Berita

Pasangan Jokowi-Maruf diantar pimpinan parpol koalisi ke KPU/Net

Politik

Berkaca Gagalnya Mahfud MD Jadi Cawapres, Bagi-Bagi Menteri Jokowi Akan Banyak Gejolak

RABU, 03 JULI 2019 | 05:39 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Banyaknya partai pendukung pasangan Jokowi-Maruf dalam Pilpres 2019 akan menyulitkan sang presiden terpilih dalam menentukan 'pembantunya' dalam memimpin Indonesia lima tahun medatang.

Setidaknya, dalam bursa pencalonan presiden dan wakil presiden 2019, ada tujuh parpol pengusung dan ditambah dukungan dua parpol baru yang mengajukan Jokowi-Maruf.

Atas dasar itu, Direktur Survei and Polling Indonesia (SPIN), Igor Dirgantara berpandangan bahwa penunjukan menteri dalam kabinet Jokowi-Maruf 2019-2024 diprediksi akan alot.


"Gejolak dalam penentuan kursi menteri pasti ada di panggung belakang," kata Igor kepada Kantor Berita RMOL, Rabu (3/7).

Bahkan rumitnya koalisi petahana ini sudah dilihat publik sejak penentuan sosok calon wakil presiden pendamping Joko Widodo. Saat itu, Jokowi sudah mantap memilih mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD sebagai pendampingnya.

Namun di detik-detik akhir deklarasi, Mahfud justru ditolak beberapa parpol pendukung yang kemudian memutuskan diganti oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) saat itu, KH Maruf Amin.

"Sama halnya seperti kasus Mahfud MD yang gagal mendampingi RI-1 dan diganti Maruf Amin di pengujung deklarasi," jelasnya.

"Bagaimanapun penentuan menteri kabinet adalah hak prerogratif Presiden. Beban Presiden terpilih adalah politik akomodatif. Oleh karena itu, soliditas politik akan dimaksimalkan," sambungnya.

Gejolak bahkan sudah mulai timbul ke permukaan saat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menginginkan 10 kursi menteri yang langsung ditentang oleh parpol pengusung dengan perolehan terbanyak PDIP.

"PKB kurang pas meminta jatah menteri terlalu banyak, mengingat kader NU sekarang sudah dapat jatah wakil presiden (Maruf Amin) dan juga perolehan suara PKB masih di bawah PDIP dan Golkar," tandasnya.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Membaca Manuver Gibran Terima Mahasiswa Pendemo

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:23

Bamus Betawi Siapkan Program Strategis Menuju Lima Abad Jakarta

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:18

BEM Bersatu Ungkap Tiyo Ardianto Dekat dengan Jaringan PDIP dan Eks Timses Ganjar

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:08

Nasabah BRImo Bisa Beli Reksa Dana USD Batavia

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:04

BEM Bersatu: Mobil Tiyo Ardianto Diduga Milik Besan Andhika Perkasa

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:01

Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:30

Haikal Hassan Dianugerahi Gelar Profesor Kehormatan dari Silla University Korsel

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:14

Rp35 Triliun Anggaran MBG Berubah Jadi Sampah

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:00

Kemensos Genjot Sentra Terpadu jadi Pusat Pemberdayaan Masyarakat

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:57

Pola Kenaikan Tidak Biasa Kekayaan Menko Pangan Zulkifli Hasan

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:43

Selengkapnya