Berita

Haris Azhar/RMOL

Politik

Haris Tahu Alasan Wiranto Pilih Sumpah Pocong Ketimbang Penyelesaian Hukum

SELASA, 05 MARET 2019 | 18:47 WIB | LAPORAN:

Tantangan sumpah pocong tidak pantas diutarakan Menko Polhukam, Wiranto, untuk menyelamatkan dirinya dari pengungkapan tragedi kerusuhan 1998.

Direktur Lokataru Fondation, Haris Azhar, menekankan bahwa penuntasan dugaan pelanggaran HAM 1998 terletak pada niat Kejaksaan Agung dan Presiden RI. Pada dasarnya, aturan mengenai itu sudah sangat jelas.

"Menurut saya, orang yang anggap sumpah pocong bisa selesaikan masalah HAM berat, dia ibarat katak dalam tempurung lapis tujuh. Jadi dia enggak tahu ada apa," kata Haris usai diskusi di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (5/3).


Menurut mantan Koordinator Kontras ini, sumpah pocong sama sekali tak pantas diucapkan Wiranto, apalagi dengan jabatan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan.

"Kalau dia levelnya menteri, kasihan. Kok ada menteri, menterinya di bidang Polhukam, koordinator pula, masih ngomongin sumpah pocong? Apa pantas dia jadi Menko?" ketusnya.

Masih menurut Haris, Wiranto memilih tidak menyelesaikan kasus-kasus dugaan pelangaran HAM lewat hukum karena namanya sendiri tidak bersih dari pelanggaran HAM berat.

"Dua tahun lalu, tiga tahun lalu, kita bilang ngapain presiden angkat orang yang diduga paling bertanggung jawab dalam pelanggaran HAM sebagai Menko? Dalam komunitas global, sudah otomatis jalan orang ini enggak bisa kemana-mana karena namanya tersandung dalam laporan PBB (kasus Timor Timur). Mau pakai penyelesaian hukum, dia kena, akhirnya dia pakai sumpah pocong," pungkasnya.

Membantah tuduhan dalang kerusuhan 1998, Wiranto yang pernah menjabat Panglima ABRI pada era kejatuhan Orde Baru menantang mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen dan mantan Panglima Kostrad (Pangkostrad) Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto untuk melakukan sumpah pocong.

Tidak mau kalah, Kivlan menantang balik Wiranto. Namun dia lebih memilih untuk berdebat dengan mantan panglimanya itu.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya