Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Kekayaan Oligarki Taipan Itu Hasil Menjarah Uang Bangsa Indonesia

KAMIS, 13 JUNI 2019 | 16:29 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

OLIGARKI Taipan Indonesia digambarkan sebagai mahluk paling kaya penghuni bumi Indonesia. Mereka menguasai tanah, menguasai kekayaan alam, menguasai keuangan, menguasai perdagangan. Lebih jauh lagi posisi oligarki Taipan adalah  sebagai penyangga sistem Reformasi. Mereka mengatur dan menentukan siapa menjabat apa dalam seluruh jabatan terpenting di Republik Indonesia. Mereka menguasai media, mengatur semua isu, opini dan pikiran publik. Semua menggunakan uang!

Lalu Darimana uang mereka sehingga mereka begitu kaya? Tidak lain adalah karena kepiawaian mereka menjarah keuangan negara terutama jika negara dalam keadaan kacau dan pemimpinnya lemah. Selanjutnya mereka akan menempatkan boneka senagai pemimpin untuk menyempurnakan penjarahan uang negara tersebut.

Penjarahan paling besar oligarki taipan terhadap bangsa Indonesia adalah melalui skandal keuangan yang terjadi pada puncak krisis ekonomi Indonesia 1997/1998 adalah penjarahan keuangan negara yang paling besar yang pernah terjadi dalam sejarah modern.


Nilai penjarahan keuangan negara dalam puncak krisis setara dengan 75% GDP negara Indonesia. Tidak tanggung-tanggung nilai penjarahan uang yang dilakukan oligarki taipan mencapai dua puluh kali (20 kali) Nilai APBN Indonesia.

Skandal itu terjadi di Indonesia. Total obligasi senilai Rp 648 triliun diterbitkan oleh pemerintah untuk rekapitalisasi bank. Dari jumlah ini sekitar Rp 430 triliun adalah dalam bentuk obligasi rekapitalisasi. Tambahan Rp 218 triliun dikeluarkan untuk BI sebagai penyelesaian biaya kepada BI atas dukungan likuiditas BLBI untuk bank-bank pada puncak krisis untuk membendung kesibukan bank.

BLBI adalah skandal yang terkait dengan bantuan likuiditas darurat yang ditawarkan oleh Bank Indonesia pada puncak krisis, yang dikenal sebagai Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Bantuan ini dimaksudkan untuk alasan meringankan krisis likuiditas parah yang dihadapi bank-bank setelah krisis keuangan, dan untuk menghentikan penularannya di bank.

Faktanya yang terjadi akhirnya membiayai pelarian uang oleh pemilik bank-bank yng memborong dolar dan melarikan uang mereka kabur ke luar negeri.

Meskipun ada suntikan sekitar Rp164,5 triliun selama dua tahun dalam puncak krisis, pemerintah malah harus menutup sekitar 48 bank. BPK, badan audit nasional tertinggi, memprakarsai peninjauan skema BLBI dalam temuannya mendapati Rp. 144,5 triliun dicairkan ke sekitar 48 bank swasta, audit menemukan bahwa 96% hilang atau tidak dapat dipulihkan, 59% disalahgunakan, memberikan pinjaman tanpa agunan yang cukup, dan hanya Rp. 35 triliun dapat dipertanggungjawabkan dan hanya sekitar Rp12 triliun dapat diamankan. Ini benar benar penjarahan uang rakyat.

Penyalahgunaan kekuasaan Bank Indonesia (BI) yang paling mengerikan adalah dalam pencairan pinjaman kepada bank-bank dengan masalah arus kas pada akhir 1997 dan awal 1998. Pinjaman-pinjaman ini telah menimbulkan skandal keuangan yang sangat buruk. Auditor negara (BPK) menemukan bahwa dari 144,5 triliun rupiah (saat ini US $ 15 miliar) dalam pinjaman, lebih dari 90 persen tidak dapat dipertanggungjawabkan dengan baik dan lebih dari setengahnya telah disalahgunakan.

Empat bank yakni, Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI), Bank Central Asia (BCA), Bank Danamon dan Bank Umum Nasional (BUN), menyumbang dua pertiga dari total dana BLBI. Bank-bank ini mendominasi basis aset perbankkan.

Sekarang ini mereka oligarki taipan kaya raya, sementara negara menanggung beban utang mereka dan mensubsidi bunga pinjaman mereka sampai hari ini. Jadi kekayaan oligarki taipaN, yang berlipat ganda, baik yang disimpan di luar negeri yang saat ini mencapai Rp. 11 ribu triliun dan yang dibawa masuk ke Indonesia digunakan untuk menguasai kembali Indonesia, menguasai tanah, mengusai bank, menguasai perdagangan, menguasai infrastruktur, dan lain sebagainya pasca krisis 1998, semuanya adalah uang hasil penjarahan.

Sekarang uang mereka terancam disita internasional karena pihak yang memegang uang haram itu sendiri ketakutan setelah beberapa rekan rekannya di Amerika, Eropa, Amerika Latin, masuk bui karena skandal keuangan transnasional. Sebentar lagi badai pembersihan yang kotor akan melanda Asia. Silakan elite indonesia kalau mau melindungi? Kalau mau masuk bui bersama mereka semua.

Penulis adalah pengamat ekonomi politik AEPI

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Prabowo Apresiasi Rahmat Erwin Usai Raih Emas dan Pecahkan Rekor Dunia

Minggu, 27 September 2026 | 12:11

Partai Koalisi Bela Prabowo Mati-matian tapi Diam Saat Gibran Dikritik

Minggu, 27 September 2026 | 12:05

Daftar 10 Wilayah Terpanas 27 September 2026, Suhu Capai 37,4 Derajat

Minggu, 27 September 2026 | 11:57

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Spesifikasi Samsung Galaxy A08 Resmi Meluncur di Indonesia, Baterai 6.000 mAh

Minggu, 27 September 2026 | 11:37

Indonesia Calonkan Diri untuk Kursi Tidak Tetap DK PBB Periode 2029-2030

Minggu, 27 September 2026 | 11:04

Tak Ada Satupun Partai Koalisi Pasang Badan saat Gibran Hadapi Gugatan Ijazah

Minggu, 27 September 2026 | 10:31

KPK Amankan Perhiasan Diduga Emas Saat Geledah Kanwil BPN Jatim

Minggu, 27 September 2026 | 10:17

Perang Abad 21 Sudah Dimulai, tapi Mukan di Medan Tempur

Minggu, 27 September 2026 | 10:05

Sugiono: RI Percaya PBB, Tapi Multilateralisme Harus Lebih Representatif dan Gesit

Minggu, 27 September 2026 | 09:27

Selengkapnya