Berita

Prabowo Subianto dan Susilo Bambang Yudhoyono/Net

Publika

Koreksi Prabowo Soal Pilihan Bu Ani, SBY Tunjukkan Jatidiri

KAMIS, 06 JUNI 2019 | 15:37 WIB

APAKAH salah Prabowo Subanto (PS) mengenang kebaikan almarhumah Bu Ani terkait pilihan politik almarhumah? Sama sekali tidak.

Lumrah saja seseorang mengenang kebaikan orang lain. Bahkan dianjurkan orang yang bertakziah menceritakan kebaikan seseorang yang meninggal dunia.

Ketika ditanya para wartawan tentang kenangan dari almarhumah, Pak PS langsung menjawab kebaikan Bu Ani pada 2014 dan 2019.


“Beliau memilih saya,” kata Pak PS. Tidak ada yang aneh dengan jawaban ini. Jawaban itu baru menjadi aneh setelah SBY malah mengoreksinya. Andaikata dibiarkan berlalu, tidak akan ada orang yang akan mempersoalkannya. Bukankah SBY dan Demokrat secara resmi masih berkoalisi dengan Prabowo?

Jadi, tidak ada yang salah. Tapi, SBY ‘kan sedang berduka? Juga bukan masalah besar. Tidak ada yang sensitif. Pak PS hanya menjelaskan kebaikan almarhumah Bu Ani. Bagi Pak Prabowo, itu kebaikan yang sangat besar.

Entah dengan alasan apa, SBY tersinggung ketika Pak PS menceritakan pilihan almarhumah di pilpres 2014 dan 2019. Reaksi SBY inilah yang berlebihan. Di sini, SBY menunjukkan jati dirinya terkait pencapresan Prabowo. Reaksi SBY itu yang malah sangat politis. Dalam arti, dia tidak mau publik tahu tentang kemungkinan adanya “hypocrisy” (kemunafikan) di balik semua ini.

Tampak sekali dengan nyata bahwa SBY, pada dasarnya, sangat tidak suka kepada Prabowo. Dia hanya pura-pura mendukung. Kalau SBY benar sepenuh hati mendukung, mengapa dia berkeberatan ketika Pak PS menceritakan kebaikan Bu Ani? Mengapa dia harus harus meluruskan pernyataan Prabowo itu?

Ini jelas menunjukkan bahwa sejak awal SBY memang terpaksa mendukung PS. Terpaksa karena pada pilpres 2024 anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), tidak boleh mencalonkan diri apabila di pilpres 2019 ini Demokrat tidak masuk ke salah satu kubu capres.

Waktu itu, ke kubu Jokowi tidak bisa bergabung karena ditolak oleh Megawati. Akhirnya mengemis ke kubu Prabowo di saat-saat akhir. Prabowo terlalu baik menerima AHY. Padahal, tidak ada efek sama sekali terhadap kemenangan Prabowo yang dirampok itu.

Eh, sekarang setelah hajat mereka terpenuhi, yaitu tidak lagi ada ancaman AHY terdisualifikasikan di pilpres 2024, SBY langsung menusuk PS. Dia tak mau lagi dikait-kaitkan dengan Prabowo. Betul-betul licik. Tak bisa dipercaya.

Kata orang, SBY itu ahli strategi. Kalau saya berpendapat, SBY malah ahli berbohong. Ahli bermunafik.

Dari insiden koreksi ucapan Prabowo itu, saya malah yakin SBY tidak mencoblos tanda gambar paslonpres 02 di TPS, 17 April. Bukti tambahan? Dia sangat sibuk menjadi mediator antara Jokowi dan Prabowo. SBY berusaha sekuat tenaga supaya Prabowo mengalah. Dia puja-puji Prabowo sebagai “champion of democracy”, dlsb, kalau menerima keputusan KPU.

Kemudian SBY mendesak supaya PS bertemu dengan Jokowi. Semua anjuran ini bermuara pada: sudahlah, terima saja kecurangan pilpres itu. Itulah yang ingin dilakukan oleh SBY. Memang betul-betul…

Tapi, tidak heran juga sesungguhnya. Di pilpres 2014, SBY malah tidak membela besan dia sendiri, Hatta Radjasa, yang mendampingi Prabowo. Besan dia saja dibiarkan, apalagi Prabowo.

Saya paham hari-hari ini adalah hari duka SBY dan keluarganya. Tapi, koreksi langsung yang sangat tidak perlu atas stetmen Prabowo, sungguh tidak etis. Apa urgensinya meluruskan pernyataan itu? Toh, pilpres sudah lewat.

Pak PS bukan mencari dukungan ketika mau melayat ke Cikeas. Dia hanya menuturkan kenangan baik dari Bu Ani. Tidak lebih dari itu.

Asyari Usman
Penulis adalah wartawan senior.

Populer

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

KPK Dikabarkan Kembali Gelar OTT di Sumut

Kamis, 02 Juli 2026 | 20:50

KPK Gelar OTT di Kabupaten Kuantan Singingi Riau

Senin, 29 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

OJK Minta Masyarakat Waspada Scam Berkedok Sensus Ekonomi 2026

Selasa, 07 Juli 2026 | 10:12

Harga Minyak Dunia Stabil, Pasar Pantau Kebijakan OPEC+ dan Arab Saudi

Selasa, 07 Juli 2026 | 10:03

PSI Sulit Jadikan Jateng Kandang Gajah Jika Hanya Andalkan Jokowi

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:57

Prabowo Bersiap Gelar Pertemuan Bilateral dengan Modi di Istana Pagi Ini

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:54

IHSG Menguat, Rupiah Bergerak ke Rp17.985 per Dolar AS

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:48

BBNI Tuntaskan Buyback 2026, Saham Dialihkan Penuh untuk Program Pegawai (ESOP)

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:45

PPP Menangkan Lima Gugatan Sengketa Internal, Legalitas Kepengurusan Semakin Kuat

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:38

GREAT Insitute: Perubahan Pradigma Pembangunan Indonesia Diakui Dunia

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:32

Harga Emas Antam Anjlok Rp15 Ribu, Termurah Rp1,37 Juta

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:32

Keputusan RI Hadiri Pemakaman Ayatollah Khamenei Sangat Tepat

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:22

Selengkapnya