Berita

Muzakir Manaf alias Mualem/Net

Publika

Nasionalisme Mualem

SABTU, 01 JUNI 2019 | 10:33 WIB

MANTAN Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Muzakir Manaf atau yang lebih dikenal dengan panggilan Mualem akhirnya bersuara. Sebagai sosok penting di Aceh maupun dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM) suaranya nyaring hingga membuat Jakarta panik. Suaranya ibarat aungan ‘singa’ di tengah belantara hewan-hewan yang sedang saling memangsa. Semua terdiam, menunggunya kembali bersuara.

Namun ia memilih melihat situasi, memilih menyaksikan reaksi dari ucapannya. Tuduhan negatif dan dukungan silih berganti datang. Sang Panglima masih diam, ia menunggu sambil mengamati siapa kawan siapa lawan. Ejekan datang ia bergeming, pujian datang ia tak jumawa. Ia memang ahli Dzikir, setidaknya pernah penulis saksikan ketika suatu malam di mesjid Simpang 7 Ulee Kareng.

Jika kita analisa dengan hati bersih dan pikiran jernih serta akal sehat, pernyataan Mualem merupakan bentuk motivasi bagi bangsa Indonesia. Ia ingin bangsa Indonesia tidak dijajah asing, itu sebabnya ia tawarkan referendum agar para elite waspada. Tapi narasinya itu disalahpahami, seolah-olah Aceh ingin merdeka, ingin berpisah dari NKRI tanpa alasan. Mualem mengajarkan cara berpancasila yang benar, sebuah bangsa tidak boleh dijajah sebagaimana pembukaan UUD 45. Mualem paham sekali Pancasila.


Melalui motivasi Mualem semua sadar bahwa bangsa Indonesia terancam dijajah dan tidak semua daerah rela hal itu terjadi, termasuk Aceh. Mualem menyadarkan pentingnya kesadaran kolektif bangsa ini, kesadaran akan bahaya asing yang ingin menjajah Indonesia. Aceh ingin menjadi daerah pertama yang menyadarkan itu kepada para elite Jakarta. Salah tafsir memang selalu menjadi persoalan bangsa ini, emosional dan sok nasionalis sehingga menafsirkan rasa cinta pada negara sebagai bentuk pemberontakan.

Referendum dengan opsi mau dijajah asing atau tidak, begitulah keinginan Mualem. Ia menyadarkan kepada kita semua bahwa biarlah miskin asal merdeka, bukankah Pancasila mengatakan demikian. Cara pandang negatif kemudian memvonis Mualem, padahal ucapannya perlu dicerna dengan seksama. Mengapa hanya fokus pada kata ‘referendum’ dan melupakan kata atau kalimat sebelum itu. Ia mendasarkan keinginan referendum apabila Indonesia dijajah asing, jadi bukan soal tidak suka dengan pusat.

Bulan Ramadan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an bila kita kaitkan dengan ucapan Mualem menunjukkan kualitas kita. Menurut Quraish Shihab, kata Iqra’ terambil dari kata kerja qara-a yang pada mulanya berarti “menghimpun”. Arti asal kata ini menunjukkan bahwa Iqra’ tidaklah mengharuskan adanya teks tertulis yang dibaca, tidak pula harus diucapkan sehingga terdengar oleh orang lain. Karenanya kita dapat menemukan beraneka ragam arti dari kata tersebut dalam kamus-kamus bahasa, antara lain, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri sesuatu, dan sebagainya, yang semuanya bisa dikembalikan kepada hakikat “menghimpun”.

Nah, Mualem sudah membaca realitas, ia memberi masukan kepada bangsa Indonesia. Pesan pentingnya itu yang tidak dibicarakan atau dibantah elite Jakarta. Pesan bahwa Indonesia akan dijajah asing, meski bukan secara fisik. Pesan itu tidak dibahas bahkan oleh tataran akademisi, semua termasuk saya barangkali telah terjebak pada akhir kalimat yang sangat bernada historis, referendum. Kita kurang iqra’ dalam artian menela’ah ucapan Mualem, kita cenderung emosional ketimbang berpelukan dengan rasional. Kita lupa bahwa Ramadan bulan membaca, menela’ah, meneliti, dengan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk manusia.

Karenanya mari tertawa sejenak sambil mengambil akal sehat yang tertinggal di ranah politik, kembali menginput akal sehat di kepala kita. Salah menangkap ide dan gagasan terkadang salah pula menangkap orang. Salah tafsir akibat dominasi makna membuat orang-orang tak bersalah menjadi narapidana. Akal sehat sering disimpan di rak-rak buku, akal sehat ditinggalkan ketika bicara hukum, politik, keadilan maupun kedamaian. Bau kentut memang tak nikmat bagi sebagian kita akan tetapi kentut pertanda kita masih sehat. Ucapan Mualem barangkali kurang enak didengar namun ucapan itu akan menyehatkan bangsa ini. Mualem ingatkan bangsa ini, jangan sampai dijajah asing!!!

Don Zakiyamani
Ketua Umum Jaringan Intelektual Muda Islam (JIMI)

Populer

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

KPK Dikabarkan Kembali Gelar OTT di Sumut

Kamis, 02 Juli 2026 | 20:50

KPK Gelar OTT di Kabupaten Kuantan Singingi Riau

Senin, 29 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

OJK Minta Masyarakat Waspada Scam Berkedok Sensus Ekonomi 2026

Selasa, 07 Juli 2026 | 10:12

Harga Minyak Dunia Stabil, Pasar Pantau Kebijakan OPEC+ dan Arab Saudi

Selasa, 07 Juli 2026 | 10:03

PSI Sulit Jadikan Jateng Kandang Gajah Jika Hanya Andalkan Jokowi

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:57

Prabowo Bersiap Gelar Pertemuan Bilateral dengan Modi di Istana Pagi Ini

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:54

IHSG Menguat, Rupiah Bergerak ke Rp17.985 per Dolar AS

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:48

BBNI Tuntaskan Buyback 2026, Saham Dialihkan Penuh untuk Program Pegawai (ESOP)

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:45

PPP Menangkan Lima Gugatan Sengketa Internal, Legalitas Kepengurusan Semakin Kuat

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:38

GREAT Insitute: Perubahan Pradigma Pembangunan Indonesia Diakui Dunia

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:32

Harga Emas Antam Anjlok Rp15 Ribu, Termurah Rp1,37 Juta

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:32

Keputusan RI Hadiri Pemakaman Ayatollah Khamenei Sangat Tepat

Selasa, 07 Juli 2026 | 09:22

Selengkapnya