Berita

Muammar Qadafi/Net

Politik

The Fall of Dictators

JUMAT, 10 MEI 2019 | 10:58 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

MUAMMAR Gaddafi menyebut protestors sebagai 'tikus' dan 'kecoa'. Presiden Zimbabwe Robert Mugabe menghardik rakyatnya sendiri dengan labelisasi: 'terorist'.

People power is the worst nightmare for every dictators. 'People Power' artinya Kedaulatan Rakyat.

Di Philiphina, kolaborasi pemimpin agama-oposisi-militer patriotik merupakan element penting 'people power'.


Kuncinya di kuantitas massa. Satu juta orang turun ke jalan, polisi angkat tangan. Bila ada dua juta orang, mereka lepas tangan.

Jutaan orang, lautan manusia berjalan pelan menyanyikan national athem. Sampai satu titik, mereka duduk dan berdoa. This is a peaceful protest. A passive resistance. Gerakan non-violence semacam ini sanggup menumbangkan sebuah rezim.

The element of surprise is a must. Momentum hanya datang sekali. Siapa cepat, dia menang.

Di era sosial media, gerakan massive lebih mudah dilakukan. Rezim Diktator di seluruh dunia panik. Ancaman senjata patah oleh persatuan rakyat. Kuantitas mengubah kualitas sebuah perlawanan.

Karena panik, Robert Mugabe mengeluarkan berbagai policy absurd. Membuat Zimbabwe dalam situasi "a de facto state of warfare".

Orang-orang ditangkapi dengan pasal subversif. Oposant dituduh makar. Sedikitnya 153 orang dibunuh Mugabe's supporters.

Awalnya, buzzer Mugabe merilis perang media sosial dengan hastag #ThisFlag. Karena kalah, Mugabe main kayu.

Seruan mengembalikan Statutory Instrument 194 of 1987 yang melarang distribusi dan membawa bendera nasional kembali didengungkan. Mugabe seorang penganut Marxisme, Stalinisme dan Maoisme. Dia ciptakan -isme sendiri yaitu Mugabeisme.

Seperti Mugabe, semua rezim di ambang kehancuran selalu bersikap reaksioner dan sadis. Para penjilat dan pejabat menjadi reactive state entity, full of paranoia and anger.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Darwis Ismail Terpilih jadi Nakhoda Baru ISKINDO Periode 2026-2031

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 03:46

Polda Metro Bongkar Penyelundupan 54 Ton Batu Galena dari Gorontalo

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 03:27

Usul LBP Makin Terasa Janggal, Reformasi Hukum Jangan Kehilangan Arah

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:59

Manifesto Welfare State Pesisir

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:30

Gerakan 1 Juta Liter Air Bersih BEM PTNU Teruskan Semangat Resolusi Jihad

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:05

Sidang Praperadilan Kasus Relawan Prabowo Ditunda, Hakim Tegur Kelalaian Pemanggilan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 01:51

Langkah Cepat Polda Jatim Cegah Potensi Kericuhan Aksi Mahasiswa Tuai Apresiasi

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 01:26

PT TIMAH Buka Opsi Buyback Saham Sikapi Dinamika Pasar Modal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 00:49

GMNI Puji Ketegasan Kapolri Bongkar Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 00:21

PKS Dukung Pemerintah Lakukan Reformasi Bursa Saham Menyeluruh

Jumat, 23 Oktober 2026 | 23:45

Selengkapnya