Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Defisit Neraca Transaksi Berjalan

KAMIS, 14 MARET 2019 | 04:19 WIB | OLEH: DR. IR. SUGIYONO, MSI

PENINGKATAN defisit neraca transaksi berjalan membuat pemerintah ingin membentuk Kementerian Ekspor dan Kementerian Investasi.

Defisit neraca transaksi berjalan Indonesia meningkat dari minus 17.519 juta dolar AS tahun 2015 menjadi minus 31.060 juta dolar AS tahun 2018.
Sebenarnya tidak ada masalah dengan neraca transaksi finansial, yaitu investasi langsung, investasi portofolio, derivatif, dan investasi lainnya yang kesemua dari rincian pengelompokan neraca transaksi finansial menunjukkan tanda surplus, sehingga tidak ada alasan untuk mempersoalkan kinerja investasi dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Juga tidak ada urgensi untuk mengubah BKPM dengan membentuk menjadi Kementerian Investasi.


Demikian pula sesungguhnya tidak ada masalah dengan neraca ekspor barang maupun neraca pendapatan sekunder yang menunjukkan kinerja surplus. Akibatnya adalah tidak ada urgensi untuk membentuk Kementerian Ekspor.

Juga tidak ada alasan untuk mempersoalkan kinerja Kementerian Perdagangan. Masalah defisit neraca transaksi berjalan disebabkan oleh defisit neraca jasa-jasa dan defisit neraca pendapatan primer.

Defisit neraca jasa-jasa disebabkan oleh defisit-defisit dari neraca-neraca yang dijumpai pada jasa pemeliharaan dan perbaikan, transportasi, jasa asuransi dan dana pensiun, jasa keuangan, biaya penggunaan kekayaan intelektual, jasa telekomunikasi, komputer, dan informasi, serta jasa bisnis lainnya.

Defisit neraca transportasi terjadi pada transportasi penumpang, transportasi barang, dan transportasi lainnya pada perjalanan lintas negara. Kemudian defisit neraca pendapatan primer disebabkan oleh defisit neraca kompensasi tenaga kerja dan defisit neraca pendapatan investasi.

Jadi maksud pemerintah meningkatkan investasi langsung, investasi portofolio, dan investasi lainnya itu yang bersumber dari luar negeri menimbulkan konsekuensi terjadinya defisit pada neraca pendapatan primer. Defisit neraca pendapatan primer semula sebesar minus 28.379 juta dolar AS tahun 2015 meningkat menjadi minus 30.420 juta dolar AS.

Jadi maksud pemerintah untuk mengubah kondisi neraca transaksi berjalan dari defisit menjadi surplus dengan cara meningkatkan investasi dalam bentuk transaksi finansial itu sesungguhnya justru menimbulkan peningkatan defisit pendapatan primer yang nilainya lebih besar.

Yang terjadi adalah bukan menjadi lebih baik, melainkan lebih buruk. Hal itu disebabkan oleh nilai surplus neraca transaksi finansial mempunyai nilai lebih kecil dibandingkan nilai defisit pendapatan primer, yaitu surplus neraca transaksi finansial sebesar 16.843 juta dolar AS tahun 2015 dan sebesar 25.108 juta dolar AS tahun 2018.

Akibatnya, strategi meningkatkan investasi asing tadi perlu diikuti perbaikan neraca pendapatan primer yang lebih adil dan perbaikan peran jasa-jasa di atas dengan merestrukturisasi jasa-jasa asing menjadi peningkatan peran dan kepemilikan dalam negeri. Ketika pemerintah memberikan peran asing lebih besar dibandingkan dalam negeri, yang terjadi adalah defisit neraca transaksi berjalan justru memburuk.

Penulis adalah peneliti INDEF dan pengajar Universitas Mercu  Buana.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Gibran Mundur Saja

Selasa, 03 November 2026 | 04:20

Investasi Jakarta Tembus Rp249,3 Triliun

Selasa, 03 November 2026 | 04:08

MUI Apresiasi Pencopotan Kapolres Sukoharjo

Selasa, 03 November 2026 | 03:17

DJP Buka-bukaan soal Pajak Digital yang Disebut Hashim

Selasa, 03 November 2026 | 03:05

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Putusan MA soal Suket Gibran Jadi Momentum Akhiri Bayang-Bayang Jokowi

Selasa, 03 November 2026 | 02:13

Sikap Responsif Kapolri Pulihkan Kepercayaan Masyarakat

Selasa, 03 November 2026 | 02:05

RI Pamer Latihan Militer Gabungan Tiga Bidang di Forum Pertahanan ASEAN

Selasa, 03 November 2026 | 01:40

Anies Temui Seniman Iman Soleh di Bandung, Ini Kisahnya

Selasa, 03 November 2026 | 01:29

PAM Jaya Sumbang Dividen Rp257 Miliar

Selasa, 03 November 2026 | 01:07

Selengkapnya