Berita

Benjamin Netanyahu/Net

Dunia

Menanti Balasan Israel

SELASA, 26 MARET 2019 | 17:26 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

SEBUAH roket menghantam rumah yang dihuni keluarga Yahudi keturunan Inggris di pinggiran ibukota Israel, Tel Aviv. Meskipun bangunan yang dihantam roket ini rontok, akan tetapi penghuninya tidak ada yang meninggal dunia dan hanya mengalami luka-luka.

Keselamatan yang dialami keluarga beranggotakan 7 orang ini, bukan karena nasib baik atau keberuntungan. Akan tetapi, karena berfungsinya sistem pengaman yang dibuat pemerintah Israel. Suara serine peringatan tanda bahaya yang meraung-raung di seluruh kota, saat roket melayang memasuki wilayah Israel, membuat seluruh penghuni keluarga ini mengamankan diri ke tempat perlindungan.

Sebagaimana diketahui, pemerintah Israel mewajibkan seluruh rumah dan tempat-tempat umum menyediakan tempat perlindungan, dan seluruh warganya dilatih bagaimana mengamankan diri bila ada peringatan tanda bahaya dibunyikan.


PM Israel Benjamin Netanyahu yang sedang berada di Washington DC terpaksa pulang mendadak setelah bertemu Presiden Donald Trump, dan membatalkan rencananya menghadiri acara pertemuan tahunan komunitas Yahudi Amerika yang diorganisir organisasi lobi yang sangat berpengaruh bernama AIPAC.

Meskipun kehadirannya di AIPAC sangat penting bagi negara Israel yang sedang dipimpinnya, dan akan sangat menentukan posisinya sebagai calon Perdana Mentri petahana, dalam Pemilu yang akan berlangsung 13 hari lagi di negara Zionis ini. Bibi panggilan akrabnya memutuskan untuk segera pulang. Hal ini menandakan gentingnya situasi yang dihadapinya.

Mengapa demikian? Pertama, dari sisi waktu, roket yang mendarat di Timur Laut Tel Aviv ini diluncurkan sesaat setelah Perdana Mentri Israel Benjamin Netanyahu bersama Presiden Amerika Donald Trump mengumumkan dukungan Amerika terhadap aneksasi dataran tinggi Golan milik Suriah.

Kedua, dari sisi jarak, roket ini mampu terbang lebih dari 100 km dari tempat diluncurkan sampai ke sasaran di Tel Aviv. Artinya roket yang diluncurkan dari Gaza kali ini, memiliki jangkauan yang lebih jauh dari roket-roket sebelumnya. Selama ini, roket yang meluncur ari Gaza hanya bisa menjangkau kota-kota di perbatasan seperti Sderot.

Ketiga, Tel Aviv merupakan kota paling besar, paling banyak penduduknya, dan paling penting secara ekonomi. Lebih dari itu, ia merupakan ibukota Israel. Karena itu, meskipun dampak kerusakan fisik akibat roket ini tidak besar, akan tetapi dampak psikis dan politiknya amat.

Keempat, roket diluncurkan dari basis perlawanan Palestina yang paling kuat dan militan dalam perjuangan dengan menggunakan senjata. Bisa jadi para pejuang bersenjata Palestina, lewat roket ini mengirimkan pesan bahwa mereka tidak tinggal diam, atau Israel tidak akan pernah tenang setelah mengumumkan secara sepihak Yerusalem sebagai ibukotanya yang baru, meskipun didukung Amerika.

Kelima, bukan mustahil Bibi menafsirkan bahwa ada koordinasi antara para pejuang bersenjata Palestina dengan Pemerintah Suriah atau para milisi yang berada di suriah untuk bersama-sama menghadapi Israel karena persamaan nasib mereka.

Keenam, pemilu Israel yang kini sudah dalam hitungan hari. Sebagai petahana Bibi yang berkali-kali berhasil terpilih kembali, disebabkan mampu tampil sebagai pemimpin yang kuat dan berani, tentu ia harus melakukan sesuatu untuk merespon serangan terhadap Tel Aviv, agar tidak nampak lemah dihadapan calon pemilihnya.

Melihat sejumlah alasan di atas, dipastikan akan terjadi eskalasi politik yang diikuti oleh operasi militer. Saat ini Angkatan Udara Israel telah melakukan serangan yang menyasar basis-basis Hammas di Gaza, termasuk gedung-gedung pemerintah di sana. Pada saat bersamaan menggerakkan angkatan daratnya mendekati perbatasan. Seberapa besar dan berapa lama operasi militer ini akan dilakukan, tidak mudah mengkalkulasinya, karena dalam perang informasi intelijen yang paling menentukan, dan terkait masalah ini tidak bisa dibaca publik.

Akan tetapi, bila merujuk pada data dan fakta yang ada, bukan mustahil saat tentara Israel mendekati Gaza, pasukan Suriah yang didukung sejumlah milisi akan bergerak mendekati Golan. Dengan demikian konsentrasi pasukan Israel akan terpecah.

Memang sampai saat ini tidak ada bukti maupun indikasi di permukaan, adanya komunikasi ataupun koordinasi antara Pemerintah Suriah atau milisi yang mendukungnya dengan para pejuang bersenjata Palestina. Bahkan Hammas sebagai faksi terbesar, yang dulunya memiliki basis di Damaskus telah diusir keluar, karena berbagai hal.

Selain itu, adanya perbedaan ideologi yang dimiliki Hammas dengan milisi-milisi pendukung Suriah, khususnya Hisbullah membuat mereka berbeda jalan selama ini.

Meskipun demikian, paling tidak ada dua faktor yang memungkinkan mereka untuk bekerjasama kali ini: Pertama, Israel sebagai musuh bersama (common enemy) kini boleh jadi akan mempersatukannya. Kedua, Iran bukan saja menjadi pemain kunci yang memiliki agenda besar di kawasan Timur Tengah, akan tetapi juga memiliki hubungan yang mesra dengan semua lawan-lawan Israel.

Lebih dari itu, Iran selama ini menjadi salah satu penopang dana yang cukup penting baik untuk Hisbullah maupun Hammas. Karena itu, bukan mustahil secara diam-diam ia juga memberi dukungan militer kepada keduanya. Dengan demikian, Iran bisa menjadi simpul yang mempertemukannya.

Bagaimana Benjamin Netanyahu menghadapi situasi genting ini? Bila sukses, ia bisa memperpanjang skornya sebagai Perdana Mentri Israel terlama. Akan tetapi bila gagal, maka bukan saja partai Likud yang dipimpinnya kehilangan kursi PM, akan tetapi rakyat Israel harus menguburkan mimpinya untuk memiliki Golan.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Kepala BRAN Dorong 3,1 Juta Hektare Lahan Transmigrasi jadi Penggerak Ekonomi

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:32

KPK Pastikan Video Penjemputan Paksa Nusron Hoax!

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:24

Quo Vadis 2 tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:23

Prabowo Setujui Kajian DEN soal Definisi Korupsi Berstandar Internasional

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:17

Penindakan 1.000 Tambang Ilegal: Kalau Tidak Sekarang, Kapan Lagi?

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:13

DPR Dorong Penguatan Koordinasi Penyaluran BBM

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:01

Gibran Terima Perwakilan WALUBI Bahas Karhutla hingga Bakti Sosial

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:50

KPK Perlu Periksa Hercules soal Uang Rp800 Juta Terkait Summarecon

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:46

Menteri Agama Optimistis Akan Ada Kebangkitan Syarikat Islam Jilid Baru

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:43

Pertamina Diusulkan Peroleh Insentif Sewa Kapal Tanker Lokal

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:41

Selengkapnya