Berita

Donald Trump/NET

Publika

Mungkinkah Amerika Islah Dengan Iran?

SELASA, 02 JULI 2019 | 22:46 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

TIDAK ada yang tidak mungkin bagi Presiden Donald Trump, semuanya serba mungkin, asalkan Amerika untung. Mungkin inilah ungkapan yang paling pas untuk menggambarkan penguasa Gedung Putih saat ini.

Langkah zigzag Donald Trump yang terus-menerus mengundang kontroversi sejak masa kampanye pencapresannya, dan tampaknya akan terus berlanjut, membuat para ilmuwan sulit untuk menemukan landasan teoritis, khusunya terkait dengan berbagai kebijakan Amerika di bidang politik, ekonomi, dan militer yang bergerak liar seakan tanpa pakem. Banyak pihak baik dari dalam negeri Amerika maupun masyarakat internasional menyimpulkannya sebagai tokoh yang tidak konsisten.

Sampai-sampai ada yang menilainya dengan ungkapan sinis, sebenarnya Trump sangat konsisten dalam hal "inkonsistensi". Benarkah penilan tersebut? Bagi yang jeli, dengan melihat latar belakangnya sebagai pengusaha dunia hiburan termasuk judi di dalamnya, tentu akan lebih mudah untuk menemukan jawabannya. Watak para pengusaha pada umumnya adalah pragmatis, yang penting untung. Bahkan sejumlah pengusaha mengabaikan nilai dan menghalalkan cara dalam mengejar keuntungan ekonomi.


Bila dilihat dari istrinya, maka Trump bukanlah pengusaha biasa yang mengukur sukses-tidaknya sebagai businessman hanya dari berapa banyak harta yang ditimbunnya, akan tetapi ia juga seorang selebriti. Seorang selebriti menikmati popularitas dan perhatian publik, dan seringkali tidak peduli meskipun hal itu mengundang kontroversi.

Jika merujuk pada fakta-fakta ini, maka kita akan mampu melihat dari perspektif  yang tidak konvensional perseteruan Amerika vs Iran saat ini. Jika menggunakan teori maupun logika konvensional, maka seharusnya perang antara dua negara sudah lama pecah. Namun faktanya sampai sekarang belum juga pecah perang, meskipun insiden demi insiden yang bisa menjadi pelatuk sudah berulang kali terjadi. Bahkan insiden terakhir ditembaknya pesawat nirawak canggih milik Amerika oleh tentara Iran, meskipun menampar wajah Amerika di dunia intarnasional tidak membuat Washington bereaksi.

Alasan-alasan lain selain faktor-faktor di atas yang menyebabkan Amerika tidak akan memulai perang antara lain: Pertama, manuver-manuver politik dan militer yang dilakukan Amerika bertujuan untuk meningkatkan keuntungan ekonomi, termasuk di dalamnya untuk mendapatkan income dari sumber-sumber nonkonvensional. Karena itu menarik untuk ditelusuri, berapa besar konstribusi finansial negara-negara kaya Teluk pendukung perang seperti Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, dan Bahrain, sehingga membuat Amerika menggerakkan tentara dan mesin perangnya secara besar-besaran?

Kedua, Amerika memiliki pengalaman pahit berperang melawan Iran di Suriah. Meskipun sudah dibantu oleh Israel dan negara-negara NATO, serta sejumlah negara Arab, ternyata Amerika kalah melawan Iran yang dibantu Rusia. Buktinya sampai saat ini rezim Basyar Al Assad masih bertahan di Damaskus dan tentara Iran masih bertahan di Suriah, sementara tentara Amerika sudah berkemas-kemas karena diperintahkan untuk kembali pulang.

Ketiga, tentara Amerika memiliki pengalaman buruk dalam sejumlah perang di Timur Tengah, seperti di Lebanon, Irak, dan Afghanistan, berupa besarnya korban tentaranya, baik yang meninggal maupun luka atau cacat, disamping kerugian finansial yang menggangu perekonomian negaranya.

Keempat, selama ini dalam perang di Timur Tengah Amerika tidak pernah berani sendirian, akan tetapi selalu dibantu banyak negara khususnya yang tergabung di NATO. Karena itu, saat pesawat nirawak (drone)nya ditembak oleh Iran, Amerika tidak langsung membalasnya, akan tetapi mengirim Pelaksana Tugas (Plt) Mentri Pertahanan Mark Esper ke Eropa untuk minta bantuan dan memohon negara-negara NATO bersedia bergabung dengan Amerika dalam menghadapi Iran.

Kelima, sampai saat ini negara-negara NATO enggan untuk mengikuti petualangan Amerika di Timur Tengah. Apalagi keluarnya Amerika dari Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang ditandatangani Amerika dan Iran bersama Rusia, China, Ingris, Perancis, plus German yang dikenal dengan P6+1, tanpa alasan yang jelas. Karena itu negara-negara penandatanganan seperti Rusia, China, Inggris, Perancis dan German tetap ingin mempertahankannya. Dengan kata lain enggan mengikuti kemauan Amerika.

Merujuk pada fakta-fakta di atas, boleh jadi Amerika saat ini sedang mencari jalan yang elegan untuk berdamai atau islah dengan Iran, tentu dengan syarat mendapatkan keuntungan ekonomi dan politik sebesar-besarnya. Jika Amerika bisa berdamai dengan Korea Utara, mengapa dengan Iran tidak.

Dr. Muhammad Najib
Penulis adalah Pengamat Politik Islam dan Demokrasi

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Wabah DBD Bangladesh Makin Parah, 42.590 Dirawat dan 117 Lainnya Meninggal Dunia

Senin, 07 September 2026 | 12:27

Purbaya Ajukan Anggaran Kemenkeu Rp49,8 Triliun di 2027

Senin, 07 September 2026 | 12:14

Public Expose Live 2026, 45 Emiten Siap Buka Kinerja dan Prospek Usaha

Senin, 07 September 2026 | 12:04

Kini Giliran Ketua dan Wakil Ketua DPRD Kota Bengkulu Dipanggil KPK

Senin, 07 September 2026 | 11:53

Komisi VIII DPR Desak Pemerintah Perkuat Kesiapsiagaan Erupsi Gunung Api

Senin, 07 September 2026 | 11:41

Wamenhaj Tekankan Revitalisasi KBIHU dan Pelindungan Jemaah dari Travel Bermasalah

Senin, 07 September 2026 | 11:33

Harga Minyak Naik Lagi Sentuh Level 96 Dolar AS

Senin, 07 September 2026 | 11:25

Ombudsman Soroti Peredaran Narkoba dan Pungli di Lapas

Senin, 07 September 2026 | 11:21

Cadangan Devisa RI Agustus 2026 Capai Rp2.582 Triliun, Naik 1,2 Miliar Dolar AS

Senin, 07 September 2026 | 11:19

Belanja Mitigasi Jadi Investasi Hadapi Erupsi Gunung Api

Senin, 07 September 2026 | 11:12

Selengkapnya