Berita

F-16C/D Block 72 Fighting Falcon/Net

Pertahanan

Imbangi Neraca Perdagangan, Indonesia Incar Viper dan Herky AS

RABU, 22 MEI 2019 | 14:30 WIB | LAPORAN: A KARYANTO KARSONO

Indonesia bersama Amerika Serikat (AS) dikabarkan tengah membicarakan kemungkinan pembelian 32 jet tempur F-16V dan enam pesawat angkut berat Hercules yang kerap disebut Herky varian C-130J.

Transaksi dagang kali ini, tidak semata terkait kebutuhan alutsista, bisa juga untuk menyeimbangkan defisit neraca perdagangan AS�"Indonesia, sekaligus mengupayakan agar akses ke sejumlah pasar komoditas AS tetap terbuka.

Bila terjadi, transaksi bernilai ratusan jutaan dolar ditujukan untuk pembelian, antara lain untuk penempur laris varian terkini F-16C/D Block 72 Fighting Falcon atau yang juga dikenal dengan F-16V.


Varian yang juga disebut sebagai “Viper” ini merupakan varian tercanggih dari keluarga jet tempur F-16. Indonesia sendiri sudah mengoperasikan 33 unit pesawat F-16 dari dua generasi sebelumnya, yaitu F-16A/B Block 15-OCU dan F-16C/D Block 52ID. Operasionalnya dibagi antara Skadron Udara 3 di Lanud Iswahjudi, Madiun, dan Skadron Udara 16 di Lanud Roesmin Nurjadin di Pekanbaru.

Jumlah 32 unit itu sendiri kabarnya merupakan kompromi, karena rencana semula adalah sebanyak 48 unit. Perampingan jumlah disebabkan masalah harga. Diharapkan dengan jumlah yang lebih sedikit, persenjataan keseluruhan Viper dapat semakin lengkap. Namun jumlah itu sendiri masih sesuai dengan jumlah skadron tambahan yang diperlukan untuk mengejar kebutuhan pokok minimum atau MEF (minimum essential forces) TNI AU, khususnya skadron pesawat tempur.

Dalam perencanaan MEF, TNI AU membutuhkan sedikitnya delapan skadron pesawat tempur, belum termasuk tambahan satu skadron untuk wilayah di Papua. Sementara saat ini skadron jet tempur TNI AU baru ada enam skadron. Rinciannya: dua skadron jet tempur di Madiun, dua lagi di Pekanbaru, dan masing-masing sebuah di Pontianak dan Makassar.

Dengan menghitung kebutuhan total termasuk penggantian pesawat tempur Hawk 200/100 di Pekanbaru dan Pontianak, sesungguhnya TNI AU dalam satu dekade ke depan membutuhkan sedikitnya lima skadron jet tempur. Jumlah 32 unit yang tengah “dibicarakan” tersebut baru cukup untuk dua skadron.

Sementara untuk pesawat angkut berat C-130J Super Hercules, kalaupun jadi dibeli masih belum  memenuhi perencanaan MEF. Dibutuhkan tiga skadron pesawat angkut berat. Saat ini TNI AU sudah mengoperasikan dua skadron angkut berat yang semuanya diisi pesawat C-130B/H Hercules dengan jumlah berkisar 10-12 pesawat per skadron. Dengan kata lain, jika hanya enam unit C-130J yang dibeli, baru memenuhi “setengah” skadron saja.

Populer

Kasi Intel-Pidsus Kejari Ponorogo Terseret Kasus Korupsi Bupati Sugiri

Rabu, 21 Januari 2026 | 14:15

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Eggi Sudjana Kerjain Balik Jokowi

Selasa, 20 Januari 2026 | 15:27

UPDATE

PJJ dan WFH Didorong Jadi Standar Baru di Jakarta

Sabtu, 24 Januari 2026 | 06:02

Prajurit di Perbatasan Wajib Junjung Profesionalisme dan Disiplin

Sabtu, 24 Januari 2026 | 06:00

Airlangga Bidik Investasi Nvidia hingga Amazon

Sabtu, 24 Januari 2026 | 05:42

Indonesia Jadi Magnet Event Internasional

Sabtu, 24 Januari 2026 | 05:26

Macron Cemas, Prabowo Tawarkan Jalan Tengah

Sabtu, 24 Januari 2026 | 05:23

Rismon Sianipar Putus Asa Hadapi Kasus Ijazah Jokowi

Sabtu, 24 Januari 2026 | 05:11

Polda Metro Terima Lima LP terkait Materi Mens Rea Pandji

Sabtu, 24 Januari 2026 | 05:09

Prabowo Jawab Telak Opini Sesat Lewat Pencabutan Izin 28 Perusahaan

Sabtu, 24 Januari 2026 | 04:26

Polisi Bongkar 'Pabrik' Tembakau Sintetis di Kebon Jeruk

Sabtu, 24 Januari 2026 | 04:16

Pesan Prabowo di WEF Davos: Ekonomi Pro Rakyat Harus Dorong Produktivitas

Sabtu, 24 Januari 2026 | 04:04

Selengkapnya