Berita

Foto:RM

Politik

Demokrat Masih Ragu "Serangan Fajar" Bowo Sidik Sebanyak Rp 8 Miliar Hanya Untuk Pileg

RABU, 03 APRIL 2019 | 10:14 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

. Ditemukannya stampel "cap jempol" pada ratusan ribu amplop "serangan fajar" milik tersangka suap distribusi pupuk Bowo Sidik Pangarso yang akan digunakan untuk Pileg 2019 diduga erat kaitannya dengan Pilpres 2019.

Sebab, jumlah amplop yang totalnya mencapai Rp 8 miliar lebih dirasa tidak rasional jika hanya untuk kepentingan Pileg semata.

Hal itu diungkapkan Kepala Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (3/4).


"Kalau melihat jumlahnya yang sampai 400 ribu amplop, saya pikir berlebihan juga kalau hanya untuk sekedar Pileg. Tentu mungkin ini bisa saja terkait dengan Pilpres," kata Ferdinand.

Bowo Sidik adalah calon legislatif DPR RI dari Partai Golkar di daerah pemilihan (Dapil) Jawa Tengah II. Pada Pilpres kali ini, Golkar mengusung paslon Jokowi-Maruf.

Selain karena jumlahnya yang fantastis, lanjut Ferdinand, Bowo Sidik dan Jokowi-Maruf sama-sama memiliki nomor urut 1 dan 01.

"Mekanisme 'serangan fajarnya' semacam ditugasi atau inisiatif sendiri, itu kita tidak tahu?" ujar Ferdinand.

Jubir BPN Prabowo-Sandi ini menyesalkan perbuatan amoral yakni politik uang yang dilakukan oleh kubu koalisi Jokowi-Maruf secara vulgar dan akhirnya tertangkap basah oleh KPK. Karenanya, dia menduga praktik seperti ini tidak hanya dilakukan Bowo Sidik, masih ada pihak lain yang belum terungkap.

"Saya kuatir ini bukan satu-satunya kejadian tetapi ada yang lain yang tidak ketahuan," ucap Ferdinand.

Lebih lanjut, anak buah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini meminta KPK segera mengumumkan kepada publik dan tidak berhenti pada politisi Golkar Bowo Sidik saja. Apa motif apa di balik serangan fajar dan menyiratkan simbol-simbol cap jempol itu harus diungkap.

"Sebaiknya KPK menelusurinya motifnya apa. Kalau dibuka secara terbuka nanti kita akan tahu menduga pihak-pihak lain yang juga melakukan hal yang sama," demikian Ferdinand.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Roy Suryo: Gibran Copy Paste Jokowi Bahkan Lebih Parah

Kamis, 30 April 2026 | 01:58

Kompolnas dan Agenda Reformasi Aparat Sipil Bersenjata

Kamis, 30 April 2026 | 01:45

Polemik Dugaan Suap Pendirian SPPG di Sulbar Dilaporkan ke Polisi

Kamis, 30 April 2026 | 01:18

HNW: Bila Anggota OKI Bersatu bisa Kendalikan Urat Nadi Perdagangan Dunia

Kamis, 30 April 2026 | 00:55

Menhan: Prajurit jadi Motor Pembangunan Selain Jaga Kedaulatan

Kamis, 30 April 2026 | 00:37

Satgas OJK Blokir 951 Pinjol Ilegal Ungkap Deretan Modus Penipuan Keuangan

Kamis, 30 April 2026 | 00:19

Investasi Bodong dan Bias Sistem Keuangan

Rabu, 29 April 2026 | 23:50

Pelaporan SPT 2025 Masih di Bawah Target Jelang Deadline

Rabu, 29 April 2026 | 23:36

Komunikasi Publik Menteri PPPA Absurd dan Tidak Selesaikan Persoalan!

Rabu, 29 April 2026 | 23:09

Pemanfaatan Listrik Harus Maksimal Dongkrak Kemandirian Desa

Rabu, 29 April 2026 | 22:43

Selengkapnya