Berita

Rizal Ramli saat diskusi di UGM/Net

Politik

RR: Argumen TKN Samakan Infrastruktur Indonesia Dan China Ngawur Berat

JUMAT, 05 APRIL 2019 | 00:20 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Pembangunan infrastruktur di Indonesia tidak bisa dilakukan secara massif. Ini lantaran pertumbuhan ekonomi di Indonesia masih sangat kecil.

Penegasan itu sebagaimana disampaikan ekonom senior DR Rizal Ramli dalam talkshow Bedah Program Capres-Cawapres #5 Fisipol UGM di Sleman, Kamis (4/4).

Dalam diskusi ini, Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid itu menilai argumen Tim Kampanye Nasional (TKN) yang diwakili Eva Kusuma Sundari dan Inas Nasrullah Zubir tidak cerdas.


Sebab, mereka menilai untung rugi dari pembangunan infrastruktur tidak perlu dipermasalahkan selama hal itu bertujuan mensejahterakan rakyat.

Bagi Rizal argumen itu tidak cerdas. Apalagi, analogi yang digunakan keduanya juga tidak relevan. Sebab mereka membandingkan kebutuhan pembangunan infrastruktur di Indonesia sama dengan di China.

"Itu retorika yang tidak cerdas, dia (kubu 01) bandingkan sama China, ngawur berat. China itu pertumbuhan ekonominya 12 persen selama 25 tahun. Jadi kalau dia (China) bangun infrastruktur jor-joranan nggak ada masalah karena ekonominya kan 12 persen. Pasti akhirnya uangnya balik,” jelas mantan Menko Kemaritiman itu.

Dia menguraikan bahwa kondisi pertumbuhan ekonomi di Indonesia berbeda jauh dengan China. Indonesia belum mampu mencapai dua digit pertumbuhan ekonomi, bahkan cenderung stagnant di 5 persen.

Oleh karena itu, Rizal menginginkan pembangunan infrastruktur menyesuaikan perekonomian negara.

"Lha ini ekonomi (pertumbuhan ekonomi Indonesia) bisanya cuma 5 persen, mandek di 5 persen mau bangun (infrastruktur) jor-joran, akhirnya (pakai) uang negara, jangan dong," kata pria yang akrab disapa RR itu.

Proyek infrastruktur ambisius tersebut, sambungnya, hanya menguntungkan bagi pada kalangan orang kaya.

“Tol Pantura rugi Rp 300 miliar setahun. Terus yang lewat jalan tol kebanyakan mobil pribadi dan yang truk malah lewat jalan biasa, masak (mobil pribadi) disubsidi Rp 1 miliar setiap hari selama 10 tahun," pungkasnya.

Populer

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Fenomena, Warga Sumsel Ramai-Ramai Siarkan Banjir Secara Live

Minggu, 05 April 2026 | 21:48

Besok Jusuf Kalla Laporkan Rismon Sianipar ke Bareskrim Polri

Minggu, 05 April 2026 | 21:29

Kejagung Periksa Kajari Karo Danke Rajagukguk

Minggu, 05 April 2026 | 20:57

Rekan Akmil Kenang Dedikasi Mayor Zulmi di Medan Tugas

Minggu, 05 April 2026 | 20:47

LPSK: RUU PSDK Harus Perkuat SIstem Perlindungan Saksi dan Korban

Minggu, 05 April 2026 | 20:31

JK: Saya Kenal Roy Suryo, Tapi Tak Pernah Danai Isu Ijazah Jokowi

Minggu, 05 April 2026 | 19:58

Simpan Telur di Kulkas, Dicuci Dulu atau Tidak?

Minggu, 05 April 2026 | 19:56

BRIN Ungkap Asa-Usul Cahaya Misterius di Langit Lampung

Minggu, 05 April 2026 | 19:15

Mayor Anumerta Zulmi Salah Satu Prajurit Terbaik Kopassus

Minggu, 05 April 2026 | 18:51

Terendus Skema Gulingkan Prabowo Lewat Rekayasa Krisis dan Kerusuhan

Minggu, 05 April 2026 | 18:33

Selengkapnya