Berita

Jokowi-Prabowo/Net

Publika

Marahnya Jokowi Dan Prabowo

SELASA, 09 APRIL 2019 | 13:48 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

DI Stadion Kridosono Yogyakarta, Jokowi dan Pa Prabowo merilis intense emotional message. High pitch. Marah.

Tidak serupa dan juga enggak sama. Jokowi marah karena merasa dirinya difitnah, direndahkan dan dihujat. Dia enggak tahan. Dia ingin lawan. "Ingat sekali lagi, akan saya lawan!" ancamnya.

Intonasi Pa Prabowo meninggi saat bicara seputar antek-antek asing dan kinerja buruk BUMN. Dia gregetan. Geram. Exploitation de l'homme par l’homme ada di negerinya. Ada oknum dalam polisi dan TNI.


Everyone has a breaking point. Kesabaran ada batasnya. Marahnya Jokowi bersifat self-centered. Pa Prabowo bicara nation-wide.

Dalam psikologi, Jokowi's wrath masuk kategori "Hasty and sudden anger" karena ditrigger oleh impulse for self-preservation.

Sedangkan expresi Pa Prabowo disebut "Settled and deliberate anger" i.e. reaksi yang dihasilkan oleh perceived deliberate harm atau unfair treatment by others.

Sudah 70 tahun Indonesia merdeka. Tapi rakyatnya miskin. Asing mengeksploitasi sumber daya alam. Pejabat korup. Tebang pilih hukum.

"Anger becomes righteous when you use it to defend the rights of another, without nursing any selfish motive," kata Dada J. P. Vaswani.

Jokowi marah karena rakyat protes. Dia merasa kritik dan protes adalah hinaan, hujatan dan fitnah.

"Anger is designed to protect the self, and, in doing so, results in a greater willingness to take risks," kata Lerner & Keltner.

Demi protect the self, Jokowi akan melakukan greater willingness to take risks. Yang dia lawan ya rakyatnya sendiri.

To protect the law and the nation, Pa Prabowo juga akan melakukan greater willingness to take risks. Yang dia lawan ya pihak asing, exploiters, komprador dan koruptor lokal.

Ada konsensus di antara ahli psychology. Actually, anger is a good emotion that sometimes is misunderstood or irrationally misused.

Jokowi's irrational misused of anger tampak mengerikan. Bila dikasih kekuasaan lebih, dia berpotensi menjadi tiranik. Just like Nero.

Semua protes rakyat yang diinterpretasi Jokowi sebagai fitnah dan hujatan berlangsung selama 4,5 tahun. Artinya, tidak ada evalusi diri dan internal correction. Enggak ada perubahan. Jokowi tetap melakukan apa yang menjadi sumber gugatan.

Listen Jokowi, As Aristotle has said, "You are what you repeatedly do".

Penulis adalah aktivis Tionghoa.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Pembongkaran Tiang Monorel Mangkrak Demi Penataan Kawasan

Minggu, 11 Januari 2026 | 07:59

Lahan Huntap Korban Bencana Harus Segera Dituntaskan

Minggu, 11 Januari 2026 | 07:52

Ini Identitas Delapan Orang dan Barbuk OTT Pejabat Pajak Jakut

Minggu, 11 Januari 2026 | 07:12

Larangan Tambang Emas Rakyat, Kegagalan Baca Realitas

Minggu, 11 Januari 2026 | 06:58

Pelapor Pandji Dianggap Klaim Sepihak dan Mencatut Nama NU

Minggu, 11 Januari 2026 | 06:30

Romantisme Demokrasi Elektoral dan Keliru Baca Kedaulatan

Minggu, 11 Januari 2026 | 06:08

Invasi AS ke Venezuela Bisa Bikin Biaya Logistik Internasional Bengkak

Minggu, 11 Januari 2026 | 05:45

Khofifah Ajak Pramuka Jatim Sukseskan Ketahanan Pangan dan MBG

Minggu, 11 Januari 2026 | 05:23

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

Klok Dkk Siap Melumat Persija Demi Amankan Posisi

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:40

Selengkapnya