Berita

Jokowi/Net

Politik

Rakyat Mulai Jenuh Dengan Rekayasa Informasi Pemerintah

RABU, 20 MARET 2019 | 14:46 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Hasil survei Litbang Kompas yang baru dirilis menggambarkan bahwa masyarakat Indonesia mulai menginginkan adanya perubahan yang mutlak. Masyarakat mulai jenuh dengan sejumlah rekayasa informasi yang dilakukan pemerintah saat ini.

Begitu kata analis sosial dari Universitas Bung Karno (UBK) Muda Saleh dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi, Rabu (20/3).

“Apa yang terjadi saat ini kan, dikatakan semua baik-baik saja, entah itu ekonomi, sosial, angka kemiskinan dan bahkan survei-survei yang merujuk pada penilaian Jokowi-Maruf, kebanyakan bunga-bunga,” ujarnya.


Masyarakat, kata dia, ingin agar Jokowi jujur dalam menyampaikan hasil capaian yang diraih. Semisal ekonomi yang sedang tidak sehat dan kebakaran hutan. Masyarakat, sambungnya, sempat kecewa lantaran dalam debat pilpres Jokowi memanipulasi informasi tersebut.tersebut.

“Ya, harapannya kan presiden bisa memberikan informasi yang jujur. Ini kan (saat debat) bisa dikatakan manipulatif informasi,” tegasnya.

Baginya, Jokowi sudah terlambat untuk memperbaiki penyampaian informasi-informasi yang jujur itu kepada masyarakat, mengingat hari pencoblosan pilpres tinggal hitungan hari,

“Masyarakat kita sudah bergeser, tak lagi suka dengan ‘ketokohan’ melainkan visi dan misi yang membangun peradaban, ekonomi dan sistem yang juga membangun Indonesia lebih baik, satu saja yang paling pas dilakukan oleh Jokowi, yaitu meminta maaf kepada bangsa Indonesia,” tutupnya.

Survei Litbang Kompas menunjukkan elektabilitas Jokowi-Maruf mengalami penurunan dari Oktober 2018 sebesar 52,6 persen menjadi 49,2 persen di bulan Maret. Sementara pesaingnya, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengalami kenaikan. Dari 32,7 persen di bulan Oktober menjadi 37,4 persen di bulan Februari.

Kini gap kedua pasangan itu menyempit menjadi 11,8 persen.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Menteri Ekraf: Kreativitas Tak Bisa Dihargai Nol atau Dipatok

Jumat, 03 April 2026 | 20:06

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

Harga Plastik Dalam Negeri Meroket, Ini Kronologinya

Jumat, 03 April 2026 | 19:42

Kapolda Riau Perketat Penanganan Karhutla Hadapi Ancaman Super El Nino

Jumat, 03 April 2026 | 19:18

Upacara Penghormatan UNIFIL untuk Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jumat, 03 April 2026 | 19:01

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

Jumat, 03 April 2026 | 18:52

KPK Siapkan Pemeriksaan Ono Surono Usai Penggeledahan

Jumat, 03 April 2026 | 18:35

BNPB: Tidak Ada Tambahan Korban Gempa Magnitudo 7,6 Sulut dan Malut

Jumat, 03 April 2026 | 18:31

Resiliensi Bangsa: Dari Mosi Integral 1950 hingga Geopolitik Kontemporer 2026

Jumat, 03 April 2026 | 18:03

FWP Polda Metro Hibur Anak Yatim ke Wahana Bermain

Jumat, 03 April 2026 | 17:45

Selengkapnya