Berita

Bertrand Russell/Net

Jaya Suprana

Russell Menerawang Kekuasaan

JUMAT, 17 MEI 2019 | 06:08 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

TAKJUB menyaksikan bagaimana sesama warga Indonesia begitu sengit memperebutkan kekuasaan sampai tega membenci bahkan menyelakakan sesama warga Indonesia, maka saya makin merasa ingin tahu mengenai apa sebenarnya yang disebut sebagai “kekuasaan” itu.

Power

Menarik adalah sementara dalam bahasa Indonesia, kekuasaan dibedakan dari daya. Sementara dalam bahasa Inggris, kekuasaan dan daya sama-sama disebut sebagai power. Pada tahun 1938, seorang mahapemikir Inggris bernama Bertrand Russell menulis dan menerbitkan sebuah buku setebal 328 halaman berjudul Power: A New Social Analysis yang pada hakikatnya merupakan pemikiran campur kebingungan plus kegelisahan tentang kekuasaan oleh manusia terhadap manusia. Sementara Machiavelli lebih membeber das Sein, maka Russell lebih mencari das Sollen kekuasaan.


Haus

Buku Russell menerawang kekuasaan memuat berbagai argumentasi terdiri dari empat tema utama. Tema pertama menyimpulkan bahwa kehausan (untuk tidak menggunakan istilah kerakusan) atas kekuasaan merupakan kodrat alami naluri manusia. Tema kedua menegaskan bahwa ada beberapa bentuk kekuasaan yang saling beda namun saling terkait. Tema ketiga meyakini bahwa organisasi kekuasaan pada lazimnya terhubung dengan sifat individual. Akhirnya Russell meyakini bahwa “arbitrary rulership can and should be subdued”.

Bagi Russell, segenap topik ilmu sosial pada hakikatnya merupakan upaya telaah berbagai bentuk kekuasaan terkait ekonomi, militer, kebudayaan dan kemasyarakatan (civil). Setelah menerawang kekuasaan lewat jalur ilmu sosial, kemudian Russell mengalihkan fokus ke isu filosofikal terkait problematika kekuasaan. Di dalam kawasan baru ini, Russell berusaha keras mencari cara bagaimana mengendalikan angkara murka mereka yang haus kekuasaan sebagai aksi kolektif mau pun kewajiban individual.

Horor

Secara sinis campur horror, Bertrand Russell bersabda bahwa “Syahwat kekuasaan merupakan naluri alami manusia, tetapi rakus kekuasaan pada hakikatnya merupakan suatu kegilaan. Kehadiran kenyataan alam nyata hanya bisa diingkari oleh seorang yang gila. Orang gila dengan sertifikat dikurung dalam penjara atau rumah sakit jiwa akibat rawan melakukan kekerasan pada saat hasrat mereka dihalangi, namun orang gila tanpa sertifikat dapat menguasai angkatan bersenjata yang potensial menewaskan dan menimbulkan malapetaka kepada seluruh manusia yang tidak gila yang berada dalam jangkauan kekuasaan mereka”.

Sabda Russell dibenarkan oleh para tokoh berkuasa dengan senjata seperti Jengis Khan, Attila, Hitler, Mussolini, Stalin, Mao, Polpot dan lain sebagainya.

Andaikatamologi

Andaikata Bertrand Russell sempat mempelajari Islam dan Kejawen, maka Insya Allah, beliau akan lebih mudah menemukan cara bagaimana menanggulangi angkara murka para manusia yang haus kekuasaan seperti yang tersurat dan tersirat di dalam hadits Jihad Al-Nafs dan falsafah Ojo Dumeh.

Perjuangan termulia adalah Jihad Al-Nafs sebagai perjuangan setiap insan manusia bukan menguasai orang lain namun justru menguasai diri sendiri. Pada hakikatnya makna luhur Jihad Al-Nafs saling mendukung serta saling melengkapi dengan makna luhur falsafah Ojo Dumeh yang menyadarkan setiap insan manusia agar senantiasa berupaya untuk tidak terkubur apalagi mentang-mentang akibat lupa daratan pada saat kebetulan sedang berkuasa.

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Haji Isam Temui Seskab Teddy, Bahas Investasi Pertambangan hingga Hilirisasi

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:17

Kolombia Ubah Sikap, Kini Akui Kedaulatan Maroko atas Sahara

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:02

KPK Periksa 2 ASN Pemkot Bengkulu dalam Pengembangan Kasus Suap Rejang Lebong

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:01

Jelang Sidang Tahunan MPR, Pemerintah Matangkan Persiapan Pidato Kenegaraan Prabowo

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:56

Bitcoin Menguat Berkat Derasnya Aliran Dana ETF

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:49

Keamanan Data Pajak Jadi Prioritas Usai Kebakaran Bapenda

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:45

Destry Damayanti Resmi Jadi Calon Tunggal Gubernur BI

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:36

Kejagung Periksa 16 Saksi di Kasus BGN, 10 di Antaranya Direktur Perusahaan

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:32

Greenland Tolak Aktivitas Perusahaan AS di Tengah Ancaman Aneksasi Trump

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:27

Gibran Jadi Presiden Solusi atau Petaka?

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:26

Selengkapnya