Berita

Pengamat Politik Hendri Satrio/RMOL

Hukum

Pengamat: Amplop Serangan Fajar Harus Dibuka Agar Rakyat Tidak Termakan Fitnah

SABTU, 30 MARET 2019 | 14:41 WIB | LAPORAN:

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) didesak untuk mengungkap secara gamblang  temuan OTT berupa ratusan ribu amplop yang diduga digunakan untuk serangan fajar pada Pemilu 17 April 2019 mendatang.

"Ya buka aja semua sehingga menjadi terang benderang kan kasusnya nggak ada fitnah juga kasian kan kubu 01 di selama ini difitnah gara-gara ada amplop ini kan diduga," jelas Pengamat Politik Hendri Satrio saat di hubungi Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu (30/3).

Bila dibiarkan, jelasnya, bisa saja ini merugikan salah satu paslon di Pilpres. Apalagi info yang beredar adanya cap jempol dari salah satu paslon.


Namun jika rumor tersebut benar adanya, maka pihak KPK maupun pihak terkait perlu memberikan klarifikasi kepada publik.

"Ada selentingan ada cap jempolnya, jadi dibuka saja semua. Jadi enggak ada fitnah, kalau tandanya itu untuk 01 ya tinggal ditanyain. Apakah ini benar buat Pilpres atau tidak? Kan gitu kan," tegasnya.

Sebelumnya, Ketua KPK, Agus Rahardjo memastikan amplop 'serangan fajar' senilai Rp 8 miliar lebih yang diamankan bersamaan dengan penangkapan calon anggota DPR RI petahana dari Partai Golkar, Bowo Sidik Pangarso tidak ada simbol tertentu yang mengarah terkait Pilpres 2019.

Namun demikian, pihaknya belum memeriksa secara keseluruhan 84 kardus yang berisi 400 ribu amplop itu. Semua pihak diminta untuk menunggu hasil penyelidikan dari tim KPK.

"Enggak, enggak ada (simbol capres). Saya waktu dilaporin pertama kali enggak ada. Tapi saya tanyakan lagi pada penyidik ya," ujar Agus kepada wartawan di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Jumat (29/3).

Banyak desakan agar 400 ribu amplop dalam 84 kardus senilai Rp 8 miliar lebih itu harus dibuka satu per satu. Pasalnya, diduga ada stempel atau cap jempol dalam amplop yang mengarahkan masyarakat untuk pilih capres-cawapres tertentu. 

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Fenomena Embun Upas Dieng Muncul Lagi, Ini Perkiraan Waktu Puncaknya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:13

Pidato Bahlil di Depan Prabowo: Kekuasaan Itu Harus Direbut!

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Kejagung Pelajari Pengajuan Justice Collaborator Sony Sonjaya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Ranking FIFA Indonesia Naik Lagi Usai Kalahkan Mozambik 1-0, Kini di Posisi 118 Dunia

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:57

Prabowo Dorong HIPMI Cetak Pengusaha Patriotik yang Peduli Rakyat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:51

Bupati Muara Enim Suap ASN BPK untuk Tutup Temuan Audit

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:41

Kelas Menengah Paling Terdampak Kenaikan Pertamax

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Bedah Rumah Warga, Wujud Nyata Pemasyarakatan Berdampak untuk Masyarakat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Prabowo Sering ke Luar Negeri karena Indonesia Disukai Banyak Negara

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:11

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Selengkapnya