Berita

Novel Baswedan/Net

Hukum

2 Bulan Satgas Kasus Novel Baswedan Tidak Ada Perkembangan, Ini Kata Kuasa Hukum

RABU, 06 MARET 2019 | 00:16 WIB | LAPORAN:

. Pembentukan satuan tugas (Satgas) kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan dinilai hanya untuk kepentingan politik. Yakni sebagai kunci jawaban untuk Capres petahana Joko Widodo seperti saat debat.

Kuasa hukum Novel, Haris Azhar mengaku hingga saat ini belum ada perkembangan berarti atas penyelidikan kasus yang menimpa kliennya itu.

"Tidak tahu. Ketiadaan info itu adalah perkembangannya," katanya usai diskusi di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (5/3).


Hal itu ditegaskannya untuk menunjukkan kalau Satgas buat polisi itu hanya dijadikan sebagai sarana untuk menjawab pertanyaan dalam debat Pilpres pertama yang berlangsung pada 17 Januari 2019 silam.

"Ini kan bukti bahwa mereka itu bikin Satgas hanya untuk nyiapin jawaban. Hanya untuk nyiapin jawaban jelang debat pertama soal hukum dan HAM, dan terbukti hari ini tidak ada apa-apa kan," sesalnya.

Pada 8 Januari 2019, Kapolri Jenderal Tito Karnavian membentuk Satgas khusus untuk mengungkap kasus Novel. Satgas yang beranggotakan 65 orang itu diberi waktu selama enam bulan untuk mengungkap pelaku dan dalang penyiraman air keras di wajah Novel.

Terkait itu, Haris menekankan, pembentukan Satgas bahkan bukan untuk formalitas semata. Melainkan benar-benar hanya agar Jokowi tidak terbata-bata dalam menjawab pertanyaan tentang komitmen pemerintah dalam menyelesaikan kasus dugaan pelanggaran HAM.

"Boro-boro formalitas, cuma nyiapin jawaban. Kayak lu ke Gramedia beli buku kisi-kisi soal ujian. Jadi tim itu dibentuk hanya untuk mengisi buku kunci soal. Itu doang," tutupnya.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Fenomena Embun Upas Dieng Muncul Lagi, Ini Perkiraan Waktu Puncaknya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:13

Pidato Bahlil di Depan Prabowo: Kekuasaan Itu Harus Direbut!

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Kejagung Pelajari Pengajuan Justice Collaborator Sony Sonjaya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Ranking FIFA Indonesia Naik Lagi Usai Kalahkan Mozambik 1-0, Kini di Posisi 118 Dunia

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:57

Prabowo Dorong HIPMI Cetak Pengusaha Patriotik yang Peduli Rakyat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:51

Bupati Muara Enim Suap ASN BPK untuk Tutup Temuan Audit

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:41

Kelas Menengah Paling Terdampak Kenaikan Pertamax

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Bedah Rumah Warga, Wujud Nyata Pemasyarakatan Berdampak untuk Masyarakat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Prabowo Sering ke Luar Negeri karena Indonesia Disukai Banyak Negara

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:11

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Selengkapnya