Berita

Joko Widodo/Net

Politik

The Economist: Jokowi Melanggar Prinsip Untuk Menangkan Pilpres

SABTU, 13 APRIL 2019 | 11:03 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Majalah The Economist dalam salah satu artikel terakhir yang diturunkan mengenai pemilihan presiden Indonesia, menyoroti berbagai manuver Joko Widodo dalam upaya memenangkan periode kedua.

Artikel yang diturunkan The Economist itu berjudul “To Win Re-election, Indonesia's President has Betrayed His Principles”.

The Economist mencatat, pada awal masa pemerintahannya Jokowi mengambil beragam kebijakan populer yang disukai rakyat. Salah satunya adalah proyek infrastruktur. Jokowi juga berhasil merebut simpati dengan program dana desa yang sudah diputuskan dalam pemerintahan SBY sebelumnya. Kebijakan populer lainnya adalah di bidang asuransi kesehatan.


Namun demikian, berbagai kebijakan tersebut perlu banyak dikritisi.

Tidak sedikit dari proyek infrastruktur yang dibangun di era Jokowi jauh dari harapan dan tidak jelas statusnya. Hanya beberapa proyek yang digunakan untuk mendongkrak nama Jokowi menjelang pilpres 2019. Misalnya, proyek pembangunan MRT yang diresmikan awal April lalu, juga tol Trans-Jawa yang diresmika Desember 2018.
 
Dalam hal dana desa, perlu digarisbawahi bahwa kepala desa tidak kebal terhadap korupsi. Selain itu masih kerap terjadi maladministrasi dan kompetensi dasar di tingkat desa dalam mengelola dana tersebut.
 
Sementara sektor asuransi kesehatan juga mengalami persoalan yang serius berupa akses masyarakat yang masih rendah dan kualitas layanan yang buruk.

The Economist juga menyoroti karakter pemerintahan Jokowi yang anti kritik. Sepanjang tahun 2018 pemerintah Jokowi melarang 20 unjuk rasa yang diselenggarakan kelompok oposisi 2019GantiPresiden. Belum lagi penangkapan sejumlah aktivis yang dianggap bertentangan dengan pemerintahan Jokowi. Mereka ditangkap atas tuduhan yang lemah.

Thomas Power dari Australian National University (ANU) mencatat, untuk membungkam gerakan oposisi Jokowi menggunakan tangan Jaksa Agung.

The Economist
melihat kasus hukum kerap dijadikan alat politik untuk menyandera kelompok yang berseberangan dengan Jokowi. Ini misalnya terjadi pada pemilik media dan ketua umum Partai Perindo, Hary Tanoesoedibjo, yang mengubah sikapnya karena terjepit kasus penggelapan pajak yang telah berlangsung selama satu dekade.

Hal lain yang juga disoroti The Economist adalah porsi kekuasaan yang diberikan Jokowi kepada kelompok mantan jenderal di era Soeharto.

Dalam berbagai pidato, Jokowi mendorong tentara untuk menindak pihak-pihak yang menurutnya menyebarkan informasi palsu tentang dirinya secara online.
 
Di bulan Februari lalu Jokowi melemparkan wacana memberikan pekerjaan pelayanan sipil untuk pensiunan tentara.

Menurut The Economist, perubahan terbesar Jokowi adalah saat memilih Maruf Amin sebagai calon wakil presiden.

Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Helikopter Pemadam Karhutla BNPB Jatuh di Sungai Barito

Minggu, 08 November 2026 | 14:30

Putin Pastikan Rusia-AS-Ukraina Kembali Berunding Pekan Depan di Abu Dhabi

Minggu, 08 November 2026 | 14:26

Plt Bupati Klaten Dicecar KPK soal Penerimaan Uang Hamenang dan Era Sebelumnya

Minggu, 08 November 2026 | 14:19

Al Aqsha Travel Gelar Akademi Marketing Haji untuk Perkuat Kompetensi Mitra

Minggu, 08 November 2026 | 14:02

Bahlil Ancam Tempuh Jalur Hukum Gegara Namanya Dikaitkan dengan Isu Penyadapan Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 13:47

Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Jepang, 20 Orang Terluka

Minggu, 08 November 2026 | 13:42

Penyadapan Presiden Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tidak Stabil

Minggu, 08 November 2026 | 13:28

Green Wakaf, Memperluas Manfaat Wakaf untuk Menjaga Kelestarian Alam

Minggu, 08 November 2026 | 13:08

Pengamat: Peran Seskab Teddy Strategis dalam Komunikasi Politik Pemerintah

Minggu, 08 November 2026 | 13:02

AS Siapkan Rp362 Miliar untuk Pembocor Informasi Nuklir Iran

Minggu, 08 November 2026 | 12:40

Selengkapnya