Berita

Sandiaga Uno/Net

Politik

Sandiaga Uno Jawab Tiga Keraguan Kiai-Kiai NU

SELASA, 19 MARET 2019 | 15:16 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Kalangan kiai dan sesepuh Nahdlatul Ulama (NU) memiliki sejumlah kekhawatiran jika pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno terpilih sebagai pemimpin di negeri ini.

Kekhawatiran diuraikan langsung cucu pendiri NU Hasyim Asyari, KH Irfan Yusuf Hasyim saat bertemu dengan calon wakil presiden, Sandiaga Uno sebagaimana video yang beredar di media sosial. Diketahui pertemuan tersebut berlangsung di Tulungagung, Jawa Timur pada Senin (18/3).

Kata Gus Irfan, ada tiga kekhawatiran yang dirasakan NU jika Prabowo-Sandi menang. Pertama, ada kalangan NU merasa akan disingkirkan dan dihabisi saat pasangan nomor urut 02 itu terpilih.


“Kedua, kami khawatir, tahlil dan manaqib akan hilang. Kemudian, Pak Prabowo selama ini kan dekat dengan kelompok radikal, kami khawatir menteri agama kan diberikan ke kelompok seperti itu,” tuturnya yang bersama dengan kiai-kiai NU bertanya kepada Sandi.

Sandi kemudian meluruskan bahwa dirinya merupakan bagian dari keluarga besar NU. Dia bahkan menjadi salah satu pemegang kartu tanda anggota NU pertama di Jakarta .

“Mertua saya tokoh NU betawi, kami didik dengan ahlusunnah wal jamaah, terawih 23 rekaat dan subuh pakai qunut,” terang Sandi.

Untuk itu, dia meminta kiai-kiai NU untuk tidak khawatir akan disingkirkan. Bahkan Sandi berjanji akan membuat NU menjadi organisasi terbesar umat Islam yang mengawal Islam rahmatan lil.

“Kita rangkul NU dan akan menjadi mitra bangsa, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” sambungnya.

Soal tahlil dan manaqib, Sandi memastikan tidak akan dilarang. Bahkan dia sebagai warga NU turut melakukan kedua hal tersebut.

“Ini patut diteruskan. Jadi jangan khawatir,” tegasnya.

Sementara menanggapi tudingan Prabowo-Sandi dekat dengan kelompok radikal, Sandi dengan tegas membantah. Menurutnya, Prabowo-Sandi telah komitmen pada Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Islam moderat yang akan jadi pegangan kita,” terangnya.

Namun demikian, dia menganggap kelompok radikal harus tetap diajak berbicara karena mereka juga bagian dari warga negara Indonesia.

“Tapi mereka juga harus komitmen pada kita, Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika, dan saling menghargai satu sama lain,” pungkasnya.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Tak Ada Pintu Setop Perang Iran versus AS-Israel

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:02

Prabowo di Tengah Massa Buruh Tak Lagi Hadapi Kritik, tapi Terima Dukungan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:00

Pertama Kali Presiden RI Dielu-elukan Buruh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:28

Polri Apresiasi Massa Buruh Tertib

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:20

Perpres Ojol 92 Persen Bisa Picu Kenaikan Tarif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:01

Jumhur Hidayat Jadi Menteri LH: Politik Merangkul untuk Mengendalikan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:42

Waspada Gelombang Tinggi saat Libur Panjang Pekan Ini

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:19

Kaji Ulang Wacana Pemangkasan Jaminan Kesehatan Aceh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:00

Perbedaan Lokasi May Day Tak Perlu Diperdebatkan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:32

Perpina DKI Serukan Kepemimpinan Perempuan Berdaya

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:06

Selengkapnya