Berita

Ilustrasi:Net

Hersu Corner

Brimob Jahat Dan Brimob Baik

JUMAT, 24 MEI 2019 | 13:34 WIB | OLEH: HERSUBENO ARIEF

"KEJINYA aparat kita sudah tahu. Tapi kejinya media, banyak yang belum tahu. Banyak umat yang tewas diterjang peluru Brimob. Tapi yang dipajang adalah gambar polisi menggendong bayi. Keji dan biadab kalian, hai kuli media! Ingat, rakyat sendiri yang akan mengadili kalian!"

Pesan berantai itu dengan cepat beredar di media sosial. Tidak diketahui dengan pasti dari mana asalnya, dan siapa pembuatnya.

Namun bila kita telusuri via mesin pencari Google, gambar seorang anggota Brimob menggendong bayi itu merupakan foto lama.


Foto itu beredar di media sosial bersamaan dengan aksi penyanderaan di Markas Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat pada bulan Mei 2018. Narasi yang disematkan, seorang anggota Brimob sedang menggendong bayi salah satu narapidana teroris pelaku penyanderaan.

Apakah benar bayi yang digendong merupakan anak pelaku penyanderaan, juga tidak begitu jelas. Humas Mabes Polri hanya menyebutkan bayi tersebut anak seorang narapidana yang ditahan di rumah tahanan Mako Brimob. Dia diamankan ketika Brimob menyerbu para penyandera.

Pesan yang ingin disampaikan pembuat foto: Anggota Brimob sangat baik. Tetap memperlakukan seorang bayi dengan sangat manusiawi, sekalipun dia anak seorang narapidana teroris.

Sebaliknya di medsos dalam beberapa hari belakangan ini, video orang-orang berseragam hitam-hitam Brimob sedang melakukan aksi kekerasan terhadap warga, banyak beredar.

Ada yang sedang mengejar dan memukuli pengunjukrasa di sekitar Gedung Bawaslu, Jakarta. Ada juga yang terlihat masuk ke pemukiman mencari para pelaku kerusuhan.

Jika menyaksikan berbagai video tersebut, publik sampai pada satu kesimpulan: Brimob jahat!

Inilah fenomena medsos yang kian marak belakangan ini. Desas-desus, kabar bohong, disinformasi, dan fakta sebenarnya bercampur baur menjadi satu.

Belum lagi munculnya aksi pembajakan akun media dan nomor handphone para tokoh oposisi. Akun dan nomor Hp itu kemudian digunakan untuk menyebar informasi palsu.

Ini bukan lagi era post truth, pasca kebenaran. Namun sudah memasuki anarki informasi. Realitas, fantasi, prasangka bercampur aduk.

Jangan timpakan semua kesalahan kepada para pengguna medsos. Ada andil besar pemerintah yang menyebabkan penyebaran berita hoax kian merajalela.

Kooptasi dan manipulasi media oleh pemerintah menyebabkan pers tidak lagi dipercaya publik. Publik kemudian beralih ke medsos sebagai rujukan.

Masyarakat hanya bisa marah, namun tak berdaya mendapati realitas media telah menjadi corong pemerintah dan menekan kelompok oposisi. Padahal dalam negara bebas fungsi utama media massa adalah sebagai alat kontrol pemerintah. Karena itu lah media disebut sebagai pilar ke empat demkrasi. The fourth estate.

Ketika salah satu pilarnya roboh. Maka robohlah bangunan demokrasi sebuah negara.

Pernyataan di medsos yang dikutip pada awal tulisan, setidaknya mewakili perasaan sebagian masyarakat kita. Geram, jengkel, marah, tapi tak mampu berbuat apa-apa. Medsos menjadi media perlawanan mereka.

Meracuni Persediaan Air Bangsa

Fenomena yang kini tengah terjadi di Indonesia, sudah jauh-jauh hari diingatkan oleh Lance Morcan, wartawan dan penulis terkenal asal Selandia Baru.

Dalam bukunya yang ditulis bersama James Morcan The Orphan Conspiracies: 29 Conspiracy Theories from The Orphan Trilogy (2014) Lance Morcan mewanti-wanti.

"Memanipulasi media sama dengan meracuni persediaan air sebuah bangsa. Hal itu akan mempengaruhi seluruh kehidupan kita dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan".

Itulah yang kini sedang terjadi di Indonesia. Pemerintah mengalami kebingungan sendiri. Mengendalikan, mengkooptasi, dan memanipulasi media, membuat kelompok oposisi membangun kantong-kantong perlawanan di media sosial.

Dengan karakternya yang bebas tak terkontrol, info yang bertebaran di medsos sulit untuk diverifikasi. Fakta dan hoax bercampur aduk. Kita acapkali sulit membedakan mana yang fakta dan mana yang fiksi. Namun publik cenderung lebih mempercayainya.

Apa boleh buat, seperti dikatakan Morcan "The media, like anything else, can be bought. Everything, it seems, has its price. Even the free press".

Media seperti yang lain. Bisa dibeli. Semua tampaknya ada harganya. Termasuk pers bebas.

Media arus utama (mainstream) tambah Morcan, sudah seperti infotaintmen. Lebih banyak kesamaan dengan industri hiburan dibandingkan dengan jurnalisme tradisional.

"Gosip, penokohan dan suntikan drama secara halus diinfuskan dengan fakta, mengubah kebenaran dengan cara yang mirip dengan bagaimana para dramawan memutar kisah nyata untuk menciptakan kegembiraan yang lebih besar".

Sampai kapan situasi ini akan kita biarkan terus berlangsung? Sampai kapan kita terus menebar racun di persediaan air bangsa?

Jangan sampai kesadaran itu datang terlambat. Kesadaran baru datang ketika kita semua sudah menelan racun. Leher kita tercekik dan kematian di ambang mata.

Penulis adalah pemerhati ruang publik.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Bea Cukai Sita 1.435 Bale Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp11,4 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:26

Bea Cukai Gagalkan 30 Kontainer Berisi Beras-Garam hingga Balpres, Nilainya Rp27,3 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:14

Lulus Kuliah, Sarjana SGU Ditantang Adaptif Hadapi Perubahan

Selasa, 22 September 2026 | 12:03

KPK Bakal Dalami Keterlibatan Dua Dirjen ATR/BPN yang Belum Jadi Tersangka

Selasa, 22 September 2026 | 11:55

Keselamatan Warga Harus Diprioritaskan di Tengah Banjir Bandang Solok

Selasa, 22 September 2026 | 11:51

Menlu Sugiono Serukan Langkah Nyata Group Eight Hentikan Krisis Gaza

Selasa, 22 September 2026 | 11:49

Harga Bitcoin Melonjak 6,66 Persen ke 86.614 Dolar AS

Selasa, 22 September 2026 | 11:47

Parpol Nonparlemen Bakal Kesulitan Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Selasa, 22 September 2026 | 11:37

NPCT1 Pastikan Tidak Ada Korban Pasca-Kebakaran Kontainer

Selasa, 22 September 2026 | 11:32

Sjafrie Apresiasi Jepang, dari Kemitraan Pertahanan hingga Bantuan Chinook

Selasa, 22 September 2026 | 11:05

Selengkapnya