Berita

Liga Arab/Net

Dunia

Menanti Sikap Liga Arab Terkait Golan

SABTU, 30 MARET 2019 | 14:59 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

LIGA Arab akan mengambil sikap terkait Keputusan Presiden Amerika Donald Trump yang mendukung keinginan Israel untuk menganeksasi dataran tinggi Golan milik Suriah, melalui KTT Liga Arab yang akan dilaksanakan di Tunis, Tunisia, pada Ahad (31/3/2019).

Meskipun seluruh anggotanya yang berjumlah 22 negara Arab diperkirakan dan berkepentingan untuk hadir, akan tetapi sebagian besar pengamat Timur Tengah merasa skeptis pertemuan ini akan menghasilkan keputusan atau sikap yang akan mempengaruhi atau mengubah keadaan.

Ada sejumlah alasan yang menyebabkan skeptifisme terhadap organisasi yang memayungi seluruh bangsa Arab ini. Pertama, KTT diadakan untuk membahas banyak masalah, seperti situasi di Yaman, Libia, dan kondisi dalam negeri Suriah. Jadi masalah Golan bukan satu-satu isu, bahkan untuk sejumlah peserta masalah dataran tinggi Golan boleh jadi bukan isu utama. Apalagi Aljazair dan Sudan saat ini menghadapi tuntutan demokratisasi dari rakyatnya sendiri yang bermuara pada tuntutan pergantian rezim.


Kedua, bagi Saudi Arabia dan UEA mungkin termasuk Oman, masalah membangun poros Anti Iran lebih penting daripada masalah Golan. Apalagi untuk membangun poros ini memerlukan dukungan Amerika. Sementara bila mengangkat masalah Golan terlalu tinggi bisa diartikan sebagai mendukung Suriah, yang implikasinya justru memperkuat Iran yang  menjadi penopang utama rezim yang berkuasa di Suriah saat ini.

Ketiga, dalam sejarahnya Liga Arab tidak pernah berhasil menyatukan sikap secara bulat. Satu-satunya prestasi politik dan/atau ekonomi yang berdampak besar dan memberikan keuntungan anggotanya yang dinikmatinya sampai sekarang adalah embargo minyak atau dikenal juga sebagai minyak sebagai senjata. Peristiwa ini terjadi mengiringi perang Arab-Israel tahun 1973 yang bertujuan untuk menekan negara-negara pendukung Israel. Akibatnya, negara-negara industri di Eropa dan Amerika mengalami krisis minyak yang berujung pada krisis ekonomi. Lebih jauh lagi harga minyak meningkat berlipat-lipat dalam rentang waktu yang sangat cepat dan sulit diturunkan kembali sampai sekarang.

Keempat, persoalan kesukuan yang juga dikenal dengan sebutan kabilah atau kabail yang mendominasi berbagai keputusan politik bangsa Arab menyebabkannya sulit sekali bersatu dalam menghadapi persoalan bersama. Lebih dari itu, bangsa ini mudah sekali dipecah belah. Hanya dengan Islam di era Nabi Muhammad dan penerusnya Khalifahurasyidin persatuan dalam arti sebenarnya terjadi, dan sesudahnya tak pernah bisa terjadi lagi. Bahkan belakangan kabilah-kabilah terpecah lagi menjadi kelompok keluarga yang dikenal dengan istilah clan, seperti bani Umaiyah, bani Abbasiyah, dan bani Saud yang saat ini berkuasa di Saudi Arabia.

Kelima, Israel adalah bangsa yang hanya mengenal logika kekuatan. Karena itu, jika bangsa Arab hanya berhenti sampai pada penggunaan kekuatan logika, apalagi hanya berhenti pada pernyataan politik yang tidak diikuti dengan tindakan nyata, maka yang akan terjadi bak pepatah "anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.

Sampai kapan bangsa besar yang pernah mengibarkan panji-panji Islam yang sangat dikagumi masyarakat dunia karena prestasinya terhadap peradaban, sumbangannya terhadap kemajuan sain dan teknologi ini, terus terombang-ambing dan asyik bertikai sendiri, sehingga begitu mudah dipermainkan oleh Israel yang sangat kecil, baik dalam arti jumlah penduduk maupun luas wilayahnya? Wallahua'lam.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Serentak di Tiga Lokasi, KPK Periksa Pegawai Kemenag dan Bos Travel

Jumat, 17 April 2026 | 14:16

Waspadai Phishing dan Malware, BNI Tekankan Keamanan BNIdirect

Jumat, 17 April 2026 | 14:15

Bitcoin Stabil di Level 74.900 Dolar AS

Jumat, 17 April 2026 | 14:11

Ekonomi Jatim Tumbuh 5,33 Persen di 2025, Didongkrak Sektor Manufaktur

Jumat, 17 April 2026 | 14:05

KPK Periksa Direktur Kepatuhan Bank Papua dalam Kasus Korupsi Dana Operasional Papua

Jumat, 17 April 2026 | 14:01

Rekrutmen Manajer Kopdes Tak Boleh Ada Titipan

Jumat, 17 April 2026 | 13:50

Kasus Chat Cabul Mahasiswa Merebak di IPB, DPR Minta Kampus Bertindak Tegas

Jumat, 17 April 2026 | 13:41

Penahanan Harga BBM Non-Subsidi Dikhawatirkan Ganggu Kesehatan Fiskal

Jumat, 17 April 2026 | 13:39

PPIH Ujung Tombak Keberhasilan Penyelenggaraan Haji

Jumat, 17 April 2026 | 13:31

KPK Temukan Dapur MBG Tak Layak, Kasus Keracunan Jadi Alarm Serius

Jumat, 17 April 2026 | 13:22

Selengkapnya