Wacana pelibatan perwira menengah dan tinggi TNI untuk mengisi 60 pos baru di institusi pemerintahan diyakini bukan untuk menghidupkan dwi fungsi TNI.
Mantan Kepala Staf Umum TNI, Johannes Suryo Prabowo ragu prajurit TNI sekarang ingin dwifungsi dihidupkan lagi. Sebab pada dasarnya, prajurit menolak hal itu.
Ia curiga wacana tersebut semata-mata untuk pemenangan capres petahana, Jokowi.
"Jadi kalau arahnya ke dwi fungsi, kalau saya tidak. Tapi kalau arahnya ngasih permen kepada para perwira,
masak kamu nggak terima kasih sama saya
sih. Supaya pilih saya, itu sangat mungkin," ujar purnawirawan letjen tersebut dalam diskusi bertajuk "Rezim Jokowi Mau Menghidupkan Dwi Fungsi TNI?" di Kantor Sekretariat Nasional (Seknas) Prabowo-Sandi, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (5/3).
Wacana perwira aktif mengisi jabatan di institusi sipil dilontarkan oleh Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto.
Hadi beralasan, kebijakan ini merupakan bagian dari proses mengurai problematika restrukturisasi jenjang karir dan rotasi yang membuat banyak perwira menengah dan tinggi di organisasi TNI tidak mendapatkan pos pengisian jabatan (
logjams organization).
JS Suryo tetap meyakini masih banyak prajurit TNI setia mengutamakan kepentingan bangsa dan negara ketimbang ikut-ikutan politik praktis Pemilu 2019.
"Di prajurit militer, terutama di teritorial itu para prajurit bintara, bahkan menengah harus dekat dengan rakyat, mengenal jantungnya, nadinya rakyat. Sehingga kalau ada sesuatu hal, dia akan disalahkan. Oleh sebab itu, saya
kok masih yakin kalau prajurit sekarang ini meskipun dikasih kenaikan gaji, masih punya hati yang lebih bersih dari saya," pungkasnya.