Berita

Kereta cepat Maroko/Net

Dunia

Ekonomi Melejit, Maroko Jadi Bintang Baru Afrika

KAMIS, 28 MARET 2019 | 19:36 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Maroko menjadi bintang baru yang tengah naik daun di Afrika. Seperti negara-negara di Eropa, Maroko mengalami perkembangan di berbagai sektor.
 
Dari segi transportasi, semua sarana transportasi, baik kereta, trem, bus, penerbangan, dan feri beroperasi dengan baik dan tepat waktu.
 
Bahkan, Maroko telah menjadi negara Afrika pertama yang memiliki kereta kecepatan tinggi, "Al Boraq" yang menghubungkan Tangier ke Casablanca. Maroko menghabiskan 2 miliar dolar AS untuk membangun sistem kereta berkecepatan tinggi di mana kereta bisa berjalan hingga 300 km per jam.
 

 
Sementara itu dari sektor energi, Maroko merupakan negara pertama di Afrika yang memasok hampir 40 persen kebutuhan energinya dari tenaga surya. Negara ini telah membangun beberapa pembangkit listrik tenaga surya utama, termasuk pembangkit listrik 580 MW di Ourzazate, dengan investasi 9 miliar dolar AS untuk menghasilkan 2.000 MW energi matahari pada tahun 2020.
 
Maroko, yang berarti "Barat" dalam bahasa Arab, dari segi ekonomi juga merupakan kekuatan kompetitif nomor satu di Afrika Utara. Negara ini telah membuat banyak langkah baru dalam meningkatkan iklim investasinya. Maroko memang merupakan pusat strategis untuk perdagangan dan investasi antara Eropa dan Afrika di satu sisi dan antara Amerika Utara dan Timur Tengah di sisi lain.
 
Bukan omong kosong belaka, Maroko berada di peringkat ke-60 dalam laporan Kemudahan Berbisnis Bank Dunia 2019 terbaru, melonjak sembilan tempat dari 69 pada tahun 2017. Padahal, tidak seperti banyak negara Arab, Maroko tidak memiliki sumber minyak.
 
Sebagian besar wilayah negara seluas 710.850 km persegi itu terdiri dari pegunungan dan Sahara. Maroko memiliki 75 persen cadangan fosfat dunia. Maroko juga memiliki garis pantai 1.835 km dan merupakan negara adidaya dalam memproses dan mengekspor ikan sarden.
 
Meski memiliki keterbatasan sumber daya alam, Maroko merupakan ekonomi yang kuat dengan mengandalkan sektor pertanian, pariwisata, pertambangan, industri manufaktur, termasuk tekstil, otomotif, dan aeronautika, sektor ICT dan pengiriman uang diaspora.
 
Sebagian besar ekspor Maroko dilakukan ke negara-negara Eropa. Banyak investor Eropa telah menggunakan Maroko sebagai pusat manufaktur baru yang terletak tepat di sebelah Eropa.
 
Secara keseluruhan, Maroko berada di jalur yang benar untuk menjadi pusat keuangan dan manufaktur internasional serta negara maju di masa depan.
 
Dalam upaya meningkatkan dirinya dari negara berpenghasilan menengah ke bawah ke negara maju, Maroko baru-baru ini memutuskan untuk menggunakan bahasa Perancis di sekolah-sekolah untuk memperoleh pengetahuan tentang matematika, sains, dan teknologi.
 
Negara Afrika Utara, yang dulunya adalah protektorat Perancis (1912 hingga 1956), di bawah Raja Mohammed VI selama 20 tahun terakhir telah mengalami perubahan dramatis untuk muncul sebagai salah satu negara paling maju di Afrika.
 
Untuk diketahui, Raja Mohammed naik ke tahta pada 23 Juli 1999, setelah kematian ayahnya, Raja Hassan II. Raja muda itu adalah pemimpin visioner dan cerdas. Dia mengantisipasi masalah dari Arab Spring 2011 dan mengambil beberapa langkah drastis untuk memenuhi aspirasi demokratis rakyat Maroko, melindungi Maroko dari amarah pemberontakan Arab yang keras.
 
Dalam sebuah studi baru-baru ini tentang pasar negara berkembang, Atradius, sebuah perusahaan terkemuka dalam asuransi kredit perdagangan internasional, mengidentifikasi Maroko, Peru, Indonesia, Bulgaria dan Vietnam sebagai pasar negara berkembang yang menjanjikan di dunia. Maroko dipilih terutama karena pertumbuhan investasi yang kuat, pengeluaran infrastruktur besar-besaran dan sektor manufaktur yang tumbuh.
 
"Maroko membaik berkat peningkatan siklus dalam produksi pertanian, serta pertumbuhan non-pertanian yang kuat, terutama di sektor manufaktur yang didukung oleh peningkatan investasi pemerintah," kata studi tersebut seperti dimuat Eurasiareview.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Kasus Viral Foto AI di Kalisari Cermin Lemahnya Pengawasan Aparatur

Rabu, 08 April 2026 | 00:14

MSP Raih Penghargaan Proper Emas dan Green Leadership Proper dari KLH

Rabu, 08 April 2026 | 00:04

Polri Ungkap Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Kerugian Capai Rp1,26 Triliun

Selasa, 07 April 2026 | 23:27

Pengawasan Hutan Diperketat Antisipasi El Nino Ekstrem

Selasa, 07 April 2026 | 23:10

Demokrasi seharusnya Mengoreksi, bukan Meruntuhkan Legitimasi Negara

Selasa, 07 April 2026 | 23:00

HKTI Beri Pendampingan Peternak Lokal yang Dirugikan Perusahaan Besar

Selasa, 07 April 2026 | 22:58

Pulihkan Situasi Halmahera Tengah, Masyarakat Diminta Dukung TNI-Polri

Selasa, 07 April 2026 | 22:33

Dony Oskaria: 15 BUMN Logistik Digabung Bulan Depan

Selasa, 07 April 2026 | 22:19

GREAT Institute Dorong Prabowo Reshuffle 50 Persen Menteri di Kabinet

Selasa, 07 April 2026 | 21:59

Menko Yusril soal Kasasi Delpedro Dkk: Bisa Saja MA Putus NO

Selasa, 07 April 2026 | 21:42

Selengkapnya