Berita

Foto:Net

Politik

Hari-hari Menjelang Pilpres 2019

SENIN, 15 APRIL 2019 | 08:38 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

MINGGU tenang atau lebih tepatnya hari tenang selama tiga hari sebelum dilakukannya pencoblosan kertas suara, ditandai oleh diturunkannya seluruh atribut capres dan/atau cawapres dari ranah publik.

Selain itu, dihentikannya seluruh kegiatan kampanye resmi dan berbagai bentuk kegiatan mempengaruhi calon pemilih di lapangan.

Akan tetapi di bawah permukaan, kampanye terselubung masih terus berlangsung dalam bentuk pemberitaan di media resmi, dan saling kirim meme, gambar, atau film pendek di media sosial ternyata tidak berhenti. Bahkan kiriman pesan dalam berbagai bentuknya terasa saling meningkat, baik yang isinya mendukung kawan ataupun yang menjatuhkan lawan.


Bagi para politisi ada adagium; jurus yang paling menentukan kesuksesan terletak pada kemampuan untuk menyiasati aturan, sepanjang tidak disemprit Bawaslu, semua boleh dilakukan.

Selama ini jurus pamungkas seperti ini dimainkan dalam bentuk serangan fajar, atau serangan dhuha, lalu bermain dengan oknum KPU, serta petugas lapangan yang bertanggung jawab terhadap penghitungan suara. Inilah penjelasan kenapa para caleg yang tidak dikenal masyarakat, bahkan gambarnyapun tak nampak, akan tetapi bisa duduk di Senayan sebagai yang terhormat.

Jurus-jurus konvensional di atas meskipun masih dimainkan, akan tetapi ruangnya semakin sempit. Ia hanya mungkin digunakan di daerah yang masyarakatnya masih miskin, kurang berpendidikan, atau di daerah terpencil yang jauh dari pengawasan publik. Apalagi untuk Pilpres, kini seolah seluruh mata ikut mengawasi dan menjaganya.

Apabila tetap dilakukan, maka akibatnya bisa fatal. Isunya akan cepat sekali menyebar, atau disebarkan oleh lawan, sebagaimana kasus ditemukannya kertas suara yang sudah tercoblos sebelum waktunya yang terjadi di luar negri beberapa hari yang lalu. Ia bisa menjadi backfire yang mendegradasi peringkat yang dengan susah payah dibangun.

Akan tetapi, adanya media sosial yang jumlah pemakainya sudah lebih dari 100 juta, memberikan ruang lebar kreatifitas para petarung di dunia politik yang cukup aman. Wilayah ini sangat terbuka lebar bagi para kandidat yang pandai berselancar dan bisa memanfaatkan instrumen media digital dan/atau media sosial, termasuk bagi mereka yang suka bermain di wilayah abu-abu, dan suka menyerempet rambu-rambu Pemilu. Mengingat rambu-rambu yang ada di medià ini belum cukup memadai untuk mengamankannya.

Merujuk pada berbagai hasil servei yang layak dipercaya terkait Pilpres, dikombinasikan dengan pengamatan realitas di lapangan, maka dapat dikatakan peluang pasangan 01 dan pasangan 02 sama besar.

Benar pasangan 01 masih selalu memimpin dari setiap jejak pendapat yang dilakukan, akan tetapi tren peningkatan dukungan pada pasangan 02 di minggu-minggu terakhir meningkat sangat cepat, ditambah gencarnya sejumlah ulama yang dikenal publik dan memiliki pengikut fanatik memberikan dukungan secara terbuka kepada pasangan 02.

Hal ini tentu dapat mempengaruhi calon pemilih yang masih bimbang dan masa mengambang yang belum menentukan pilihan sampai hari-hari terakhir.

Indikator ketatnya persaingan antara kedua pasang kandidat, juga dapat dilihat dari tingginya antusiasme pemilik suara di luar negri yang dilakukan lebih awal dibanding pemilih di tanah air. Mereka menyadari bahwa suara yang dimilikinya sangat berharga dan ikut menentukan.

Walau angka-angka kongkritnya sampai saat ini belum bisa dilaporkan, mengingat prosesnya masih berlangsung. Berdasarkan informasi yang layak dipercaya, jumlahnya jauh lebih tinggi dibanding Pilpres-Pilpres sebelumnya.

Indikator lain yang juga perlu diperhatikan adalah ramainya media asing dalam memberitakan Pilpres di Indonesia. Jika disederhanakan, maka pada umumnya pemberitaan yang dipublikasikan masih mengunggulkan petahana. Akan tetapi, dalam setiap pemberitaan selalu diikuti oleh pernyataan posisinya yang belum aman, sehingga masih memungkinkan untuk di kejar oleh sang penantang.

Karena itu, hari-hari terakhir menjelang pencoblosan masih ikut menentukan pasangan mana yang akan jadi juara. Disini pula kerja keras, kerja kratif, dan militansi para pendukung, khususnya yang berada di partai-partai pengusung, relawan, maupun tim sukses, dari dua pasangan capres-cawapres diuji.

Yang juga perlu disadari oleh tim sukses kedua belah pihak adalah adanya fenomena sejumlah calon pemilih yang memandang Pilpres kali ini, bukanlah persoalan mana yang lebih baik antara pasangan 01 atau 02. Akan tetapi pilihannya; apakah petahana perlu diteruskan atau diganti.

Jadi menyerupai referendum yang menguji berbagai kebijakan pemerintah selama ini, apakah diterima atau ditolak oleh mayoritas masyarakat, kita saksikan bersama beberapa hari lagi.


Pengamat Politik Islam dan Demokrasi

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

UPDATE

Ketum PDIP Tinjau Kantor Baru Megawati Institute

Selasa, 20 Januari 2026 | 22:14

Polisi Bongkar Jaringan Senpi Ilegal Dipakai Begal, Dijual di Facebook Hingga Tokopedia

Selasa, 20 Januari 2026 | 22:09

Bupati Sudewo dan Tiga Kades Kajen Resmi Ditahan, Digiring ke Rutan Pakai Rompi Oranye

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:53

Wapres Gibran Blusukan ke Pasar Borong Daun Bawang

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:48

Istana Rayakan Prestasi Timnas Maroko sebagai Runner-Up Piala Afrika 2025

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:32

Polisi Sudah Periksa 10 Saksi dan Ahli Terkait Pelaporan Pandji Pragiwaksono

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:29

Komisi II Hanya Fokus Revisi UU Pemilu, Bukan Pilkada

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:22

Thomas Djiwandono Mundur dari Gerindra Usai Dicalonkan Jadi Deputi Gubernur BI

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:10

Bupati Pati Sudewo dan Tiga Kades Patok Harga hingga Rp225 Juta per Jabatan Perangkat Desa

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:00

Daftar 28 Perusahaan Sumatera yang Izinnya Dicabut Prabowo

Selasa, 20 Januari 2026 | 20:56

Selengkapnya