Berita

Sudarnoto Abdul Hakim/Net

Publika

Puasa Substantif Dan Problem Kebangsaan

SABTU, 25 MEI 2019 | 15:32 WIB | OLEH: SUDARNOTO A HAKIM

IMSAK adalah salah satu arti penting Siyam yaitu menahan diri atau mengendalikan diri. Kemampuan  pengendalian diri (self control) itu  penting sekali dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kecerdasan emosional (emotional quotient).

Jika seseorang atau kelompok masyarakat tidak memiliki kemampuan mengendalikan diri, maka emosi negatif dan  destruktif yang muncul. Sementara secara natural kehidupan itu membutuhkan harmoni, ketenangan,  kedamaian dan kebahagiaan. Karena itu pikiran, perasaan,  ujaran, tindakan dan habit yang sehat dan positif menjadi syarat.

Hidup yang sehat itu memiliki kecerdasan emosional yang dibuktikan melalui pengendalikan diri (Imsak) dalam pengertian yang luas. Dengan cara ini maka sistim kehidupan yang dibangun tidak akan memberikan ruang bagi tumbuhnya keburukan,  kebusukan dan kejahatan (su',  fahsya’, dan munkar). Orang yang tidak memiliki kemampuan mengendalikan diri, pastilah gagal memimpin dirinya apalagi memimpin banyak orang; hidupnya akan mengalami disorientasi seperti seseorang yang disuruh segera bangun tidur dan lari sekencang-kencangnya.


Orang-orang yang kehilangan orientasi hidup karena ketidak mampuannya untuk mengendalilan diri  cenderung menguat egonya (egosentris) dan mengabaikan orang lain, menganggap dirinya paling benar, cenderung menyerang orang lain dalam pengertian luas. Karena itu, sikap antipati kepada orang lain sangat menonjol ketimbang berempati dan bersimpati, karena orang lain dinilai sebagai gangguan dan ancaman.

Memang banyak alasan  orang bersikap antipati kepada orang lain antara lain karena motif ras atau etnis, sosial budaya, ideologi,  agama dan kepercayaan,  politik dan juga motif ekonomi. Hal ini juga tergambar secara kasat mata dalam kehidupan berbangsa kita. Berbagai konflik atau kerusuhan, termasuk yang terjadi pada tanggal 21 dan 22 Mei, dan bahkan mesaker atau pembantaian yang terjadi di banyak tempat dan menimbulkan banyak korban, kerugian dan kerusakan sangat meyakinkan bahwa sikap antipati dan  intoleransi saling berkelindan dan saling  menguatkan.

Ini menimbulkan dampak buruk secara sosial,  psikologis,  politik dan keamanan. Bahkan yang memprihatinkan ialah dalam banyak kasus,  tindakan tindakan ini diberi lejitimasi keagamaan. Keluhuran agama telah diperkosa oleh  orang-orang/kelompok yang tak terkendali dan sakit jiwa yang dalam bahasa agama disebut sebagai orang-orang yang terpengaruh oleh al-nafs al-lawwamah dan al-nafsul ammaroh. Merekalah orang-orang yang mengalami kegagalan Puasa Substantif dan destruktif pada diri dan orang lain, lingkungan dan kehidupan berbangsa.  

Ketenteraman dan Integrasi Nasional

Peristiwa 21 hingga  23  Mei tempo hari adalah a political turbulence, goncangan yang begitu cepat dalam kehidupan politik berbangsa.

Suasana semakin destruktif sejak diimanfaatkan oleh gerombolan perusuh dan teroris. Tentu saja ini disamping menciderai kesucian dan keberkahan bulan Ramadhan juga mengancam stabilitas dan integrasi bangsa. Mereka inilah kelompok inkonstitusionalis dan intolerans yang tidak  akan peduli kepada kesatuan dan keutuhan bangsa karena tujuannya memang mengadu domba dan disintegrasi.

Kehadiran negara menjadi sangat penting tidak saja untuk menangani kelompok-kelompok perusuh dan teroris yang membonceng dan merusak demokrasi  tentu dengan cara-cara yang sesuai dengan konstitusi,  moral dan manusiawi. Negara juga sekaligus bertugas membangun public trust dan meyakinkan masyarakat luas bahwa masyarakat,  bangsa dan negara tidak boleh dibajak atau dirampok oleh kelompok yang jiwanya Lawwamah dan Ammaroh.

Tragedi Ramadhan kemarin sudah seharusnya juga menjadi momentum penting terutama bagi para pemimpin,  tokoh dan para elit lintas agama, ormas dan partai politik dan semua kekuatan civil society  memperkuat aliansi nasional untuk keamanan,  ketenteraman dan integrasi nasional.

Secara politik dan hukum persoalan Pemilu diselesaikan sesuai dengan aturan perundangan,  secara hukum para perusuh  juga ditangani dan secara kultural problem ancaman terhadap keamanan dan potensi destabilitas diselesaikan melalui dialog persuasif.

Jadi selain rekonsiliasi  dalam rangka merajut kembali bangsa ini ialah memperkokoh konsolidasi dalam rangka menghadapi dan menghentikam rongrongan kekuatan jahat anti Pancasila dan NKRI yang mungkin bisa menelusup di mana-mana. Inilah salah satu cara menghidupkan atau mentransformasikan spirit Siyam Ramadhan dalam kehidupan berbangsa.

Penulis adalah Associate Professor FAH UIN Jakarta dan asisten stafsus Presiden RI


Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

UPDATE

Pendaftaran MagangHub Angkatan II Batch 1 Masih Dibuka, Begini Caranya

Kamis, 23 Juli 2026 | 05:59

Sesat Pikir Program MBG

Kamis, 23 Juli 2026 | 05:45

Demi Lunasi Utang Pinjol, Seorang Wanita Hampir Disetubuhi Debt Collector

Kamis, 23 Juli 2026 | 05:18

Cinta dan Benci Indonesia

Kamis, 23 Juli 2026 | 04:59

Saatnya Generasi Milenial Tampil Tentukan Nasib Bangsa di Pemilu 2029

Kamis, 23 Juli 2026 | 04:40

Sumpah Sudaryono dan Donny

Kamis, 23 Juli 2026 | 04:20

49 Startup Binaan IPB University Didorong jadi Produk Unggulan Nasional

Kamis, 23 Juli 2026 | 03:50

Prabowo-Anies Flagships

Kamis, 23 Juli 2026 | 03:25

TelkomGroup Perkuat Peran Penggiat Budaya Lewat CAMG 2026

Kamis, 23 Juli 2026 | 02:59

Negara OKI Didesak Bantu Iran Hadapi Agresi AS dan Israel

Kamis, 23 Juli 2026 | 02:45

Selengkapnya