Berita

Jokowi dan kereta cepat/Net

Politik

Bloomberg: Indonesia Negara Berikutnya Yang Tolak China Melalui Pemilu

SELASA, 02 APRIL 2019 | 00:19 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Investasi China yang masif ke sejumlah negara acapkali menuai penolakan. Di Indonesia, investasi negeri Tirai Bambu turut menjadi isu yang memanas dibahas, terlebih jelang Pilpres 2019.

Media asing, Bloomberg bahkan menerbitkan artikel berjudul “Indonesia May Be Next Asian Country to Spurn China in Election” pada Minggu (31/3). Artikel ini menjelaskan kemungkinan rakyat Indonesia menolak kehadiran China dalam pemilu.

Artikel yang ditulis Karlis Salna dan Arys Aditya itu menyoroti investasi pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dalam mukadimah.


Proyek kereta sepanjang 150 km dengan nilai investasi 6 miliar dolar AS itu sedianya akan menjadi mercusuar bagi pembangunan infrastruktur di era Joko Widodo memimpin. Tapi kini justru berubah menjadi malapetaka karena terjadi keterlambatan pembangunan.

Celakanya, lingkaran Istana telah menyatakan keprihatinan atas transparansi keuangan yang diberikan China. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Thomas Lembong menyebut proyek ini mewakili segala sesuatu yang salah dalam proyek ambisius China, One Belt One Road (OBOR) atau yang belakangan bernama Belt and Road Initiative (BRI).

"Itu buram dan tidak transparan, bahkan kita anggota kabinet mengalami kesulitan dalam mendapatkan data dan informasi," kata Lembong.

Hal ini menjadi peluru bagi Prabowo Subianto yang menjadi rival Jokowi untuk memainkan sentimen anti investasi China. Apalagi, jika berkaca dari negara-negara tetangga yang telah lebih dulu menolak China sebagai isu di pemilu.

Seperti di Malaysia, Perdana Menteri Mahathir Mohamad memanfaatkan sentimen tersebut untuk mengalahkan petahana Najib Razak. Dalam kampanyenya, Mahathir berjanji akan meninjau investasi China, termasuk jalur kereta api berkecepatan tinggi.

Bergeser sedikit ke barat, Myanmar juga telah melakukan peninjauan kembali mengenai harga pelabuhan yang pembangunannya didukung China.

Selain itu, oposisi Thailand juga melakukan hal yang sama. Mereka berjanji akan meninjau ulang investasi China saat berhasil mengambil alih tampuk pimpinan.

Dalam Pilpres 2019, Prabowo secara tegas menyambut baik investasi China. Tapi dengan catatan, investasi itu harus menguntungkan rakyat Indonesia.

Dia telah bersumpah untuk meninjau proyek kereta api berkecepatan tinggi dan juga untuk mendapatkan kesepakatan perdagangan yang lebih adil dengan Beijing.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Tak Ada Pintu Setop Perang Iran versus AS-Israel

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:02

Prabowo di Tengah Massa Buruh Tak Lagi Hadapi Kritik, tapi Terima Dukungan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:00

Pertama Kali Presiden RI Dielu-elukan Buruh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:28

Polri Apresiasi Massa Buruh Tertib

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:20

Perpres Ojol 92 Persen Bisa Picu Kenaikan Tarif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:01

Jumhur Hidayat Jadi Menteri LH: Politik Merangkul untuk Mengendalikan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:42

Waspada Gelombang Tinggi saat Libur Panjang Pekan Ini

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:19

Kaji Ulang Wacana Pemangkasan Jaminan Kesehatan Aceh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:00

Perbedaan Lokasi May Day Tak Perlu Diperdebatkan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:32

Perpina DKI Serukan Kepemimpinan Perempuan Berdaya

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:06

Selengkapnya