Berita

Muhammad Najib

Mengenang Hasan, Penjaga Persatuan Ummat Dan Pejuang Demokrasi Dalam Islam

KAMIS, 02 MEI 2019 | 08:07 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

NAMA lengkapnya Hasan bin Ali bin Abi Talib. Ia adalah putra pertama Ali bin Thalib, Khalifah keempat dari Khalifahurrasyidin. Karena itu Ali sering dipanggil Aba Hasan atau Abu Hasan yang artinya ayah Hasan, sebagaimana tradisi masyarakat Arab yang sering memanggil seseorang dengan menyebut nama anaknya.

Ia juga merupakan cucu Rasyulullah dari putri yang sangat  dicintsainya bernama Fatimah Azzahra. Rasulullah sangat menyayangi Hasan (حسن) dan adik kembarnya Husain (حسين).  Rasulullah pernah memperlama sujudnya saat shalat, disebabkan oleh karena Hasan dan Husain kecil bermain kuda-kudaan dipunggungnya. Seorang sahabat yang melihat kejadian ini bertanya dengan sopan kepada Rasulullah sang khuswatun khasanah: "Wahai Rasulullah mengapa baginda terlihat sujud cukup lama ?" Rasulullah menjawab: Mereka berdua adalah calon penghuni surga.

Saat ayahnya yang menjabat sebagai Khalifah keempat mangkat,  karena dibunuh ketika menuju masjid hendak menunaikan shalat subuh,   Hasan lalu dibaiat oleh para pengikut ayahnya, untuk meneruskan kekhalifahan yang dipimpin sang ayah.


Kekhalifahan Hasan ditentang oleh Gubernur Syam (kini wilayahnya meliputi: Suriah, Lebanon, Jordania, dan Palestina) Muawiyah bin Abu Sufyan, yang menjadi lawan politik ayahnya. Abu Sufyan merasa lebih berhak untuk melanjutkan tugas kekhalifahan setelah Ali bin Abi Thalib meninggal dunia. Karena itu, muncul dualisme kepemimpinan ummat Islam.

Perundingan damai dilakukan untuk menghindari perpecahan ummat yang berpotensi menimbulkan pertumpahan darah, berlangsung sekitar 6-7 bulan. Perundingan ini kemudian menghasilkan perjanjian yang dihormati kedua belah pihak. Diantara isi perjanjian itu antara lain: Setelah Muawiyah mangkat nanti, kekhalifahan harus dikembalikan kepada Ummat, sedangkan khalifah berikutnya akan ditentukan secara musyawarah.

Sekitar 20 tahun Muawiyah berkuasa dan berhasil mengkonsolidasi serta memperluas kekuasaan Islam. Ia juga mengenalkan manajemen baru dalam mengelola negara, seperti membentuk militer profesional, administrasi negara yang berjenjang rapi, dan sebagainya.

Akan tetapi Muawiyah juga dikenal sebagai pemimpin Islam yang mengubah gaya kepemimpinan yang sederhana dan zuhud, menjadi kepemimpinan yang glamor dan penuh kemewahan, mulai dari gaya makan, pakaian, kendaraan, sampai bentuk singgasana dan istana. Muawiyah juga memulai pemisahan pemimpin agama dan kepala negara, yang sebelumnya menyatu.

Hasan bin Ali walaupun usianya jauh lebih muda dibanding Muawiyah yang sebaya dengan ayahnya, ternyata ia mangkat lebih awal karena mrninggal diracun. Siapa yang meracunnya tidak diketahui dengan pasti.

Saat Muawiyah merasa usianya sudah mulai tua, dan berbagai penyakit menggerogoti dirinya. Atas saran sejumlah penasihatnya, dengan alasan demi menjaga persatuan ummat, maka ia mewasiatkan kalau sampai ajalnya tiba, maka anaknya Yazid yang akan menjadi penerusnya. Dengan kata lain ia mengkhawatirkan perjanjian yang dibuatnya dengan almarhum Hasan bin Ali.

Saat Muawiyah mangkat, Yazid bin Muawiyah dibaiat menjadi Khalifah di Damaskus yang menjadi pusat kekhalifahan saat itu. Yazid segera mengirim delegasi ke Madinah untuk meminta baiat dari Husain bin Ali, sebagai keluarga Rasulullah untuk memperkuat legitimasinya. Husain dengan santun akan tetapi tegas menolaknya.

Menurut berbagai sumber yang layak dipercaya, ada sejumlah alasan mengapa ia menolaknya. Akan tetapi, paling tidak ada dua hal yang sangat memberatkannya: Pertama, ayah handanya Muawiyah yang mengangkat dirinya telah melanggar perjanjian yang dibuatnya dengan saudara kembarnya. Kedua, Yazid tidak memiliki keluhuran moral yang diperlukan bagi seorang pemimpin Islam.

Gagal mendapatkan dukungan dengan cara damai, kemudian Yazid mulai menggunakan cara politik untuk memaksa Husain. Ia menggunakan kekuasaan untuk mengintimidasi dan mengisolasi Husain, keluarga, dan para pengikutnya yang sudah tidak banyak lagi. Merasa tidak aman tinggal di kota Madinah, Husain memutuskan untuk Hijrah ke Makkah, kemudian ke Kuffah.

Mengetahui langkah yang ditempuh cucu Rasulullah ini, Yazid kemudian menggunakan cara militer untuk mendapatkan baiatnya. Ia mengirimkan 4.000 pasukan berkuda untuk mengejar Husain dan pengikutnya yang hanya berjumlah 72 orang, ditambah perempuan dan anak-anak. Saat kedua kelompok ini bertemu, Husain tetap menolak permintaan Yazid.

Di Padang Karbala yang kemudian menjadi bagian dari sejarah kelam tarikh Islam terus disesali dan ditangisi, Husain dan para pengikutnya diisolasi selama berhari-hari sehingga kehausan. Berbagai upaya untuk melunakkan hati para pengepungnya gagal dilakukan. Saat mereka putus asa  dan memaksa untuk meraih air, kemudian dibantai satu-persatu. Husain bin Ali bin Abi Thalib cucu Rasulullah ini, kemudian menemui ajalnya dengan sangat tragis. Kepalanya terpisah dari badannya.

Kematian Husain terus dikenang dan diperingati,   sebagai simbol perlawanan antara yang hak dan bathil. Husain juga menjadi simbol keberanian sekaligus kesiapan berkorban demi menegakkan kebenaran. Bahkan Rasulullah sering disebut dengan panggilan Jaddal Husaini yang artinya kakek Husain.

Sementara itu Hasan bin Ali sang kakak kembar dilupakan. Walaupun secara substansial, jasa Hasan dalam menjaga persatuan ummat dan melindungi hak rakyat atas masalah kepemimpinan, tidak kalah penting dibanding patriotisme Husain yang sangat gigih dalam menegakkan kebenaran.

Tewasnya dua saudara kembar cucu kesayangan Rasulullah ini, meninggalkan pertanyaan theologis: Apakah kematian mereka yang tragis di usia muda disebabkan Allah bermaksud memutus hubungan darah dalam kepemimpinan Islam yang kini dikenal dengan politik dinasti? Wallahua’lam.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi

Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

Eks Relawan: Jokowi Manusia Nggedabrus

Minggu, 01 Februari 2026 | 03:33

UPDATE

Kesehatan Jokowi Terus Merosot Akibat Tuduhan Ijazah Palsu

Rabu, 11 Februari 2026 | 04:02

Berarti Benar Rakyat Indonesia Mudah Ditipu

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:34

Prabowo-Sjafrie Sjamsoeddin Diterima Partai dan Kelompok Oposisi

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:06

Macet dan Banjir Tak Mungkin Dituntaskan Pramono-Rano Satu Tahun

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:00

Board of Peace Berpotensi Ancam Perlindungan HAM

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:36

Dubes Djauhari Oratmangun Resmikan Gerai ke-30.000 Luckin Coffee

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:19

Efisiensi Energi Jadi Fokus Transformasi Operasi Tambang di PPA

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:14

Jagokan Prabowo di 2029, Saiful Huda: Politisi cuma Sibuk Cari Muka

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:18

LMK Tegas Kawal RDF Plant Rorotan untuk Jakarta Bersih

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:06

Partai-partai Tak Selera Dukung Prabowo-Gibran Dua Periode

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:00

Selengkapnya