Berita

Ilustrasi/Net

Jaya Suprana

Kesatwaan Yang Adil Dan Beradab

SABTU, 25 MEI 2019 | 06:47 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

NASKAH ini sudah dimuat Kantor Berita Politik RMOL edisi 28 Januari 2018, namun saya merasa perlu mengisahkannya kembali akibat prihatin atas kekerasan yang dilakukan manusia terhadap sesama manusia di berbagai pelosok planet bumi ini.

Predator

National Geographic sempat menayangkan sebuah kisah tentang kebuasan seekor leopard betina membinasakan seekor baboon betina. Sang almarhum baboon betina ternyata baru saja melahirkan seekor bayi. Sang bayi baboon belum berdaya apa pun kecuali menjerit-jerit sambil gemetar ketakutan menggelayut pada jenazah ibunya.


Setelah membunuh sang ibu, sang macan tutul mulai mengalihkan perhatian ke sang balita. Saya menahan nafas akibat yakin sang predator segera akan menerkam lalu melahap sang mangsa tak berdaya!
Kasih Sayang

Ternyata prasangka saya keliru. Si macan betina menghampiri kemudian lemah-lembut menjilat (tanpa melahap) si baboon kecil dengan penuh rasa kasih-sayang. Bahkan sang leopard merebahkan dirinya untuk memberi kesempatan bagi sang bayi baboon menyusu pada puting-puting susu di perut sang macan betina.

Adegan luar biasa yang memang secara harafiah di luar kebiasaan itu dilanjutkan dengan rekaman kamera tentang bagaimana proses sang macan senior berupaya untuk berperan sebagai ibu kandung bagi sang bayi baboon dengan kelembutan kasih-sayang seorang eh … seekor ibunda kepada seekor anak-bukan-kandungnya yang bahkan saling berbeda species.
Kisah nyata di hutan belantara tentang seekor macan tutul kasih-sayang mengadopsi seekor balita baboon layak masuk kategori percaya-atau-tidak alias layak dicurigai sebagai hoax.

Malumologi

Membandingkan ketulusan kasih-sayang seekor satwa yang dianggap buas terhadap sesama satwa namun beda-jenis dengan kebengisan manusia yang dianggap beradab membinasakan sesama manusia bukan hanya membuat saya merasa sedih namun juga malu.

Seekor leopard mampu memberikan kasih-sayang kepada seekor baboon sementara seorang atau sekelompok manusia hanya dengan dalih beda keyakinan mampu melakukan pembinasaan terhadap sesama manusia. Satwa buas membinasakan sesama satwa demi kelanjutan hidup, sementara manusia beradab membinasakan sesama manusia sekadar akibat kebencian belaka!

Bahkan manusia tega membantai sesama manusia demi sekedar memuaskan nafsu angkara murka tidak jelas makna seperti yang dilakukan para teroris di berbagai pelosok planet bumi masa kini. Para pelaku bom bunuh diri sebenarnya malah tidak mengenal apalagi membenci para sesama manusia yang mereka binasakan. Sedikitnya delapan insan manusia meninggal dunia akibat kekerasan manusia dengan manusia di Jakarta 22 Mei 2019.

Beradab

Tidak bisa disangkal bahwa keindahan lebih hadir pada kisah nyata seekor macan tutul betina mengadopsi seekor balita baboon ketimbang pada kisah nyata manusia membinasakan sesama manusia akibat kerakusan atas kekuasaan, harta benda, wilayah atau melampiaskan dendam kesumat atau aneka alasan durjana lain-lainnya. Secara naluriah, pada saat rasa benci membakar sanubari, manusia memang memiliki hasrat melakukan kekerasan.

Namun sebagai mahluk yang beradab, berakhlak, berbudaya dan berbudipekerti, seharusnya manusia wajib senantiasa mau dan mampu mengendalikan angkara murka demi tidak melakukan kekerasan terhadap sesama manusia.

Apakah memang manusia harus kalah dibanding satwa dalam mewujudkan kasih-sayang? Apakah margasatwa memang lebih mampu mengejawantahkan Kesatwaan Yang Adil dan Beradab ketimbang manusia mengejawantahkan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab?
Penulis pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Golkar: Jokowi Ikut Tren MBG karena Dekat dengan Dunia Warganet

Senin, 01 Juni 2026 | 13:12

Jawapos TV Tumbang, Televisi dan Radio Daerah Berguguran

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:24

UPDATE

Polda Metro Jaya Ajak Warga Manfaatkan Program Pemutihan Pajak hingga Akhir Agustus

Kamis, 04 Juni 2026 | 12:11

IIW Indonesia 2026 Dorong Investasi dan Kolaborasi Industri Global

Kamis, 04 Juni 2026 | 12:03

Indonesia dan Madagaskar Teken Dua Perjanjian Strategis

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:59

Sah! RUU P2SK Resmi Jadi UU, Purbaya Klaim Bisa Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:46

Pergantian Pimpinan BGN Harus Dibarengi Peningkatan Kualitas MBG

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:44

ICW Khawatir Ada Intervensi di Kasus MBG, Desak Kejagung Buka Proses Penyidikan ke Publik

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:37

Prabowo Pernah Minta BPKP Tak Ragu Usut Orang Dekat Sebelum Dadan Ditangkap

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:25

KPK Segel Rumah Wamen Imipas Silmy Karim dan Sejumlah Lokasi Lain

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:09

Menlu Sugiono Tegaskan Indonesia Harus Gaul dengan Semua Negara

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:06

Rupiah-IHSG Ambruk, Pengamat: Pasar Lebih Percaya Data, Bukan Pidato Pemerintah

Kamis, 04 Juni 2026 | 10:51

Selengkapnya