Berita

Ujang Komarudin/Net

Politik

Pengamat: Bisa Saja Ada Permainan Elite Agar Polemik Surat Suara Tidak Tuntas

SENIN, 15 APRIL 2019 | 10:13 WIB | LAPORAN:

Klaim tim Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) tidak mendapat akses ke tempat yang diduga gudang surat suara tercoblos di Malaysia dirasa aneh.

Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), Ujang Komarudin bahkan mengaku ragu dengan klaim bahwa Polisi Diraja Malaysia tidak memberikan akses bagi KPU dan Bawaslu. Apalagi jika hanya didasari alasan pemerintah negeri Jiran masih emosi dan tersinggung akibat klaim capres petahana, Joko Widodo (Jokowi) tentang pembebasan Siti Aisyah beberapa waktu lalu.

"Tidak ada (kaitannya dengan klaim Jokowi)," katanya saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, Senin (15/4).


Namun demikian, direktur eksekutif Indonesia Political Review (IPR) ini menilai bukan tidak mungkin ada elite di dalam negeri yang bekerja sama dengan yang di Malaysia untuk menutupi kasus tertentu.

"Bisa saja ada kaitannya dengan elite Indonesia yang bermain dengan elite Malaysia, agar masalah tersebut tidak tuntas," duganya.

Sebab menurut dia, semestinya Polisi Diraja Malaysia memberikan akses seluas-luasnya bagi KPU dan Bawaslu untuk menuntaskan kasus yang sempat menghebohkan itu.

"Karena tentu ini bukan hanya merugikan pemilih dan peserta pemilu. Tapi merugikan seluruh rakyat Indonesia. Yang sedang menunggu penyelesaian masalah tersebut," pungkasnya.

Sebelumnya viral video yang memperlihatkan beberapa tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia bersama beberapa pihak menggerebek sebuah gudang yang isinya surat suara tercoblos. Di situ mereka menemukan surat suara sudah dicoblos pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Maruf Amin.

Adapula surat suara calon legislatif yang sudah dicoblos ke beberapa nama caleg. Salah satu diantaranya yakni Caleg Partai Nasdem, Davin Kirana. Davin merupakan putra dari Dutabesar Indonesia untuk Malaysia, Rusdi Kirana.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

UPDATE

JK Menjelma Imam Besar Bagi Kelompok di Luar Kekuasaan

Rabu, 08 April 2026 | 10:17

KPK Benarkan Panggil Pengusaha Rokok Haji Her, Tapi Mangkir dari Pemeriksaan

Rabu, 08 April 2026 | 10:02

Komisi X DPR Tekankan Kesejahteraan Guru dalam Revisi RUU Sisdiknas

Rabu, 08 April 2026 | 10:00

Iran Sebut Trump Setuju Penuhi 10 Syarat Gencatan Senjata

Rabu, 08 April 2026 | 09:56

IHSG Balik ke Level 7.000-an, Rupiah Menguat Usai Tersungkur ke Rekor Terendah

Rabu, 08 April 2026 | 09:54

Akselerasi Penyehatan, Adhi Karya Lakukan "Bersih-Bersih" Neraca

Rabu, 08 April 2026 | 09:40

Manuver JK Tak Perlu Dikhawatirkan

Rabu, 08 April 2026 | 09:33

Imparsial: Sudah Mendesak Dilakukan Revisi UU Peradilan Militer

Rabu, 08 April 2026 | 09:32

Berkas Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Dilimpahkan ke Oditurat Militer

Rabu, 08 April 2026 | 09:21

KPK Soroti Dugaan Aliran Fasilitas ke Faisal Assegaf

Rabu, 08 April 2026 | 09:04

Selengkapnya