Berita

Shiskha Prabawaningtyas/RMOL

Politik

Kebijakan Keberlanjutan Penting Bagi Indonesia Dalam Berdiplomasi

SABTU, 30 MARET 2019 | 01:40 WIB | LAPORAN:

Kebijakan keberlanjutan atau policy menjadi hal penting yang harus dilakukan pemerintah Indonesia dalam melaksanakan diplomasi.

Di mana, kebijakan yang sudah ditetapkan harus berfungsi sebagai tanda komitmen.

Hal itu disampaikan Kepala Program Studi Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Paramadina Shiskha Prabawaningtyas dalam diskusi Evaluasi Kinerja Dipomasi Pemerintahan Presiden Jokowi di Paramadina Graduate School, Jakarta, Jumat (29/3).


"Kita me-refer pada pemerintahan sebelumnya, kita bicara tentang nawacita. Mungkin kalau saya melihat isu tentang diplomasi maritim identitas sejauhmana kemudian apa yang sudah dilakukan dan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Seringkali persoalan kebijakan adalah persoalan keberlanjutan policy," jelasnya.

"Kalau kemudian kita sudah dalam tahap negara kepulauan terbesar, negara maritim dan ketika di negara ke pemerintahan Jokowi sudah menjadi prioritas utama harusnya kita pastikan policy itu sudah on going. Jangan nanti perubahan pemerintahan policy-nya tidak berjalan, isu keberlanjutan tentang diplomasi masih harus diperkuat," papar Shiskha.

Dia juga mengkritik bahwa pemerintah Indonesia harus tetap fokus dalam diplomasi ekonomi di masa depan. Terlebih dengan kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mempengaruhi ekonomi dunia.

"Kalau kita bicara soal diplomasi ekonomi ada perubahan konselasi sekarang, kondisi AS lagi seperti itu. Jadi saya kira isu-isu tentang sejauhmana kemudian fokus diplomasi ekonomi ke depan," jelas Shiskha.

Keterlibatan aktif Indonesia juga harus diperhatikan. Komitmen Indonesia untuk perdamaian harus diperkuat, dan fokus komitmen perdamaian tersebut bukanlah untuk kepentingan nasional.

"Komitmen kita tentang isu Palestina, komitmen kita terkait penyelesaian konflik, terorisme, bagaimana komitmen kita harus diperkuat. Dan kritik terbesar seringkali kebijakan luar negeri itu adalah dari kepentingan nasional," imbuh Shiskha.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

UPDATE

Austria Tolak Wilayah Udaranya Dipakai AS untuk Serang Iran

Jumat, 03 April 2026 | 00:15

Memutus Mata Rantai Rabun Jauh Birokrasi

Kamis, 02 April 2026 | 23:50

PHE Tampilkan Inovasi Hulu Migas di Ajang Offshore Internasional

Kamis, 02 April 2026 | 23:21

Spirit ‘Kurban’ Prajurit UNIFIL

Kamis, 02 April 2026 | 22:57

Pencarian Berakhir Duka, Achmad Ragil Ditemukan Meninggal di Sungai Way Abung

Kamis, 02 April 2026 | 22:39

Robert Priantono Dicecar KPK soal Pungutan Tambang Kukar

Kamis, 02 April 2026 | 22:01

China Ajak Dunia Bersatu Dukung Inisiatif Perdamaian di Wilayah Teluk

Kamis, 02 April 2026 | 21:42

DPR: BPS Bukan Sekadar Pengumpul Data, tapi Penentu Arah Pembangunan

Kamis, 02 April 2026 | 21:31

78 Pejabat Pemkot Surabaya Dirotasi, Ada Apa?

Kamis, 02 April 2026 | 21:18

OJK Siap Luncurkan ETF Emas Akhir April 2026

Kamis, 02 April 2026 | 21:08

Selengkapnya