Berita

Denny JA/Net

Publika

Induksi Denny JA Tidak Jujur

KAMIS, 14 MARET 2019 | 18:46 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

BOS pabrik Polling Denny JA sebar tulisan soal "Kerumunan Massa Prabowo". Baginya, itu bukan masalah.

Tulisan ini bagaikan apologetic seorang operator lapangan. Dia pakai tameng 6 pabrik polling yang memenangkan Paslon Ko-Ruf Nomor 1 dengan angka 20%. Sayang, Denny JA ngga pernah berani ungkap siapa yang membiayai semua pabrik polling tersebut.

Tulisan Denny JA kali ini merupakan upaya menyetop migrasi liquid cash donatur, menjaga moral para die-hard Jokower dan membius elemen parasit oportunis.


Modus tulisan Denny JA adalah Permainan Cherry picking, suppressing evidence, fallacy of incomplete evidence dan Half-Truth.

Dia seenaknya nyomot sampling kasus Bernie Senders. Ada Benarnya, Bernie Senders sanggup mengumpulkan monster crowds sebanyak 28.000 orang di Brooklyn rally. Mengalahkan pengumpulan massa Hillary.

Seperti dalih Denny JA, organizer rally Bernie Senders terdiri dari militan socialist slash communist dan milenial frustasi.

Ironisnya, Democrat old-established elite berpikir lain. Polling dan survei sudah menyatakan Hillary menang "Superdelegate". Bernie Senders bukan Democrat dan faktor usia 78 tahun jadi problem besar. Di kalangan orang hitam pun Bernie Senders tidak punya power. So, Hillary ngga merasa perlu menggerakan kerumunan massa.

Jika Sir Isaac Newton merilis "revolusi fisika" dengan metode induksi, tapi anehnya pola induksi serupa jadi ngawur di tangan Denny JA.

Satu sampling Bernie Senders dijadiin premis kesimpulannya. Padahal, liga premier Democrat hanya satu battle. Perang baru terjadi di general election antara Hillary Clinton versus Donald Trump.

Parameter "kerumunan massa" terjadi lagi di masa kampanye Trump. Sayang fakta ini sengaja disembunyikan Denny JA. Makanya, essay yang dia tulis bersifat "Half-Truth".

Misalnya, Rally Hillary di Iowa hanya dihadiri 600 orang die-harders Democrat. Di waktu yang sama, ada 7.000 orang datang mendengar pidato Trump di Massachusetts.

Selain kuantitas kerumunan massa, faktor militansi Pro Trump dan Hillary running-dogs juga berbeda. Massa Pro Trump tetap datang di tengah hujan salju saat itu.

Organizer Rally Hillary ngga mampu menggerakan liberal, afro-america, lazy millenials, communist dan atheist. Sekali pun dirayu dengan nasbung dan ospul khas Indonesia.

Di Indonesia, tidak ada berita pengumpulan massa Kyai Maaruf Amin. Jauh beda dengan Wapres Sandiaga Salahudin Uno yang disambut besar-besaran.

Tiga kali, Capres Joko Widodo gelar show of force kerumunan massa. Di Sentul dan Jalan Pagi di Kendari. Organizernya mantap. Di Palembang, banyak Pro Prabowo datang pake kaos 01. Kedatangan Joko Widodo di Penjaringan disambut yel-yel Prabowo-Sandi.

Di Indonesia, sama seperti Amerika, semua pabrik polling menangkan Hillary Clinton. Globalis, donors dan special-interest group nyatu mendukung Hillary.

Nyatanya Hillary tumbang. Amburadul sakit hatinya. Bandar rugi. Ini nich yang bikin donatur dan parasit oportunis ketar-ketir.

Karena itulah Denny JA menulis. Supaya hati mereka adem. Bius opium. Modal terakhirnya; mainkan SARA, fearmongering dan injeksi Islamophobia.

"The final solution" ini ada dalam naskah tulisan Denny JA. Dia sebut-sebut soal militansi Reuni 212, FPI, HTI dan PKS sebagai organizer kerumunan massa Pro Prabowo. Seolah mereka dominan dalam kubu Pro Prabowo-Sandi.

Denny JA sengaja tip-ex Elemen Nasionalis, Partai Gerindra, Partai Demokrat, Berkarya, Patriot Cendana, PAN Muhammadiyah, Keturunan Pendiri NU, ribuan purnawirawan TNI, Ardent Christian Hasyim Joyohadikusumo, Leftist Andi Arif, Sentris Progresif Rizal Ramli, Wise Liberal Rocky Gerung dan Kafir Lieus Sungkharisma yang ada di barisan Prabowo-Sandi.

Di situ, saya kira Denny JA tidak jujur.

Penulis adalah aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (Komtak).

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Kekayaan Fadjar Donny Tjahjadi yang Kabarnya Jadi Tersangka Korupsi CPO-POME Cuma Rp 6 Miliar, Naik Sedikit dalam 5 Tahun

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:12

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Relawan Gigit Jari Gegara Jokowi Batal Wantimpres

Senin, 09 Februari 2026 | 02:01

UPDATE

Vatikan Tolak Gabung Board of Peace, Ingin Konflik Palestina Diselesaikan PBB

Rabu, 18 Februari 2026 | 16:18

Korban Bencana Sumatera Dapat Bantuan Perabot dan Ekonomi hingga Rp8 Juta

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:56

KPK Panggil Petinggi PT Niogayo Bisnis Konsultan terkait Suap Pajak

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:36

Pemeriksaan Mantan Menhub Budi Karya di KPK Dijadwal Ulang

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:24

Pajak: Gelombang Protes dan Adaptasi Kebijakan Pusat

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:20

Tujuh Jukir Liar di Pasar Tanah Abang Diamankan

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:17

Tiga Bos Swasta di Kasus Korupsi Proyek Kantor Pemkab Lamongan Dipanggil KPK

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:15

Sambut Ramadan, Prabowo Sedekah 1.455 Sapi untuk Tradisi Meugang Aceh

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:07

Sembako Diaspora Malaysia untuk Warga Aceh Tertahan di Bea Cukai

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:02

85 Negara Anggota PBB Kecam Upaya Israel Ubah Status Tanah Tepi Barat

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:54

Selengkapnya