Berita

Ayu Eza/RMOL

Nusantara

Polusi Udara Kian Parah, Walhi Hingga Greenpeace Siap Gugat Jokowi Dan Anak Buahnya

RABU, 19 JUNI 2019 | 02:32 WIB | LAPORAN:

Tim Advokasi Gerakan Ibu Kota belum dapat mengajukan gugatan kepada lima lembaga dan kementerian perihal polusi udara ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat seperti jadwal yang direncanakan yakni Selasa (18/6) kemarin.

Belum diserahkannya gugatan bukan tanpa sebab, alasannya karena mereka masih membereskan berkas dan memverifikasi calon pengugat.

Tim Advokasi sendiri terdiri dari tim Lembaga Bantuan Hukum (LBH), LSM Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Greenpeace Indonesia, dan pengugat yang kebanyakan korban polusi udara sebanyak 48 orang.


Direncanakan mereka akan mengugat Presiden Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Banten Wahidin Halim, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan karena dinilai belum mampu memberikan udara bersih bagi rakyat.

Pengacara Publik LBH Ayu Eza Tiara mengatakan hingga kini, pihaknya masih membereskan dokumen gugatan.

"Jadi untuk sementara ini kita baru mau ngomong kalau calon penggugat itu ada 48, tapi ini masih calon penggugat karena nanti kita harus nunggu komitmennya lagi terkait administrasi dan lain-lain. Bisa jadi bertambah bisa jadi berkurang karena kemarin pun masih ada yg mau ikut," kata Tim Advokasi, Ayu Eza saat ditemui di Kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (18/6).

"Yang pasti di bulan Juni tidak akan di Juli 2019," tegas Ayu.

Perlu diketahui, angka polusi udara tercatat tinggi hingga melebihi standar baku mutu yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Peraturan Pemerintah Nomor (41/1999) tentang Pengendalian Pencemaran Udara.

Baku mutu nasional rata-rata harian untuk partikulat matter (PM)2,5 adalah 65 mg/m3. Namun berdasarkan data dari Airvisual.com pada Selasa (18/6), indeks kualitas udara PM2,5 di Jakarta mencapai angka 34.9 mg/m3, yang artinya cukup berbahaya bagi beberapa masyarakat, terlebih yang memiliki riwayat penyakit pernafasan.

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lampaui Ekspektasi, Ekonomi Malaysia Tumbuh 4,9 Persen di 2025

Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:16

Kuota Pembelian Beras SPHP Naik Jadi 25 Kg Per Orang Mulai Februari 2026

Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:02

Analis: Sentimen AI dan Geopolitik Jadi Penggerak Pasar Saham

Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:46

Hasto Bersyukur Dapat Amnesti, Ucapkan Terima Kasih ke Megawati-Prabowo

Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:26

Bripda Rio, Brimob Polda Aceh yang Disersi Pilih Gabung Tentara Rusia

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:42

Sekolah Rakyat Jalan Menuju Pengentasan Kemiskinan

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:16

Legislator Golkar: Isra Miraj Harus Jadi Momentum Refleksi Moral Politisi

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:14

Skandal DSI Terbongkar, Ribuan Lender Tergiur Imbal Hasil Tinggi dan Label Syariah

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:46

Harga Minyak Menguat Jelang Libur Akhir Pekan AS

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:35

Guru Dikeroyok, Komisi X DPR: Ada Krisis Adab dalam Dunia Pendidikan

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:24

Selengkapnya