Berita

Bom waktu/Ilutrasi

Politik

Agama Untuk Jatuhkan Lawan Politik, SETARA: Ini Generasi Saling Lapor

MINGGU, 31 MARET 2019 | 18:58 WIB | LAPORAN:

Sedikitnya tercatat selama tahun 2018 terdapat 25 kasua penodaan agama yang memiliki potensi untuk menjatuhkan lawan politik antar dua calon presiden.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua SETARA Institute Bonar Tigor Naipospos.

Bonar mengatakan, dari total 25 kasus penodaan agama, 23 kasus dilaporkan oleh individu ke kepolisian, dan dua kasus lainnya telah diputuskan yakni kasus penistaan agama Arnoldy Bahari di Pandeglang dan Meliana di Medan.


"Tapi dari sebagain besar dari 23 kasus yang terjadi itu itu lebih banyak adalah coba perebutan atau pertarungan kelompok identitas," ungkap Bonar dalam konferensi pers Melawan Intoleransi Di Tahun Politik, Kondisi Kebebasan Beragama (KKB) Berkeyakinan dan Pemajuan Toleransi di Indonesia Tahun 2018, di Hotel Ibis, Thamrin, Jakarta, Minggu (31/3).

"Jadi kelompok-kelompok tertentu yang kemudian mengalami ketersinggungan dan merasa bahwa ini bisa dimanfaatkan untuk menundukkan lawan politiknya, digunakan laporan itu," tutur dia.

 Bonar menilai, tindakan kepolisian telah bekerja secara profesional dan melihat secara sungguh-sungguh atas kasus penodaan agama tersebut. Namun disisi lain ada hal yang dikhawatirkan, dimana adanya kasus-kasus tersebut akan menjadikan generasi saling lapor melapor.

"Kalau polarisasi terus terjadi dan kemudian politik identitas digunakan oleh pihak-pihak yang sedang bersaing di ruang publik, kita akan melihat bahwa nanti akan disebut generasi pelapor, saling lapor melapor satu sama lain untuk menundukkan atau menyudutkan lawan politiknya," tandasnya.

Bonar menyampaikan, pemerintah sebaiknya  mengambil tindakan konkret yang strategis dalam memimpin promosi toleransi dan jaminan hak atas KBB.

Hal ini harus diwujudkan demi meruntuhkan supremasi intoleransi, mencegahnya berulangnya tindakan-tindakan pelanggaran terhadap kebebasan beragama, dan menegaskan sikap zero tolerance terhadap segala tindakan yang bertentangan dengan kebhinekaan pancasila dan konstitusi.

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

UPDATE

Parlemen dan Pemerintah Sepakat Lanjutkan Pembahasan RUU Daerah Kepulauan

Kamis, 25 Juni 2026 | 18:09

Caddy Diduga Dianiaya di Lapangan Golf Tangerang, Polisi Diminta Turun Tangan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:38

Menkes: AI Tak Bisa Gantikan Sentuhan Dokter kepada Pasien

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:29

TNI Turun ke Sawah, DPR: Bukan Dwifungsi tapi Optimalisasi

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:17

RI Berkomitmen dalam Transisi Energi Melindungi Lingkungan dan Pekerja

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:15

Trump Sebut Erdogan Nyaris Seret Turki ke Perang Iran

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:09

Indonesia Masih Jadi Destinasi Investasi Menjanjikan di Kawasan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:04

Peran Bos Maktour Travel Fuad Hasan Dikuliti KPK, Bakal Tersangka?

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:00

Dokter Tifa Jalani Sidang Perdana di PN Jaktim 2 Juli

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:50

JMSI Desak Pengembalian Akun IG Hensa yang Hilang Usai Kritik MBG

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:46

Selengkapnya