Berita

Mark Zuckerberg/Net

Dunia

CEO Facebook: Pemerintah Harus Berperan Aktif Mengatur Internet

MINGGU, 31 MARET 2019 | 11:20 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

CEO Facebook Mark Zuckerberg menyerukan agar pemerintah memainkan peran lebih aktif dalam mengatur Internet.
 
"Saya percaya kita perlu peran yang lebih aktif untuk pemerintah dan regulator," tulis Zuckerberg dalam sebuah artikel di The Washington Post akhir pekan ini (Sabtu, 30/3).
 
"Dengan memperbarui aturan untuk Internet, kita dapat melestarikan apa yang terbaik tentang hal itu, kebebasan bagi orang untuk mengekspresikan diri mereka dan bagi wirausahawan untuk membangun hal-hal baru, sambil juga melindungi masyarakat dari bahaya yang lebih luas," sambungnya.
 

 
Zuckerberg berpendapat, peraturan baru diperlukan di empat bidang, yakni konten berbahaya, perlindungan pemilu, privasi dan portabilitas data.
 
Dalam bidang konten berbahaya, Zuckerberg mengatakan dia setuju dengan anggota parlemen yang berpendapat bahwa Facebook memiliki terlalu banyak kekuasaan atas pidato dan pihak ketiga dapat menetapkan standar pada distribusi bahan berbahaya dan mengukur perusahaan terhadap standar itu.
 
Dalam bidang perlindungan pemilu, Zuckerberg mencatat bahwa undang-undang yang ada di negara-negara saat ini difokuskan pada kandidat dan pemilihan daripada masalah politik yang memecah belah. Karena itulah dia mendesak undang-undang untuk diperbarui untuk mencerminkan realitas ancaman.
 
"Sudah waktunya untuk memperbarui aturan-aturan ini untuk mendefinisikan tanggung jawab yang jelas bagi orang-orang, perusahaan dan pemerintah di masa depan," sambungnya.
 
Dalam bidang privasi pengguna, Zuckerberg mengatakan ia akan mendukung lebih banyak negara mengadopsi aturan yang sejalan dengan Peraturan Perlindungan Data Umum Uni Eropa, yang memberi regulator kekuatan untuk memberi sanksi kepada organisasi yang gagal mematuhi standar keamanan yang tinggi ketika memproses data pribadi. Dia juga menyerukan regulasi untuk menjamin portabilitas data antar layanan.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Kasus Viral Foto AI di Kalisari Cermin Lemahnya Pengawasan Aparatur

Rabu, 08 April 2026 | 00:14

MSP Raih Penghargaan Proper Emas dan Green Leadership Proper dari KLH

Rabu, 08 April 2026 | 00:04

Polri Ungkap Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Kerugian Capai Rp1,26 Triliun

Selasa, 07 April 2026 | 23:27

Pengawasan Hutan Diperketat Antisipasi El Nino Ekstrem

Selasa, 07 April 2026 | 23:10

Demokrasi seharusnya Mengoreksi, bukan Meruntuhkan Legitimasi Negara

Selasa, 07 April 2026 | 23:00

HKTI Beri Pendampingan Peternak Lokal yang Dirugikan Perusahaan Besar

Selasa, 07 April 2026 | 22:58

Pulihkan Situasi Halmahera Tengah, Masyarakat Diminta Dukung TNI-Polri

Selasa, 07 April 2026 | 22:33

Dony Oskaria: 15 BUMN Logistik Digabung Bulan Depan

Selasa, 07 April 2026 | 22:19

GREAT Institute Dorong Prabowo Reshuffle 50 Persen Menteri di Kabinet

Selasa, 07 April 2026 | 21:59

Menko Yusril soal Kasasi Delpedro Dkk: Bisa Saja MA Putus NO

Selasa, 07 April 2026 | 21:42

Selengkapnya