Berita

Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno/Net

Politik

Prabowo-Sandi Menang 60 Persen

KAMIS, 18 APRIL 2019 | 07:10 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

PILPRES 2019, Jakarta tenang. Sepi. Tidak ada preman baju kotak-kotak merusuh. Di setiap TPS hanya ada seorang polisi. Tidak ada tentara dan laskar-laskar penjaga TPS. Semuanya berjalan smooth.

Pukul 11.00, Exit Poll mulai muncul. Semuanya menangkan Prabowo-Sandi.

Siangnya, saya putuskan bergerak ke Kemang Village. "Rabu-Biru" terakhir digelar di sana. Andi dan Nur Liea ikut.


Tiba-tiba, seorang taipan menelepon. Dia bilang, "Elo dikerjain. Saksi-saksi di daerah sudah diguyur. Media dikuasai. Ntar hasil Quick Count dirilis dengan angka 58:42. Paslon 01 menang."

Saya kira dia bercanda. Pukul 03 sore, Litbang Kompas, Indobarometer, SMRC, Indikator, Charta Politika, dan Poltracking rilis Quick Count. Selisih angkanya sekitar 10%. Si Taipan benar.

Jangan lupa, semua pabrik polling itu pernah diundang makan siang di istana. Sejak itu, mereka lebih banyak berperan sebagai opini-maker.

Hanya CSIS yang menghasilkan angka 64.5% banding 43% untuk kemenangan Paslon Prabowo Sandi.

Shock. Saya banting stir. Tak jadi ke Kemang Village. Putar arah ke Kertanegara 4. Pas, Komandan Don Dasco tiba di lokasi.

Di dalam kediaman Pak Prabowo sudah ada begitu banyak tokoh; Amien Rais, Rahmawati Sukarnoputeri, Jenderal Joko Santoso, Suryo Prabowo, Rizal Ramli, Priyo, Ahmad Muzani, Sandiaga Uno, Mpok Nur, Ustad Sambo, Said Iqbal, Erwin Aksa, Putra Jaya, Neno Warisman, Mulan Jamila dan lain-lain.

Semuanya bahas soal quick count yang dirilis pabrik-pabrik polling tadi. Media sosial terpukul. Moral cyber fighter, saksi dan relawan TPS goyang. This is a psywar. Mereka ingin menciptakan kemenangan semu.

Stasiun televisi berulang-ulang umumkan hasil quick count itu. Debat digelar. Jokower eforia. Cyber oposisi gundah. Merunduk. Moral nyaris ambruk. Anehnya, mereka tidak bahas hasil survei CSIS.

Selisih angka 10 persen tidak masuk akal. Paslon 01 dinyatakan menang mutlak di Madura.

Selisih prosentase ini 2 kali lipat dari perolehan Jokowi-JK tahun 2014. Artinya Kiai Maruf lebih hebat dari JK dan Sandiaga Uno yang lebih buruk dari Hatta Rajasa. Dukungan Ustaz Abdul Somad, Habib Rizieq Syihab dan semua ulama tidak punya efek apa pun. Sambutan luar biasa di 1.500 titik blusukan Sandiaga Uno seolah tidak pernah ada. Milenial lebih gandrung kepada Kiai Maruf daripada Sandiaga Uno. What a joke.

Pak Prabowo keluar dan menyampaikan orasi pertama. BPN menunggu hasil resmi KPU, real count internal dan abaikan quick count.

Data C1 dari TPS terus dikumpulkan BPN. Masuk informasi hasil-hasil pendataan dari beberapa lembaga. Data TNI menghasilkan angka 62 persen kemenangan Prabowo-Sandi. Tapi data ini tidak dibuka ke publik. Karena untuk konsumsi internal. Semua orang yang berada di Kertanegara 4 sudah terima informasi ini sedari sore.

Tengah malamnya, data TNI beredar di grup-grup whatsapp. Belum pernah TNI memastikan diri seperti ini.

Tim BPN melaporkan telah memiliki data C1 dari sekitar 350 ribuan TPS. Artinya sekitar 40 persen dari total 809 ribu TPS. Angka Kemenangan Prabowo-Sandi sekitar 62 persen. Matematisnya, angka kemenangan sebesar ini tidak akan berubah banyak saat data C1 dari seluruh TPS telah masuk semuanya.

Berdasarkan data ini, sekitar pukul 8 malam Pak Prabowo keluar dan memberikan pernyataan kemenangan. Pecah suara isak tangis dan takbir semua relawan yang hadir.

But the war is over yet. TKN belum mengaku kalah. Semua relawan pro perubahan mesti kawal. Hindari provokasi.

Seandainya ada anasir tertentu yang tidak mau kalah, dia bisa memilih cara anarkis. Bakar satu objek vital negara, serbu Glodok atau jarah pertokoan.

Aksi ini trigger amuk massa. Tak terkendali. Penguasa bisa merilis Darurat Sipil. Pemilu dianulir, DPR RI dibubarkan.

Tapi harganya tinggi. Belum tentu sukses. Mata internasional sedang fokus memperhatikan Indonesia. Meleset sedikit, Pangkalan Amerika di Darwin bisa bergerak. TNI bersama pilihan rakyat yang 60 persen, yang memilih dengan ikhlas tanpa operasi money politic dan ditakut-takuti issue khilafah.

Dengan angka margin seperti ini, sebaiknya pihak-pihak tertentu segera loncat pagar dan berdiri di barisan rakyat mayoritas itu.


Penulis adalah aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (Komtak).

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Buyback Emas Antam Meroket Rp55.000, Satu Gram Dibanderol Rp2,45 Juta

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:57

Harga Minyak Dunia Merosot Imbas Keputusan Trump

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:56

IHSG Terbang 1,6 Persen Menuju 6.000, Rupiah Ikut Menguat

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:44

PKS: Koalisi Prabowo Akan Tetap Konstruktif Jaga Persatuan Bangsa

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:40

Pengusaha Heri Black Dicecar KPK soal Kontainer Berisi Sparepart di Pelabuhan Tanjung Emas

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:29

10 Kader Ramaikan Bursa Caketum PB SEMMI di Kongres IX Banten

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:17

Berkas Lengkap, Mantan Ketua Ombudsman Hery Susanto Segera Disidang

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:08

Korea Pimpin Reli Bursa Asia

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:54

Galeri 24 Dorong Literasi Investasi Emas Masyarakat di Jakarta Fair 2026

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:47

Manfaatkan Program Nikah Massal dan One Stop Nikah Solution dari Kemenag, Daftar Sekarang!

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:43

Selengkapnya