Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Meontologi

SENIN, 27 MEI 2019 | 07:28 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SEJAK mulai agak bisa sedikit berpikir, saya kerap merasa bingung mengenai sebenarnya diri saya ini “ada” atau “tidak ada”.

Jangan-jangan sebenarnya saya ini “tidak ada” namun menjadi “ada” akibat pikiran saya menganggap diri saya ini “ada” padahal sebenarnya “tidak atau belum tentu ada”. Atau sebaliknya?

Pendek kata, pikiran saya kerap bingung bahkan absurd sambil terkesan mubazir seperti seekor anjing yang berputar-putar akibat sibuk ingin menggigit ekornya sendiri.


Ternyata saya tidak sendirian dalam kebingungan tentang fenomena “ada” dan “tidak ada”. Terbukti  pada ilmu filsafat ada sebuah istilah yang disebut sebagai Meontologi

Ontologi


Mentologi tidak termasuk kelompok istilah bikinan saya sendiri. Secara etimologis, terminologi Meontologi berasal dari kata bahasa Yunani kuno “me” yang bermakna “tidak” dan “on” yang bermakna “ada” diembel-embeli “logos” yang bermakna “ilmu”. Pada hakikatnya Meontologi bukan menelaah sesuatu yang benar-benar tidak ada namun sekedar sebagai upaya menelaah perihal di luar jangkauan Ontologi yang membahas keberadaan sesuatu yang bersifat nyata.

Menarik bahwa tradisi telaah meontologis tidak terlalu lazim di alam pemikiran kebudayaan Barat semisal yang dilakukan oleh para Sofis dan teolog negatif, tetapi merupakan titik pusat sasaran alam pemikiran kebudayaan Timur seperti Taoisme yang kemudian disusul  Buddhisme. Pemikiran Kejawen juga kerap nyrempet-nyrempet ranah Meontologi.

Nishida


Kitaro Nishida merupakan filosof Jepang yang memelopori upaya pemahaman pemikiran Timur mengenai “ketidak-adaan”  ke dalam paradigma pemikiran Barat. Nishida berjasa mengajak para pemikir Barat untuk lebih berupaya memahami pemaknaan Buddhisme mengenai “ketidak-adaan” yang sekaligus melakukan penekanan deferral oleh Martin Heidegger dan Jacques Derrida.

Filosof Prancis, Jean-Luc Nancy secara tegas membedakan antara “keberadaan” dengan “kebertidakadaan” melalui pernyataan bahwa tidak ada Ontologi tanpa dialektika atau paradoksa Meontologi. “Kebertidakadaan” merupakan suatu keadaan ke arah kesederhanaan keberadaan sesuatu benda.

“Kebertidakadaan” adalah sebuah kualitas momentarial yang menghilang dari kuantitas terkecil dari sebuah “keberadaan” (etantite).

Apabila Anda mengerti apa sebenarnya yang dimaksudkan oleh Jean-Luc Nancy maka Anda benar-benar pemikir hebat. Terus terang saya tidak mengerti karena saya sama sekali bukan seorang pemikir namun sekedar pembelajar pemikiran manusia. Malah dikuatirkan jika merasa mengerti saya akan dumeh maka berhenti belajar.

Peduli


Lain halnya dengan pemikir Prancis kelahiran Lithuania, Emmanuel Levinas yang menafsirkan Meontologi sebagai upaya mencari makna di luar “ada” serta di luar Ontologi dalam hasrat utama selain perjumpaan frontal.

Levinas berupaya mengklarifikasi apa yang telah dicari oleh Martin Heidegger dengan secara eksplisit  memberi Ontologi suatu peran sekunder terhadap etika ketimbang melanjutkan penyejajaran dengan menyatakan bahwa “ada” mengandung makna “Sorge” sebagai istilah Jerman untuk “care” dalam bahasa Inggris dan “peduli” dalam bahasa Indonesia.

Daya “peduli” memang lebih intensif ketimbang “perhatian”. Maka dapat dikatakan bahwa para pejuang kemanusiaan adalah para meontolog kemanusiaan akibat mereka bukan saja memperhatikan namun peduli kemanusiaan.

Saya menulis naskah membingungkan ini jelas bukan akibat merasa memahami makna Meontologi secara benar-benar sempurna benar namun sekadar demi membuktikan bahwa yang bingung mengenai fenomena “ada” dan “tidak ada” sebenarnya bukan hanya saya seorang diri saja.

Meontologi sekaligus juga berhasil menghibur serta memaafkan diri saya sebagai bukti keberadaan fakta bahwa yang gemar bikin istilah logi-logi ternyata bukan hanya saya seorang diri belaka.

Penulis adalah penggagas Kelirumologi, Jamulogi, Humorologi, Alasanologi, Malumologi, Bingungologi, Angkamologi, Pialaduniamologi, Andaikatamologi.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

UPDATE

Dino Patti Djalal Endus Tim Siluman Mulai Bergerak

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:51

Trump Ancam Serang Iran Besok

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:50

Wajah Indonesia di WCCE 2026, Mulai Film Jumbo hingga Komedi Pandji

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:34

Survei: 64 Persen Publik Tidak Puas dengan Program MBG

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:21

Dino Patti Djalal Buka Suara soal Kabar Ketemu Dubes Singapura dan Saiful Mujani

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:46

Istiqomah Bela Palestina, Syahrul Aidi Dukung MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:28

Zurich Topas Life Digugat ke PN Jaksel

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:06

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Anak-anak Korban Karhutla Diminta Tetap Semangat Belajar

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:37

Kedubes Singapura Tegaskan Kabar Pertemuan Saiful Mujani dan Dino Patti Djalal Hoaks

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:19

Selengkapnya