kuat!

Jadi kalau ada ahli hukum, rektor, ustaz dan ketua-ketua ormas kok kerjanya hanya membenarkan penguasa, merekalah sesungguhnya Haman. Paham?

Karun, Fir'aun dan Haman akan selalu hadir dalam kekuasaan politik. Kapanpun dan di manapun. Inilah yang disebut oligarki.

Di panggung depan, penguasa yang tampil adalah sosok yang dipilih secara demokratis oleh rakyat. Didampingi para Haman yang menjadi pembantu setianya. Tapi, di belakang penguasa, ada penguasa yang sesungguhnya. Siapa itu? Orang-orang yang punya uang. Merekalah yang banyak membiayai caleg, calon kepala daerah dan capres. Anda tahu siapa mereka? Karun!

Jadi, kalau ada para pengusaha panggil penguasa, lalu berikan arahan dan pesan, berarti mereka adalah Karun yang sebenarnya.

Siapapun penguasa, dalam konteks ini adalah kepala daerah, presiden dan anggota DPR, selama ia lahir dari rahim demokrasi liberal (padat modal), maka ia sulit lepas dari genggaman Karun. Sebab, tanpa kapital yang disediakan Karun, ia nyaris tak akan bisa nyalon. Ketika nyalon, dia butuh akademisi untuk survei. Plus sebagai konsultan politik. Harganya mahal banget. Dari mana bayarnya? Lagi-lagi minta uang kepada Karun.

Dalam proses kampanye, calon butuh para ustaz untuk menghipnotis pemilih (jama'ahnya) dengan ayat-ayat suci. Dia butuh intelektual untuk membangun narasi. Dia butuh paranormal untuk membual. Butuh ahli hukum untuk cari-cari pasal. Yang loyal diantara mereka akan terus dipakai setelah jadi penguasa. Untuk apa? Sebagai jurulegitimasi! Tepatnya, membenarkan kebijakan dan keputusannya. Di sinilah peran Hamam.

Pemodal, penguasa dan legitimator secara bersama-sama membentuk oligarki. Merekalah penguasa dan pengendali negara. Merekalah yang menggenggam Indonesia saat ini. Baik buruknya negeri ini, akan sangat bergantung kepada integritas, kompetensi dan komitmen kebangsaan mereka.

Sebagai penutup: Muhammad, Nabi Besar Umat Islam pernah berteori: "Jika Tuhan ingin rakyat itu baik, maka Tuhan akan pilihkan seorang pemimpin yang bijak (hulama'), aparat hukum yang komitmen terhadap kompetensinya (faqih), dan pengusaha yang dermawan (berkorban, bukan cari korban). Sebaliknya, jika Tuhan inginkan rakyat itu buruk (petaka), maka Tuhan pilihkan pemimpin diantara mereka yang bodoh (sufaha), hakim yang dungu (juhala) dan pengusaha yang bahil."


Tony Rosyid

Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Jokowi Injak Kepala Kerbau saat Terima Gelar Adat Lampung, Apa Maknanya?

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:21

Safari Politik Jokowi Bukti Kepemimpinan Gibran dan Kaesang Lemah

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:21

Jokowi dan PSI, Duri dalam Daging Pemerintahan Prabowo

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:09

Daftar Wilayah yang Berpotensi Terdampak El Nino 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:05

Keiko Fujimori Akhirnya Bernasib Sama Seperti Prabowo

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:03

KPK Sebut 10 Orang Diamankan dalam OTT Kuansing

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:57

Panitia Minta Jokowi Datang Setelah Acara Adat, Kunjungan Malah Batal

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:50

Koperasi Beri Ruang Bagi Mahasiswa Berwirausaha

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:37

Tutup Perdagangan Akhir Bulan: IHSG Merosot ke 5.643, Rupiah Loyo Dekati Rp18 Ribu

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:28

Ketum AHY: Genap 25 Tahun, Partai Demokrat Ingin jadi Bagian Solusi

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:19

Selengkapnya