Berita

Arief Poyuono/Net

Politik

Gerindra Kantongi Informasi A1, KPU Sudah Becek Dan Tidak Netral

SENIN, 22 APRIL 2019 | 16:13 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus ikut turun tangan dalam menghadapi kekisruhan gelaran Pemilu Serentak 2019. Dalam hal ini, Wakil Ketua Umum DPP Gerindra Arief Poyuono meminta KPK untuk menelusuri dugaan adanya suap ke KPU.

“Disinyalir ada suap ke KPU, maka KPK harus awasi KPU Pusat dan Daerah,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Senin (22/4).

Arief kemudian menguraikan dugaannya tersebut. Pertama, beberapa kali KPU ketahuan publik memperbesar perolehan suara untuk calon pasangan presiden dan wakil presiden tertentu dalam sistem informasi penghitungan suara (Situng) KPU. Namun, KPU selalu berkelit ketika ketahuan dan diprotes publik.


“Alasannya salah entri dalam memasukan data-data perhitungan suara hasil pilpres,” katanya.

Arief mengaku sudah mendapat data awal mengenai dugaan uang suap yang mengalir ke sejumlah oknum pejabat KPU. Tujuannya, untuk melakukan pencurian suara Prabowo-Sandi saat melakukan entri penghitungan suara.

“Kami sudah dapat informasi A1 kalau KPU sudah becek dan tidak netral lagi,” tegas ketua umum Forum Serikat Pekerja (FSP) BUMN itu.

Menurutnya, hanya Bawaslu yang masih netral dalam Pilpres 2019. Sementara KPU tidak menghiraukan komplain-komplain dari masyarakat.

“Ini bahaya kalau KPU sudah tidak netral akibat ada dugaan suap untuk mengatur penghitungan suara yang akan disamakan dengan hasil quick count lembaga survei berbayar atau komersil,” lanjut Arief.

Selain KPU, KPK juga diminta untuk melakukan pengawasan ketat kepada Mahkamah Konstitusi yang akan menjadi pengadil sengketa pemilu.

“KPK yang merupakan salah satu produk negara dengan sistim demokrasi harus ikut serta menjaga pilpres berjalan jujur dan tanpa money politik,” pungkasnya.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Kematian Ali Khamenei, Jalan Iran Kembangkan Nuklir untuk Militer

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:18

May Day: Jeritan Mantan Pekerja Sritex Menagih Janji Negara

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:08

Langkah Prabowo Ratifikasi ILO 188 Jadi Momentum Perbaikan Sektor Perikanan

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:39

Hari Buruh Tak Cuma Orasi, Massa Main Games hingga Nonton Efek Rumah Kaca

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:32

DPR Akui Disparitas Upah Buruh Terlalu Jauh

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:20

Apa Perbedaan Hardiknas dan Hari Guru Nasional? Ini Sejarahnya

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:59

KSBSI: Prabowo Jadi Presiden Ketiga di Dunia yang Rayakan May Day Bareng Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:55

Google Doodle Rayakan Hari Buruh 2026, Tampilkan Ilustrasi Para Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:49

Ketua Komisi III Jamin Keamanan Aktivis saat Perjuangkan Hak Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:47

Japan Airlines Uji Coba Robot Humanoid untuk Atasi Kekurangan Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:42

Selengkapnya